Tampilkan postingan dengan label Review film dan Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review film dan Novel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Februari 2018

Kau, Aku, & Sepucuk Angpau Merah

Tere liye, penulis novel populer yg beberapa waktu sempat viral karena dua hal: Postingan di laman facebooknya yg menggungkap betapa dia merasa (sebagai penulis) dirugikan karena pembagian royalti dari penjualan novel-novelnya yang tidak fair. Lalu hal lain yang membuatnya semakin mencuat di ranah dunia maya karena postingannya di Instagram yang merasa keberatan atas ulah netizen yang semakin liar menggunakan Quotesnya di photo instagram yang mereka posting di akun berbagi photo sementara quotes yang mereka comot dan bubuhkan sebagai caption diphoto yang dibagi bagikan di media sosial tidak berkaitan dengan quotes yang dicantumkan, alias JAKA SEMBUNG BAWA GOLOK, KAGAK NYAMBUK GOBLOK.

Tapi, bukan itu yang akan gue bahas disini! Melainkan akan mereview dari novel karyanya yang naskahnya kali pertama muncul di facebook sang penulis tahun 2010, berupa novel open source yang diterbitkan berseri, lalu dipublish tahun 2012 dalam bentuk fisik, yang 5 tahun kemudian sudah naik cetak sebanyak 9 kali. Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah.

Ok, lets start it.



Novel ini mengambil setting di kota Pontianak, dengan Tokoh Utama: Borno, seorang laki-laki usia 20-an tahun yang pada akhirnya berprofesi sebagai pengemudi sepit (perahu kecil bermesin tempel) di sungai Kapuas, setelah berkali-kali mencoba bekerja serabutan diberbagai tempat. Ditinggal mati oleh ayahnya yang seorang nelayan diusia 12 tahun membuat Borno harus bekerja keras untuk melanjutkan hidup bersama Ibu semata wayang yang telah mengasuh dan membesarkannya dengan sangat baik, sehingga menjadikannya sebagai sosok pemuda berhati paling lurus di sepanjang aliran sungai Kapuas. Dipaksa berhenti dari pekerjaannya sebagai tukang Robek karcis di Pelampung (sebutan kapal Ferri kecil di Kapuas) oleh ketua perhimpunan pengemudi sepit, Bang Togar, hingga membuatnya harus melanggar wasiat Bapaknya untuk tidak menjadi pengemudi sepit.

Hari pertamanya setelah resmi menjadi pengemudi sepit setelah melewati siksaan Ospek panjang dari Bang Togar, dia jatuh cinta pada gadis Cina yang menjadi penumpangnya dihari pertama yang tak sengaja menjatuhkan surat bersampul merah di dasar sepit yang dikemudikannya.  Bersusah payah menjaga surat yang tak sengaja jatuh itu agar tak dikoyak oleh Andi, sahabatnya, untuk kemudian dikembalikan ke sang empunya ternyata tidak sepenting yang dia perkirakan. Nasi sudah menjadi bubur, perempuan berwajah sendu itu sudah kepalang basah memikatnya dengan seuntai senyum, dan tidak mudah pula bagi Borno untuk menaklukkan perempuan Tionghoa yang punya masa lalu kelam itu hingga membuat Borno harus mengejarnya hingga ke Surabaya. Tapi apa daya, jauh api dari panggangnya. Borno kecewa berat hingga membuatnya terkapar. Beruntung ada sosok Pak Tua, bujang lapuk yang sudah melanglang buana hingga ke ujung dunia yang selalu mendukungnya dengan petuah-petuah rumit yang terkadang susah dimengerti Borno.

Buat gue, novel ini lengkap, plotnya rapih, tata bahasanya cantik menawan, akan mudah menukan deretan bahasa bahasa sastra nan romantis dihalaman demi halamannya, walau suguhan utamanya adalah kisah romansa, tapi percayalah ini bukan cerita cerita cinta picisan disinetron yang tayang striping, membacanya bisa membuat gue pribadi terpompa semangat juang menaklukkan hidup, novel karya kesekian penulis ini sanggup membuat gue tertawa terbahak-bahak juga menangis sekaligus. Novel ini mampu mengobrak abrik perasaan dan tak sanggup berhenti melahapnya hingga halaman terakhir, 507.

Berani coba baca?

The fact is, ini adalah novel ketiganya yang gue baca, honestly im in love! Dan selama ini menyangka bahwa yang namanya Tere Liye adalah PEREMPUAN BERKERUDUNG, dan karena penasaran yang membuncah, gue pun mengobrak abrik laman google dan menemukannya di wikipedia bahwa penulis yang pandai bermain kata-kata ini adalah seorang Pria. Hahahaha gue ketipu mentah-mentah, ketipu yang menyenangkan. 


Sabtu, 30 April 2016

#AADC2 Pecahhhhh Sob!




AADC2 membuat sejarah 14 tahun lalu berulang. Loket-loket bioskop sudah semacam antrian sembako, panjang mengular. Kata anak-anak sekarang tumpeh-tumpeh gan! 

Hari Ini kali ke dua gw nonton film ini, dan  puegel bediri ngantrinya. Bahkan film Hollywood pun gak sepecah ini ngantrinya. Well, Ada Apa Dengan Cinta terdahulu gw hanya puas nonton lewat VCD maklum saat itu gw masih tinggal dihutan yg boro2 nyari bioskop, ada yg jual VCD bajakannya aja udah bagus. Hahaha, dan di sekuel keduanya gw harus jadi bagian dr ratusan ribu orang yg nonton kali pertama. 

Here we go, 

Di kali pertama nonton #AADC2 gw gak pasang target apa2 buat nonton film ini, gw cuma dateng ke bioskop, bediri di antrian yg masih beberapa orang saja, bro datengnya kelewat rajin. Mall aja masih tutup gw udah dateng. So, begitu dpt tiketnya, duduk manis di deretan belakang, nyempil diantara ABG-ABG angkatan lama yg udah pada bawa anak.  Scene demi scene pun mengalir begitu saja, menikmati setiap adegan hingga puncak yg buat orang bertanya-tanya selama kurun waktu 14 tahun. Oke i got it. Keluar biskop, BAPER! dan ketika melewati loket karcis udah ngantri kek apaan tau. 

Selang dua hari berikutnya, kembali ke bioskop yg sama, dannnnnnnnn lemes liat antrian 4 deret ampe tumpeh keluar pintu bioskop, wedyan lah! Kalau dihari pertama ini bioskop cuma buka 1 theater untuk #AADC2, di hari ketiga pemutrannya film besutan duo Riri & Mira ini mendominasi 4 Theater sekaligus dari 6 theater yg ada, beberapa judul film sebelumnya yg masih sempet gw liat dilayar monitor terpampang nyatah jadwal penayangannya, kali ini harus rela terhempas cantik. Poster film Civil War kek cuma secarik kertas yg dipaksain nempel di area poster film Ada Apa Dengan Cinta 2. 

Well, di kali kedua ini, gw menonton secara lebih spesifik, adegan demi adegan. dan menurut gw ciamik! Semua line up utama aktor dan aktrisnya bertransformasi lebih kekinian, tapi gak kehilangan karakter kuat yg sudah terbentuk di film pendahulunya. Fashionnya yg up to date sekali, batik yg mereka pakai seperti bukan batik dgn styling yg warbiyasak ciamik, gak ada bulu mata berlapis-lapis, dan ketika mereka tampil nyaris tanpa make up itu keceh bgt. Seperti Ivan Gunawan bilang "Make up NO Make up". Oke, kalau penonton jeli dan ngaku fans film #AADC pasti bisa menyadari ada beberapa adegan Iconic di film pertama yg berulang di sekuel ini, tapi tentu saja dengan teknik pengambilan gambar yg berbeda. Seperti adegan di mobil genk Cinta & Memet, adegan genk cinta yg di film pertama nonton konser yg di film keduanya bertransformasi dgn adegan serupa tapi tak sama, lalu adegan Cinta dan Rangga yg di film pertama nonton konser di kafe yang kali ini berulang dgn scene yg sama tapi dgn tontonan yg berbeda (dan gw pribadi suka bgt dgn scene ini, one of my favorite! Really) ada juga adegan cinta binggung sama make upnya kembali berulang tapi kali ini dgn adegan yg lebih mature, lalu adegan Rangga di Airport, serta adegan Cinta kocar kacir di jalan menuju airport. Awsome! 

Ketika lagi nonton film ini, banyak bisik-bisik dr penonton disekitar yg menebak dengan percaya diri film ini akan klimaks di airport seperti di film pertama dimana semua penonton saat itu cukup tercengang dgn adegan ciuman bibir yg bikin mupeng, hayoooo lohhh ngaku!!!!

Tapi bener adegannya berakhir di airport? 
Hahahaa yg belum nonton gih buru-buru ngantri di bioskop! 

Nah, setelah dua kali nonton #AADC2 gw mulai intip2 hastag #AADC2 di instagram, baca komen-komen yg rata2 puas sampai basah akan film ini, beberapa diantaranya juga bilang kalau film ini kurang touching, terutama di scene pertemuan Rangga dan Ibunya setelah 25 tahun berpisah, bokkkkk kebiasaan loe nonton sinetron jgn loe bawa masuk di film ini! Padahal menurut gw, coba flashback ke sosok karakter Rangga yg dibangun di film pertamanya, kebayang gak kalau Rangga jadi menyek-menyek di adegan ini? Luluh lantaklah sudah karakternya yg dingin dan misterius, penggambaran adegan Rangga yg hanya memeluk Ibunya tanpa kata selain nangis it's more than enough! Jangan suka pada halu ah. 

Lalu ada juga komentar ttg kurang jelasnya hubungan Cinta dan Tunangannya, buokkkkkkkkk mau dibikin apa adegannya? Dramak-dramak banting-banting perabotan kantor cinta gitu? Atau mencak-mencak gak karuan? Lah yo opo yang akan terjadi sama endingnya kalau gitu. Haduhhhhhhh asli pada kebanyakan nonton sinetron deh, kurang-kurangin tshay!!! 

Dan, jgn tanya soal settingnya. Aslik Mba Mira & Riri juara dalam mengambil sudut Jogja dr sisi yg lain. Jogja tak terlihat hanya punya MALIOBORO dan CANDI. 

Tapi satu hal dr film ini, gw suka sekali sama scene-scene pesenan sponsor yg bejubel dan itu berupa adegan-adegan smooth yang sangat wajar dan gak "SOK DIPAKSA ADA" 

Jadi bersiap-siaplah wabah baru merajalela, dialog iconic Cinta "Jadi salah siapa? Salah temen-temen gue?" Akan hilang berganti dgn sepenggal dialog baru yg bahkan sebelum tayangpun sudah memenuhi semua social media. "Apa yang kamu lakukan ke saya itu JAHAT!" 


That's All. 
SELAMAT MENONTON WAHAI PARA PENCINTA. 

Ada Apa Dengan Cinta?

Cinta dan Rangga is back!!!
Kali ini dengan alur cerita yang lebih mature dan membuat orang menebak-nebak endingnya akan seperti apa. Dibuat ngantung lagi atau happy ending? Who knows. Nyaris gak ada yg bisa nebak bagaimana akhir kisah dua sejoli yg bikin muda mudi se-Indonesia Raya meleleh sejak 14 tahun lalu di film pertamanya. Mira Lesmana dan Riri Reza memang piawai menyembunyikan kisah akhir Rangga dan Cinta, hampir disemua wawancaranya mereka berdua beserta cast lebih memilih membahas set film yg kali ini mengambil lokasi di Yogyakarta, New York dan sebagian kecil di Jakarta. Ya, ini memang semacam trik agar supaya penonton kembali mengular di loket-loket bioskop. 

#AADC sejak kemunculannya di 2002 silam memang selalu menjadi barometer di dunia perfilm-an Tanah Air. Pun terjadi lagi di sekuel ke dua ini. Rasanya inilah film Indonesia pertama yang melakukan premiernya tidak di Jakarta, tetapi nun jauh di kota gudeg Jogja yg memang hampir 80% pengambilan gambarnya di lakukan disana. 

Sebagai orang yg menjadikan Jogja sebagai destinasi favorite untuk liburan, rasanya gue akan kembali menyambangi Jogja dalam waktu dekat. Bagaimana tidak, walau sebagian besar dari tempat yang di blow up di film ini pernah gw datengin, ternyata masih ada beberapa diantaranya yg sama sekali gw gak pernah tau. Ini gak bisa, gak afdol bilang cinta gw sama Jogja kalau gw gak dateng ke tempat-tempat itu. Mira dan Riri berhasil bgt menyuguhkan Jogja dari perspektif yang berbeda. 

Dulu, dulu sekali, per-film-an Indonesia memiliki Ratna dan Galih, dan dekade ini kita masih memiliki Rangga dan Cinta. Dua film yang menjadi sangat Iconic dan melekat hingga jauh melampaui generasi-generasi setelah di release kali pertama 14tahun lalu. Dan kita boleh berbangga kita memiliki film percintaan yg melegenda seperti Romeo dan Juliet. 

Loe semua sudah jadi bagian dari antrian panjang depan loket bioskop? 

Gue udaaaaaaaaaaaaaahhhhhh.

Selasa, 25 Januari 2011

Sexy's back!! BURLESQUE

Mbak penjual karcis: "Mau nonton Barbekyu mas?"
gw: "Barbekyu???"
Mbak penjual karcis: "itu loh yg kristina aqualera!" #tetutep semangat#
gw: "Burlesque mbak."


Burlesque lounge adalah sebuah potret lain entertaiment's life di LA yang menawarkan persaingan cukup ketat diantara jajaran penari cantik nan moleknya, dan menjadi surga bagi wanita-wanita mencari dolar demi dolar sebagai penyanyi lipsync.

Ditengah perjuangan Thess (Cher) mempertahankan clubnya agar tidak koleps dan berpindah tangan kepada seorang pengusaha kharismatik (Erick Dane), Ali (Christina Aguilera) hadir sebagai sosok penyelamat dengan suaranya yang spektakuler, fenomenal dan bombastis.

Seperti film-film musikal pendahulunya macam Chicago, The Moulin Rouge. Burlesque juga dibungkus dengan tema percintaan dan pengkhianatan. Dan seperti sudah menjadi suratan takdir dalam dunia hiburan, setiap ada bintang baru muncul bintang lama yg pernah menjadi buah bibir akan segera terdepak bagaimanapun caranya.

Menikmati film ini jangan terlalu punya ekspektasi lebih pada acting christina, because she was doing very flat. Aksi panggungnya sebagai penyanyi (oh iyah dia emang penyanyi beneran) di film ini justru sangat memesona apalagi ditambah dengan balutan costum-costume yang aduhaiiiiii membuat "si otong" naik darah.

Selamat menyangsikannnnnnnnnnn

Senin, 20 Desember 2010

9 jam dalam Perahu Kertas


Gw terima sebuah PERAHU KERTAS berwarna hijau berbalut amplop tiki bersama sepucuk surat yang ditulis tangan rapih, menggunakan kertas concord berwarna cream dan diterai tanggal 13 Januari 2010 . Perahu Kertas yang akhirnya berada dalam genggaman gw hasil dari pemaksaan pada seseorang yang hingga detik ini belum sekalipun gw lihat batang hidungnya.
Nyaris 9 jam gw terombang ambing di dalam "Perahu kertas" yang mengaduk aduk emosi hingga ke titik paling emosional yang pernah gw rasakan. Ini adalah kali kedua gw membiarkan diri gw larut seutuhnya dalam Perahu Kertas yang tebalnya nyaris 5 cm. Kali kedua pula dimana gw tak sadar menangis sesunggukan didalamnya.

Kennan yang dalam darahnya mengalir deras darah pelukis adalah setengah Indonesia setengah Kompeni (baca: Belanda) terjembab dalam Perahu Kertas milik Kugy. Kugy membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama ketika kali pertama kakinya menginjakkan telapak kakinya di Bandung.
Kugy, perempuan dengan sejuta keanehan dengan selera fashion eksentrik termasuk mimpinya yang tergolong ajaib, menjadi penulis dongeng. Walau telah mentasbihkan cintanya pada Ojos, mematahkannya di tahun kedua perjalanan cinta mereka dan membelokkan hatinya kemudian pada sosok Kennan, sahabatnya, sosok yang telah mengilustrasikan buku dongengnya menjadi lukisan-lukisan indah benyawa.

lalu ketika dirasa cinta tak berbalas?

Kennan kemudian menakodahi Perahu Kertasnya sendiri hingga Ubud, tidak semata-mata untuk membuktikan pilihannya yang dapat hidup dari melukis, tapi lebih dari itu, Kennan mungkin ingin menguji seberapa dalam perempuan eksentrik bin aneh tersebut telah mengobok-obok dasar hatinya hingga terjembab tak berdaya dalam cinta yang sekusut benang. Dalam kenestapaannya Kennan lahir bersama Jenderal pilik dan pasukan Atit dengan Ludeh disisinya. Tak pelak Kennan menjadi buruan para kolektor lukis ulung dari penjuru negeri tak terkecuali Remi.

Perahu Kertas terus melaju mencari muaranya.....

Every night in my dreams
I see you. I feel you.
That is how I know you go on

Far across the distance
And spaces between us
You have come to show you go on

Near, far, wherever you are
I believe that the heart does go on

Dalam kesedihan yang mendalam, Kugy terus berlayar bersama Perahu Kertasnya lalu bermetamorfosa ketika berhasil menyelesaikan studinya hanya dalam waktu 3 tahun dan bekerja disebuah biro iklan AdVocado di Jakarta dan mematahkan sekian banyak hati perempuan ketika The Most Wanted, Remi yang tak lain dan tak bukan adalah atasannya sendiri terdapuk menjadi kekasihnya.

Perahu Kertas terus bergulir bersama waktu yang terus mematang, Kennan kembali pulang. Kelompon capir kembali bersama setelah nyaris tiga tahun tercerai berai. Cinta yang telah lama terpisah oleh jurang dalam kembali tersingkap sempurna dengan kondisi berbeda.

Once more you open the door
And you’re here in my heart
And my heart will go on and on

Love can touch us one time
And last for a lifetime
And never go till we’re one

Love was when I loved you
One true time I hold to
In my life we’ll always go on

Kugy dan Remi, Kennan dan Ludeh terjebak dalam cinta tak berujung, dan ketika harus memilih kemana hati kemudian akan berlabuh?

Perahu kertas



Perahu Kertas bangun dan menggeliat kembali dari tidur panjangnya yang nyaris sebelas tahun. terbit pertama kali dalam versi digital pertama di Indonesia tahun 2007 dan kemudian lahir dalam bentuk cetakan tinta dan kertas pada tahun 2009.

ini adalah karya ke 6 Dee yang sebelumnya terkenal dengan karya sastranya yang telah mengakar, namun ini adalah karya novel populer pertamanya. sebuah masterpies yang mampu mengobok-obok emosi pembaca dengan alur dan plot yang ngena. ringan namun tak seringan tinlit, berat namun tak seberat karya sastra walau didalamnya terselip beberapa bahasa sastra yang indah.

Perahu kertas lahir dengan tokoh bak bernyawa. walau membacanya hingga 2 kali, perahu kertas tetap sukses membuat gw termehek-mehek najis.

Selasa, 19 Oktober 2010

Eat Pray Love


April, 2010, Dia menghadiahkan buku itu ke gw, ketika dia dan gw sedang traveling ke Jogja. disana dia bubuhkan tandatanggannya.
"Happy early birthday...
from........."

lalu gw mendaratkan sebuah ciuman manis tepat dibibirnya.

Six month later, in the morning, early morning anyway. i sending a message to "dia" just to tell i'm done with the book. Need a long time to finnised.


October, 4th, 2010
Sejumlah jajaran pemerintah mulai dari istri wakil Presiden RI, Menteri Perdagangan, Menteri Kesehatan dan tak ketinggalan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata hadir di Red Carpet memeriahkan eforia premier film Eat, Pray and Love di XXI Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta.

~Christine Hakim dipremier Film Eat Pray Love di New york~








Bagaimana tidak, film Hollywood yang diadaptasi dari novel Elizabeth Gilbert dan dibesut oleh Ryan Murphy ini menghabiskan 3/4 settingnya film di Bali-Indonesia, dimana Julia Roberts berbagai peran dengan salah satu aktris papan atas Indonesia, Christine Hakim.

Eat Pray & love adalah catatan perjalanan satu tahun Liz Gilbert, seorang penulis kenamaan asal New York di tiga (3) Negara, dimana ia menjelajahi Itali untuk makan (Eat) dan menghabiskan 4 bulan berikutnya di Ashram India untuk berdoa (Pray) dalam mencari keseimbangan hidup melalui doa-doa sanskerta kepada Tuhan. Adalah Bali yang menjadi persinggahan terakhir Lizz untuk menyempurnakan perjalanannya dalam mencari Cinta (Love) di 4 bulan terakhirnya.

Bali terasa semakin eksotis dengan kehadiran I ketut liyer, Tua renta yang menjadi dukun kenamaan di Bali yang membantu Liz menemukan kembali hidupnya dari keporakporandaan akibat perkawinannya dengan Stephen yang berantakkan di satu tahun perkawinan mereka, dan keamburadulan perselingkuhannya dengan David seorang aktor theater yang pernah memerankan karya tulisnya di new York.
Bali yang kemudian telah terkenal diseantero jagad sebagai salah satu destinasi terbaik bagi orang-orang yang patah hati karena urusan remeh temeh percintaan memang benar adanya, karena disinilah Liz kemudiaan menemukan cintanya yang tertambat pada seorang pria paruh baya berdarah Brazil yang juga pernah mengalami kehancuran dalam perkawinannya.

Dan malam ini gw baru saja meyelesaikan film ini seorang diri, tanpa kekasih tentunya. something stupid i think, because watching a love story alone!

Untuk Aktris sekaliber Julia Roberts yang pernah sangat memukau di film "Prety Woman" buat gw, difilm ini dia sangat biasa. Masih masuk dalam kategori bagus tapi tidak spektakuler. lempenggggggggg......

Sementara Christine Hakim, kita tau akting paripurnanya dibeberapa film yang ganjar berbagai penghargaan di festival-festival film dunia let's say Cut Nyak Dien, Daun Di atas Bantal hanya bisa berpuas diri dengan porsi acting yang tak lebih dari 3 scene. tapi bukan Christine Hakim namanya kalau tidak bermain dengan total walau hanya kebagian peran kecil.

Buat gw yang telah mengkhatamkan buku Eliazabeth Gilbert ini, sungguh menyayangkan ada beberapa bagian yang harusnya akan sangat terlihat bagus jika diilustrasikan dalam bentuk gambar seperti upacara adat "Turun tanah" seorang bocah yang digawangi oleh ketut Liyer, yang akan semakin memperlihatkan khasanah budaya Indonesia, khususnya Bali tapi sayang dalam film ini disunat habis. Belum lagi Bahasa Indonesia tidak digunakan sama sekali kecuali satu kata yang dilontarkan Julia Robert "terima kasih".

Film ini memnag sangat bercita rasa International, kita boleh maklum karena ini adalah produksi Hollywood yang hanya kebetulan mengambil lokasi di Bali. Jadi cukuplah rasanya kalau dunia boleh melihat keindahan Bali dan beberapa pernak pernik Bali yang digunakan dalam film ini.

So, bagi pencinta film action, thrailer, atau film-film yang butuh mikir sebaiknya JANGAN nonton film ini, karena anda pasti akan kecewa berat. Tapi kalau anda butuh sedikit refresh dari caruk maruk persinetronan Indonesia yg cuma jual mimpi, layaklah anda tonton film ini, terutama karena niscaya di dalam hati anda akan terbersit sedikit kebanggan bahwa akhirnya Indonesia lenggang kangkung ke Hollywood melalui Bali dan akhirnya ada Aktris Indonesia yang unjuk gigi di Hollywood.

Setelah Buku Eat Pray and Love, akankah buku Honneymoon With My Brother yang juga mengambil lokasi di Bali akan menjadi film berikutnya yg akan kembali membawa Bali ditonton di Hollywood?
Hanya Tuhan yang tahu.

Finally, watching this movie with u're partner, because this movie tell's about love. Don't be alone. Bakal Garing booooooooooo.......

Selasa, 09 Maret 2010

Bumi Cinta


Gereja St. Basil< red Square

Kupijakkan kakiku di tanah durjana
Bergejolak jiwaku ketika aroma keangkaramurkaan menelusup dalam ragaku
Kupejamkan mata bathinku
Ku buka relung-relung jiwaku
Dan kubiarkan cahaya-Mu membias dalam setiap bilik jiwaku
Karena aku tau hanya Engkau yang bisa jaga aku dari setiap kenestapaan di BUMI CINTA ini.....


~by saya





Habiburahman El Shirazy is back!
BUMI CINTA, sebuah novel Pembangun Jiwa dengan setting Moskwa, Rusia. Yang merupakan Negara penjunjung tinggi masalah pornography dan kehidupan bebas. Rusia adalah surganya pencinta penganut paham sex bebas dan surganya para gay.
Adalah Ayyas, mahasiswa asal Indonesia yang merupakan tokoh central dalam novel epik ini. Kedatangannya ke Rusia untuk melakukan penelitian tentang Islam di Rusia untuk tesisnya, membuatnya mati-matian mempertahankan iman dan keislamannya.

Seperti karya-karya Kang Abik terdahulu, selain meniupkan roh Islam yang yang sangat kuat pada tokoh centralnya, Kang abik selalu menghadirkan perempuan-perempuan yang menjadi penggoda Iman kaum lelaki macam Ayyas.

sebagai Negara yang pernah menganut paham komunis yang teramat sangat kental, membuat orang-orang Rusia sebagian besar menganggap agama sebagai sesuatu yang primitf yang mengekang segala bentuk kegiatan manusia. Sehingga paham Atheis berkembang sangat kental dalam kehidupan orang-orang Rusia. Dan karakter itulah yang ditiupkan dalam sosok Linor, seorang Yahudi totok, yang berprofesi sebagai pemain Biola di orkstra besar di Rusia, Jurnalis sekaligus Inteligent rahasia Israel ,perawakannya yang dingin dan sangat memandang rendah Islam dan berusaha mati-matian meruntuhkan ke-Imanan Ayyas yang taat.

Kecantikan nonik-nonik rusia yang terkenal seantero jaggad menjadikan Yellena sebagai pelacur kelas kakap yang kerap melayani nafsu bejat para petinggi-petinggi pemerintahan sebuah negara tidak terkecuali Pejabat Indonesia yang tengah melaksadakan "tugak kenegaraan' di Rusia. hampir setali tiga uang dengan Linor, yellena pun adalah sosok muda yang mengingkari adanya tuhan, dan menjadikan Ilmu pengetahuan dan Teknologi sebagai Tuhan.

Celakanya dua nonik rusia ini adalah teman satu apartement Ayyas di moskwa. membuat pekikan setan bernama nafsu terus mengiang-ngiang di semua indera Ayyas. bahkan Istigfar ratusan kali yang dia lafalkan pun tak sanggup mendelete virus-virus keangkaramurkaan yang semakin dekat dengan pertahanan keimanannya.

Ditambah kehadiran Dokter Anastasia Palazzo, perempuan muda, penganut katolik yang taat, cerdas, ahli sejarah, assisten seorang sejarawan kenamaan Rusia sekaligus dosen pembimbing research Ayyas, dan sekaligus terang-terangan menunjukkan ketertarikannya secara sexual pada Ayyas semakin menjadikan lelaki ini berada diambang dosa.

Wawasan yang luas, ditambah pengetahuan tentang Islam yang cukup mumpuni serta merta membuat Ayaas menjadi "bintang" sekaligus "kambing hitam" aksi teroris yang dirancang geng mafia kenamaan di Moskwa setelah dia menjadi seorang pembicara diseminar tentang keTuhanan serta menjadi nara sumber di Talk Show terkenal "Rusia Berbicara".

buat gue......

Novel kang Abik kali ini terlalu DATAR, nyaris tanpa intrik berarti seperti pendahulu-pendahulunya. kelebihannya, novel ini hadir dengan setting Rusia yang sangat detail digambarkan dan dijabarkan oleh sang penulis dengan sangat apik, membuat gue berasa ada dikota itu, dengan pelbagai istilah rusia yang sulit, kuliner khas rusia yang membuat gue menelan ludah berkali-kali. Sedikit intrik politik yang dimasukkan kedalamnya yang tadinya gue harap menjadi klimaks ternyata malah tidak, membuat gue sedikit nelangsa. Plus nilai-nilai sejarah tentang rusia dan pembantaian di Palestina tahun 1982an yang terkenal sadis dan kejam membuat gue melek sejarah. dan tokoh yang kelewat sempurna yang dihidupkan Kang Abik, dengan segala atribut keislamannya terasa sedikit menggurui dibanding dengan novel2 beliau sebelumnya :)

secara keselurahan Novel ini menawarkan velue sebagai Novel Pembangun jiwa yang patut untuk dibaca dan direnungkan.

KETIKA KAMU MENINGGALKAN ALLAH, SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK PERNAH MENINGGALKANMU.

~salah satu mesjid di rusia~
~Kremlin Chatedrals~ ~MGU, universitas dalam nobel bumi cinta~



Selasa, 02 Juni 2009

Ketika Cinta Bertasbih


Review ini juga bisa tenggok di sini. di tunggu comentar2 centilnya disana, dan disini juga! Awas kalau nggak!!!!
Film KETIKA CINTA BERTASBIH yang diangkat dari novel mega best seller Asia Tenggara, buah karya tangan dingin Habiburahman El Shirazy akhirnya Premier tanggal 02 Juni 2009 di Djakarta Theater.

Mungkin gue satu-satunya orang yang tidak mengatasnamakan satu institusi pemberitaan manapun yang ada di Indonesia yang ikut ambil bagian dalam premier film tersebut. Gue datang sebagai blogger yang berhasil mengelabui panitia, wakakakakakk....(tar photo gue bersama kang abik dan om didi petet akan menyusul)

Anyway, gue rampung membaca novel besutan kang Abik sekitar setahun lalu, keapikkan kang Abik membangun sebuah plot cerita dengan karakter-karakter kuat didalamnya memang sudah gak bisa diragukan lagi. Ketika Cinta bertasbih yang juga mengambil setting dan cerita mahasiswa Indonesia di Negeri para Nabi, Mesir, gue pikir lebih membumi jika dibandingkan dengan kakak kandung novel ini yaitu Ayat-ayat cinta, yang juga telah di filmkan dan kala itu berhasil meraup angka penonton yang cukup fantastic 3,5 juta-an penonton. Padahal setting mesir di dalamnya justru tidak dilakukan di mesir, melainkan di India dan menggunakan Blue screen untuk sentuhan piramidnya. Jadi bisa bayangkan bagaimana film ini akan mendapat sambutan yang pasti "lebih" dari film sebelumnya. Bagaimana tidak, selain menyuguhkan landscape Negeri si cantik Cleopatra yang memang terkenal indah luar biasa, kabarnya film ini menghabiskan dana Rp. 40 milliar.

Ketika Cinta Bertasbih memang digarap dengan sangat serius dan detail. Tokoh utama dalam film ini pun didapatkan dari proses audisi yang panjang dan melibatkan orang-orang yang sangat kompeten di bidangnya. Dedi Mizwar, Didi Petet, Neno Warisman hingga sang penulis novel Habiburahman El Shirazy.

Janji Kang Abik bahwa film ini akan dibuat seorisinil mungkin, mengikuti novelnya memang benar adanya. Sejak awal film diputar di screen besar Djakarta Theater, membuat mata gue tak berkedip. sayang rasanya melewatkan setiap scene demi scene dari lanscape Mesir yang disuguhkan dengan indahnya, pemandangan kota Kairo, Sungai Nil yang perkasa, Pyramid yang angkuh, kota Alexandria yang menawan dan pemandangan laut Mediterania, hingga kompleks universitas Al Azhar benar-benar menyejukkan dan memanjakan mata. Film ini kabarnya adalah film pertama di Dunia yang berhasil mengantongi ijin untuk shooting di Universitas Al Azhar Mesir. Ketika Cinta Bertasbih akan premier serentak di 8 Negara dan 3 Benua berbeda. Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Hongkong, Taiwan, Mesir dan Australia.



From Beginig....

Azzam, Mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di Universitas Al Azhar adalah sosok pemuda yang sangat islami, gigih menempatkan tingkah lakunya sesuai dengan pedoman dan ajaran agama islam. pemuda 28 tahun yang nyaris melupakan studinya karena lebih memilih menjadi tulang punggung keluarganya di Kartasura, Jawa tengah. Sejak Ayahnya meninggal, secara otomatis dialah yang menjadi tumpuan ibu dan adik-adiknya. Azzam bekerja sangat keras untuk itu, namanya termasyur sebagai mahasiswa yang pandai membuat tempe di Mesir, dan itulah profesi yang digelutinya untuk mengumpulkan uang untuk membiayai kehidupannya dan keluarganya di Indonesia. Selain piawai membuat tempe, Azzam juga dikenal bertangan dingin mengolah makanan traditional Indonesia, hingga keluarga besar Kedutaan Republik Indonesia untuk Mesir kerap mempercayakan jamuan-jamuan untuk relasi kedutaan ada ditangannya. Karena kelihaiannya mengolah makanan Indonesia itupulalah kemudian yang mempertemukan dia dengan Elliana, putri Dubes RI yang sudah terkenal di Mesir. Elliana adalah sosok gadis yang cerdas, menyelesaikan S1-nya di EHESS Prancis dan terhitung baru satu bulan berada di Mesir, namun bisa dengan cepat bersinar di Mesir. Selain cantik, tulisan opininya yang berbahasa Inggris sudah dimuat di koran Ahram Gazette, yang menyoroti peran liga arab yang mandul dalam memperjuangkan martabat anggota-anggotanya. tulisan yang kemudian disorot sebagai perpanduan antara pandangan seorang jurnalis, sastra dan Diplomat ulung membuatnya kemudian menjadi bintang tamu di Nile TV. Elliana yang kemudian terpesona dengan pribadi Azzam pun ditanggapi dingin oleh Azzam, Elliana yang sempat bersinggungan dengan paham kebebasan menurutnya bukan sosok pendamping yang tepat untuknya. Azzam mendambakan sosok muslimah yang utuh untuk calon pendamping hidupnya.

Anna Althafunnisa kemudian menjadi satu sosok perempuan dan muslimah yang bertolak belakang dengan kehidupan Eliana yang mampu membuat Azzam terpesona. Pertemuan yang tidak disengaja karena peristiwa perampokan yang di alami Anna dalam sebuah bus, membuat Azzam pun akhirnya meradang karena Anna ternyata telah di khitbah oleh sahabatnya sendiri, Forqon.

Furqon yang juga merupakan mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di Al Azhar. furqon terkenal di kalangan mahasiswa bukan saja karena kepintarannya, tapi juga karena ketampanannya, kaya raya dan punya prinsip kalkulatif. fasilitas super lengkap yang didaptkannya di Mesir membuat sebagian besar waktunya hanya dihabiskan untuk belajar. berbeda dengan Azzam yang nyaris melupakan studynya karena harus bekerja keras demi bisa menghidupi diri dan keluarganya, Furqon justru telah sampai pada masa persiapan tesisnya. inilah yang kemudian membuat Furqon lebih diprioritaskan untuk menjadi pendamping Anna ketimbang Azzam yang kala itu mengkhitbah Anna.

Desakkan sang Ibulah yang kemudian menguatkan dan membulatkan tekad Azzam untuk segera menyelesaikan studynya yang telah dia tempuh selama 9 tahun di universitas Al Azhar. Dan mengantarkannya kembali ke Indonesia dan bertemu dengan keluarganya. Disinilah konflik yang sebenarnya bermula. Di indonesia Azzam mendapati wanita pujaan hatinya akan melangsungkan pernikahannya dengan Furqon, sementara dilain pihak Furqon pun berada dalam dilema antara keinginan menikahi Anna dan janjinya pada kepolisian Mesir untuk tidak menularkan virus HIV yang telah ditularkan oleh seorang wanita sindikat penipuan asal Italia ketika masih berada di Mesir.

Ketika Cinta Bertasbih sejujurnya sangat menguras emosi, dengan berbagai karakter dan plot bercabang yang dibangun Kang Abik. Detail setiap kejadian membuat gue kala itu ingin terus menerus membaca novel ini. sebuah novel "Pembangun Jiwa" yang mengajarkan berbagai kebajikan dari persfektif yang berbeda dan tidak terkesan menggurui. Begitu menguras emosinya Novel ini membuat gue tidak kuasa untuk tidak berlinang air mata. Setiap runutan katanya mampu menyihir gue, hingga menyadari betapa kerdilnya gue dengan setiap dosa yang telah gue lakukan. Garis merahnya tentang persfektif cinta dari sudut Agama, bagaimana mendahulukan kepentingan sendiri jika menyangkut ibadah, tentang akibat dari kebiasaan hidup bermewah-mewah seperti yang dialami Furqon, hingga kerja keras yang digambarkan dalam sosok Azzam niscaya akan membuat hati akan terbuka untuk selnagkah lebih baik dan selangkah lebih baik lagi.

Menonton film Ketika Cinta Bertashih seolah membawa gue membuka lembar demi lembar Novel yang telah dirajut dengan indahnya oleh Habiburahman El shirazy.

Rabu, 05 November 2008

R bukan L

Namanya Novi Sophia http://profiles.friendster.com/29297657, temen kos gue yang lagi berusaha keras untuk mencari cintanya. Kategori pacar idamannya: (1). Lebih tua dari dia / dewasa, (2) Smart, (3) Mapan, (4) Jago ngecingcong pake bahasa inggris, (5) goodloking yang artinya gak malu-maluin dibawa kondangan. Kalau gak punya 5 kategori itu, jangan coba-coba deketin dia. sia-sia. Dia bukan tipe cewek yang bisa dikompromi karena loe bahkan masih kurang ½ dari satu kategori lagi yang dia pengen. Kok jadi ngomogin Novi yah? Bodoh!!!!, hehehehehehe……

Any way, novi yang memperkenalkan gue dengan KRISTY NELWAN, http://www.sweetestjourney.blogspot.com/. Memperkenalkan bukan dalam arti sebenarnya yah, yang jabat tangan sembari:

Gue: “Fais”.
Dia: “Kristy”.

So, yang gue maksud dalam “memperkenalkan”adalah dengan meminjamkan gue novel yang alih-alih dia pinjam juga dari Murni, CS nya. judulnya aneh menurut gue “L”.
Eniweibaythewaybusway….let’s talk about the Novel, secara udah lama yah gue gak kasih ulasan tentang buku yang gue baca.

Pertama,
Gue baca buku ini dalam waktu dua hari, dan rela gak ngerjain apa-apa termasuk proposal kerjaan yang seharusnya gue kelarin tepat waktu. Dan terpaksa boong sama rekan kerja gue dengan kirim sms ke dia.

Gue: “sorry proposalnya elum kelar, gue gak bisa begadang semalem. Gue meriang disko habis meeting sambil ujan-ujanan kemarin. Ini lagi gue kerjain. Begitu selesai gue email ke loe”.

Which is, itu sama sekali gak bener, karena waktu gue kirim tuh sms, gue lagi baca bukunya kristy dan gue sehat wal afiat alhamdullilah.



“L”

Adalah buku kedua krsity, dimana dia sanggup ngebuat semua orang yang baca bukunya (baca: GUE RASA!!!) termasuk gue, gak akan mau berenti baca neh novel sekalipun laper, ujan, gledek, tsunami, gemba, perang, meriang disko, ampe bela-belain nahan boker. Suwer tekewer-kewer!!!!! Krsity pandai banget ngebangun situasi dan alur cerita plus dengan ocehan “ala” sehari-hari.
Karakter tokohnya yang keren dan megang banget:

Ava Torino, tokoh utama yang perfeksionis, ambisius, perokok berat, player, alcoholic, gak percaya hantu dan semua hal berbau magic, berprinsip kuat untuk menjaga harga diri dengan bilang “gak ada yang mau menghargai kita selain diri kita sendiri” yang dibuktikannya dengan angkat kaki dari kantornya setelah mengatahui sahabat karibnya Jenna yang terbaring lemah karena stroek di Jogja ketika menjalankan pekerjaan disana, sementara kantor tempat dia dan jenna bekerja gak mau kasih kompensasi apa-apa. She walk out from she’s office dan ngatain bosnya MONYET GENDUT, ini namanya pembuktian prinsip, see?. Ava Tarino yang finding her love dari huruf depan untuk memenuhi ambisi punya pacar berdasarkan susunan huruf alphabet, and she is make it happen, berhasil mempunyai pacar-pacar dari A sampai Z di usia relative muda, 25 tahun! Artinya dia bisa pacaran diluar normal dari cewek-cewek kebanyakkan. Dia hanya butuh waktu 2 bulan untuk pacaran dengan orang satu huruf, tapi gue salut perinsipnya gak mau pacaran dengan orang lain sebelum selesai dengan satu orang lain, orang gila. Dan ketika dia hampir memenuhi ambisinya melengkapi pacar ALPHABETNYA dia kepentok dengan orang yang harus di pacarinya, laki-laki dengan huruf awal “L” dan dia tidak mudah menemukannya selama berbulan-bulan, padahal itu orang dengan huruf terakhir yang harus dipacarinya.
Pertemuannya dengan seseorang di Jogja hampir melengkapi daftar pacar alphabetnya, wajah laki-laki yang konon katanya tidak bisa dibilang jelek membuatnya terpana, tapi dia menelan pil kecewa setelah tahu nama laki-laki itu tidak berhuruf “L” seperti yang diharapkannya, tapi berawalan R, Rei. Kemudian pertemuan dengan laki-laki setelah Rei dihari yang sama di café di hotel tempat dia menginap dan nama laki-laki itu berhuruf depan L. She is done, dia melengkapi ambisinya dan ini yang membuat semua berubah, gaya pacaran yang cuma mendapat jatah 2 bulan per kepala, menjadi 2 tahun untuk Ludi yang berhasil membawa perenungan panjang untuk Ava, she is change, dia yang tadinya tidak percaya cinta, luluh lantak oleh cara-cara romantis yang dilakukan dan diperlihatkan Ludi padanya. They are get merried! Because Ludi is the “L”ast or “L”ove and yang kalau digabungin LAST LOVE. See?

Carlo, si muka kotak (jadi inget perkataan Tamara Geraldine waktu terima award dari Jonny andrean “gak semua orang BATAK, punya muka KOTAK) berwajah sanggar tapi hati Rinto Harahap. Yups, seperti yang gue tahui selama ini temen-temen gue yang punya darah Batak, orangnya cukup gahar, gak penakut. Tapi Carlo aneh, hobby nonton infoTAIment, jatuh cinta tapi berani liat doang gak berani ngomong, sebelum diancam akan “dipecat ama Torino (ava, red) Carlo si Batak yang aneh.

Kim, miss celebrity yang doyan dandan tapi baik hati, brand oriented, tapi kalau pacaran setia bener, karena dia percaya arti cinta. She is carlo’s girl friend.
Jenna yang setia kawan, bijaksana, perhatian. Good girl!

Ludi, tunangan ava, yang sempurna dari segala sisi. Pinter, mapan, smart, taat ibadah, perhaatian, romantic, dari keluarga baik-baik, tapi ternyata BUAYA DARAT juga, tidak berprikemanusiaan yang adil dan beradab, tipe laki-laki yang diam-diam menghanyutkan yang pantas dicincang-cincang dan dijadikan cornet merek “Ludi”. Tega banget dia mengkhianati Ava dengan isep-isepan lidah dikantor sama Maya (gue yakin seyakin yakinnya dia juga isep-isepan yang lain, dasar otak mesum), yang nota bene adalah “perempuan penggoda” yang digunakan ava untuk menggoda Xi men pacar terdahulu Ava. Ludi, Laki-laki sialan yang Cuma bisa ngajarin “ngomong kalau ada masalah” tapi gak dibuktiin ke dirinya sendiri dan memilih selingkuh dengan Maya ketika tahu bahwa ava cari pacar hanya berdasakan huruf depan alphabet dan sering ketemuan sama Rei dengan cara diam-diam ngikutin Ava yang lagi berkunjung ke rumah Rei. Dia laki-laki gak tahu diri yang selingkuhin tunangannya yang coba bertahan untuk setia dan tidak pernah mau mengatakan I LOVE YOU pada Rei, laki-laki yang jelas-jelas dia cintai hanya karena punya prinsip gak mau selingkuhin tunangan sebaik Ludi yang setia dan mencintainya padahal BULSIT!!!. Karakter laki-laki penipu yang menipu ava mentah-mentah yang mencoba menepis pikiran bahwa Ludi juga tipe laki-laki tukang selingkuh dengan melihat sisi Ludi dari ketaatannya beribadah yang dia kagumi, but, he is……dia melakukannya! dia selingkuh dan you know what? sejak bagian dimana Ava merasa Ludi selingkuh, gue sebagai laki-laki juga ikut percaya dengan berbagai asumsi dan pemikiran “semua laki-laki do it same things” tapi gue terkecoh dengan kepandaian Kristy meramunya. SIALAN LOE KRISTY, SALUT gue. Wait, sialan atau salut? Aug ah, gue emosi jiwa ngegambarin karakter Ludi yang complicated.

Rei, pernah bekerja sebagai music director (MD) di radio prambors, laki-laki yang tidak sengaja menemukan dan ditemukan Ava di warung nasi goreng pinggir jalan di Jogja. Pertemuan yang tidak sengaja yang pada akhirnya membuatnya jatuh cinta setengah mampus dengan Ava, tapi menunjukkannya dengan cara yang “berbeda”. Pertemuannya dengan Ava membawa perubahan besar pada diri Rei yang rela berhenti merokok padahal dia juga perokok berat. Pertemuan kedua di bali setahun kemudian di sebuah acara puteri-puterian yang diliput oleh Ava dan Rei sebagai Event Organizernya, pertemuan kali kedua yang juga tidak sengaja.
Pertemuan kali kedua yang tidak direncanakan yang juga pada akhirnya membuat Ava sanggup salah tingkah dengan berbagai kejadiaan seru termasuk perayaan ulangtahun dadakan yang menggunakan ligther milik Ava untuk tiup lilin, dan hadiah berupa bintang-bintang glow in the dark yang dipasang Rei di dinding kamar hotel ava.
Rei berbeda, dengan caranya sendiri dia mencari cintanya, pertemuan kali pertama di jogja yang hanya sebatas kenalan tanpa nomor telpon, alamat, e-mail dan sebagainya yang notabene bisa dijadikan alat untuk berkomunikasi selanjutnya, but he dosen’t do it. Karena dia berbeda.
Pertemuan kali ketiga yang juga tidak di sengaja. Ava yang melamar dan diterima bekerja di salah satu tv station di Jakarta yang juga ternyata kantor tempat Rei mencari sesuap nasi. Dengan segala keanehan dan keberbedaan karakter Rei, dia sanggup mengurai hari-hari menjengkelkan bin mengesalkan yang berbuah pertengkaran-pertengkaran cinta dengan Ava, dan Ava justru menikmatinya ketika dia sudah bertunangan dengan L, yang akan menikahinya dalam hitungan bulan. Dengan caranya Rei sanggup membuat hati ava bimbang dan ragu akan keputusannya menikahi L, dengan caranya yang aneh pula ava bermetamorfosis dengan sempurna yang membawa alur cerita juga semakin matang dan buat penasaran. So, kenapa Rei gak pacaran sama Ava? Kenapa ava gak pacaran sama Rei? Padahal mereka saling cocok satu sama lain? karena R bukan L dan Rei berbeda. Satu kata untuk Rei : misterius.

Finally.....
Setelah baca buku ini dengan berurai air mata, gue bisa merekomendasikannya untuk kalian semua para pencinta. Cerita cinta yang diurai berbeda dengan cara yang berbeda oleh Kristy menjadikan cinta gak berasa basi, dan untuk para BUAYA DARAT (termasuk gue) baca buku ini, biar kalian ngerti ternyata gak selamanya rasa sayang ke orang lain bisa diartikan selingkuh, gue setuju dengan Kristy karena gue juga sedang mengalaminya.
Buat gue buku yang bagus untuk gue baca adalah buku yang ngajarin gue hal baru, buku yang sanggup buat gue nangis Bombay (hey, shudup!!! Laki-laki juga perlu nangis, tapi gak ditunjukkan di depan cewek, dan gue nangis di kamar gue, so I don’t care what u think about me, karena gue emang nangis senangis nangisnya baca buku ini, apalagi bagian dimana ava merasa sangat down setelah bersusah payah mencari Rei, dan begitu mengetahui Rei sedang sekarat di Belanda dan mempersiapkan segala hal untuk menyusul Rei ke Belanda, dia kemudian tahu Rei sudah meninggal karena kanker paru-paru stadium lanjut, membawa semua cinta yang dimilikinya, dia terpukul, butuh seseorang untuk tempat dia menangis, dia mencari L ke kantornya dan dia menemukan Ludi (tunangannya) sedang isep-isepan lidah dengan Maya, pelacur itu. Sebenarnya apa yang ada didalam kepala kalian para lelaki? Eh, tunggu gue juga laki-laki. Tapi gue gak sebrengsek Ludi, tapi masa sih gue gak brengsek? Who know? I’m!!!!!! dan satu lagi, gue nangis di bagian akhir dimana ava membaca surat pertama dan terakhir untuk ava dimana akhirnya diketahui bahwa R = L karena Rei adalah Leonard Reinaldi. Yang akhirnya gue kaitkan dengan bagian cerita dimana Ava menuruti rengekan teman-temannya untuk megang tangan patung Budha di candi Borobudur waktu mereka liburan yang mana dari gossip yang beredar seseorang akan bisa mendapatkan harapannya ketika bisa memegang tuh tangan patung, ava melakukannya padahal dia gak percaya dengan omongan itu yang menurutnya adalah TAKHAYUL. Tapi dia tetap melakukannya untuk menyenangkan hati teman-temannya SHE MAKE A WISH, FINNDING “L” dan dia harusnya menemukannya di warung nasi goreng dipinggir jalan jogja pas makan sore-sore setelah adegan megang tangan patung Budha di Borobudur, cowok aneh bernama Rei yang saat itu berjaket adidas yang membuatnya jatuh cinta pada jaketnya karena ke vintage-annya, bukan Ludi yang dipacarinya dan akan dinikahinya) buku yang membuat gue bisa mengharu biru. buku yang lucu yang bisa buat gue ketawa sambil jungkir balik.

So, setelah hari ini gue nambahin novelnya Kristy Nelwan “L” dalam buku yang masuk dalam kategori buku yang wajib gue baca dan wajib gue punya. Kristy gue janji setelah gue punya duit (lagi) gue akan ke gramedia untuk beli buku “L” loe tiga sekaligus. Satu untuk gue, satu untuk J, untuk pacar gue di Bontang dan satu untuk R, orang yang gue sayang. Karena….

1. Loe ketemu R, Rei tanpa disengaja, tapi gak bisa pacarin dia R bukan L dan akhirnya loe tunagan dgn L yang seiring sejalan loe jatuh cinta sama R yang pada akhirnya loe tahu dia adalah L yang loe pengen.

2. Gue chatting dengan R, gue jadi sayang sama dia, tapi dia udah punya pacar jadi nggak mungkin, kemudian gue mudik ke Bontang dan menemukan J disana, kita pacaran dan udah jalan selama dua bulan. Dan gue tetep sayang sama R.

Satu hal yang sangat ganggu sekarang, kenapa produser film gak ada yang lirik buku ini, ini buku bagus yang patut difilmkan.
Kristy, biayayi perjalanan gue ke Borobudur untuk pegang tangan patung Budha and I wanna make a wish, Mira Lesmana dan Riri Reza baca buku ini dan membuatnya menjadi film.

Selasa, 23 September 2008

Laskar Pelangi, most beautiful film i ever seen.

Gue lagi duduk disalah satu kursi di Planet Hollywood, diantara para pewarta berita yang masih hilir mudik dari meja satu ke meja satu (neh orang apa setrikaan ya?). Siang ini diantara lapar dan dahaga, mereka tetep semangat seperti biasa. Menyodorkan tape recorder, microfon untuk mewawancarai para artis, produser, sutradara dan penulis atau sekedar jepret sana jepret sini seolah enggan melepaskan semua moment berharga yang terjadi dalam ruangan kecil yang penuh sesak oleh manusia-manusia pemburu berita.

Berhubung gue bukanlah wartawan dan saat ini ikut hadir ditempat gaweanya para wartawan-wartawan ini dengan alasan:
1. Ingin menjadi salah satu orang pertama yang nonton film paling gue tunggu tahun ini.
2. Nolongin temen gue yang wartawan untuk mendapatkan amplop berisi seratus hingga dua ratus ribu rupiah sebagai imblan dari Production House yang menggelar hajatan premier film ini kepada para wartawan yang berkenan hadir dan meliput semua kejadiaan “Maha Dahsyat” yang terjadi di premier film ini. Yang kemudian uang itu dipakai buat bayar kos bulan ini, hehehhehhe…….


Maka untuk menyembunyikan identitas asli gue (penting gak sih?) jadilah gue hanya berasyik mahsyuk dengan tombol-tombol laptop gue, merangkai setiap kata dan kalimat yang mengaduk-aduk isi kepala gue sejak premier film LASKAR PELANGI berlangsung dua jam yang lalu.

Gue sudah sangat “Jatuh Cinta” sejak membaca novel karya tangan dingin Andrea Hirata setahun lalu dan membuat gue memborong dua novel dia selanjutnya (Sang Pemimpi dan Edensor) dan sekarang sedang harap-harap cemas sembari nahan-nahan kentut pengen baca seri terakhir Tetralogi Laskar Pelangi (Maryamah Karpov). Tadinya gue anggap semua BUKU SASTRA itu MEMBOSANKAN lebih membosankan dari pada nongkrong tiap pagi di toilet yang bau pesingnya amit-amit jabang bayi. Tapi setelah ikut-ikutan temen kantor gue beli novel nya Hirata, hanya karena gue suka warna cover merah lembayung yang menurut gue sangat eye catching banget dan memaksakan diri untuk membacanya barulah gue sadari cintaku bertepuk sebelah tangan (loh? Apa-apaan neh maksudnya?) inilah MASTER PIECE yang sangat-sangat Full Inspiring, Full menggugah hati hingga menusuk-nusuk sanu bari yang berbuah mewek jijay waktu gue membacanya.

Dan ketika gue denger kabar selintingan kalau novel ini akan di filmkan, gue sempet merasa tidak rela. Takutnya feel “Dahsyat” yang sudah dibangun kuat oleh Hirata di Novel ini akan dijungkir balikkan hingga porak poranda oleh orang-orang yang mengaku sineas top marko top di Negeri ini, tapi membuat film ala SINETRON dari buku yang sangat-sangat popular. Tapi ketika tahu yang membuat filmya kolaborasi manusia “SINTING” Mira Lesmana – Riri Reza, gue mulai berfikir “Oh Oke!!!!”

Penantian sekian lama terobati sudah. Mendengar pemutaran film dimajukan dari jadwal semula yang katanya setelah lebaran 2008 menjadi seminggu sebelum lebaran, membuat gue teriak-teriak mirip bebek yang mau dipanggang idup-idup. Gue harus jadi salah satu orang pertama yang nonton film ini. Temen gue yang wartawan gue ancam akan gue mutilasi kalau gue gak dapet undangan premier film ini, maka jadilah hari ini gue berada diantara kerumunan orang-orang ini, kerumunan wartawan yang loncat sana loncat sini mirip kutu loncat yang kena ambeyen menghampiri orang-orang yang terlibat dalam pembuatan film ini yang kebetulan di bagi dalam beberapa kelompok.

Ibarat pepatah yang bilang “sambil nyelam minum air” (keselek dong? Dodol apa gak ada kerjaan neh orang yang buat pepatah) atau “sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui” (lah napa jadi ngomongin pepatah?) back again…..jadi gue pun merasakan hal yang sama, gue girang banget waktu bisa ketemu dan salaman sama Andrea Hirata (the dreems come true), dan gue pun bilang:

Gue: “Mas Andrea, bukunya sangat Inspiring”.
Andera: “…….” Cuma senyum doang.
Gue: “Saya ama temen saya yang sekarang lagi kuliah di UK ampe punya keinginan untuk jadi back packer keliling Eropa dan dateng ke Edensor.” (gue gak habis pikir kenapa ngebahas Edensor? Padahal ini lagi premier film yang settingnya di Belitong. Harap maklum syndrome terkagum-kagum gue lagi kumat dan menguasai hampir seluruh syaraf-syaraf ditubuh gue).
Andrea: “Saya mau kesana lagi, mau ikut?”
Gue: “………”

Gak bisa ngomong lagi, dia pasti gak serius ngajak gue, heheheehhehehe……..
Gile prolog gue panjang pisan euy……maklumlah biang gossip.

Eniwey by the way busway yang bikin Jakarta makin macet.
Kalau loe semua sudah baca novelnya Andrea Hirata LASKAR PELANGI loe pasti setuju kalau novel ini DAHSYAT LUAR BIASA. Hirata berhasil membuat sepuluh anggota Laskar Pelangi (Ikal, Lintang, Mahar, Sahara, Kucai, Syahdan, Harun, Trapani, Borek, A Kiong) menjadi semakin hidup. Mereka bersepuluh, yang setiap hari bersetubuh dengan alam Belitong dengan segala permasalahan mulai dari kemiskinan yang membelit, semangat, keinginan hingga cita-cita benar-benar berhasil memberikan spirit luar biasa untuk gue secara pribadi untuk terus bermimpi (temen gue juga pernah pernah bilang ke gue: “Teruslah bermimpi, karena mimpi itu yang akan membuat loe terus hidup”). Tidak hanya semangat para Laskar Pelangi. Keinginan, kegigihan dan ketulusan Ibu Muslimah dan Pak Harfan yang menyala-nyala harusnya bisa menggugah semua orang, termasuk pemerintah yang berkuasa di Negeri ini untuk lebih “MENGGUNAKAN HATI”, melihat dengan hati bahwa pendidikan yang baik dan berstandar maksimal bisa membawa Negara ini menjadi lebih baik, sembuh dari sakit yang bertahun-tahun di derita Ibu Pertiwi. Melihat dengan hati bahwa semua anak Indonesia dari Sabang hingga Merauke bisa mendapatkan pendidikan dengan layak. Melihat dengan hati bahwa “Sekolah-sekolah mirip kandang kambing” yang bertebaran bak pasir di pantai yang banyak menghiasi sudut-sudut desa di Negeri ini menanti untuk dijamah oleh tangan-tangan kekar mereka. Melihat dengan hati ada juta-an Ibu Muslimah diluar sana yang kapasitasnya tidak lagi membutuhkan “perhatian” tapi “reward” atas jasa dan pengorbanan untuk bisa membuat anak-anak terbuang itu bisa membaca dengan buku lusuh serta lihai berhitung walau hanya menggunakan patahan-patahan sapu lidi.

Membaca buku ini, memaksa otak gue yang hanya sebesar otak ikan lele ini, untuk menyutradarai film ini sendiri, membuat imajinasi serta menghidupkan aura kehidupan yang dialami dan dilalui oleh Laskar Pelangi hampir 34 tahun lalu di Belitong. Dan hari ini, Mira Lesmana juga Riri Reza sudah membantu gue untuk menghadirkan visual itu di depan biji mata gue. Sengaja gue kosongkan kepala gue, gue delet setiap scene film yang sudah gue buat di syaraf-syaraf otak gue, gue berharap apa yang gue baca dibuku bisa gue dapetin di film ini.

Perasaan gue membuncah-buncah bak air bah ketika layar putih segede dan selebar bagong mulai merefleksikan film dari pita-pita film diruang control dibelakang gue. Ketawa ngakak melihat tingkah polah laskar pelangi yang menarik-narik kambing keluar dari kelas mereka ketika hujan mengguyur Belitong, tertawa lebar melihat ikal memakai sepatu pink pergi ke sekolah reoknya untuk kali pertama, tertawa terbahak-bahak melihat usaha pak Arfan menopang sekolah bututnya yang hampir roboh dengan sebatang kayu raksasa. Tapi gue gak hanya menertawakan mereka, gue justru menertawakan wajah pemerintah dan pihak-pihak terkait yang wajahnya memerah bak kepiting rebus saos padang ketika mereka mononton film ini. Mudah-mudahan tertawaan kami yang hadir di premier film ini bisa menggelitik hati semua orang untuk berbuat lebih untuk dunia pendidikan anak-anak Indonesia.

Gue nangis Bombay nonton filmnya, gak peduli omongan orang yang bilang puasa kita bakal makruh kalau nangis. Gue nangis karena gue pengen nangis. Ketika melihat Laskar Pelangi berhitung menggunakan lidi-lidi, Khayalan gue kembali kepuluhan tahun silam. Gue pernah mengalami itu. Menangis karena melihat lintang belajar dengan buku seadanya ditemani cahaya lampu teplok, gue pun pernah mengalaminya, menangis ketika melihat Laskar Pelangi menggunakan baju yang sudah compang camping untuk sekolah, menangis menyaksikan bagaimana Laskar Pelangi dan Ibu Muslimah melepas kepergian si Jenius Lintang untuk tidak sekolah lagi karena harus membiayai hidup adik-adiknya selepas ditinggal mati oleh ayahnya. Dan gue rasa bukan hanya gue yang nangis tapi semua orang yang ada di theater itu termasuk Bapak Din Syamsudin yang juga dateng ke premier film ini.

Syair-syair Nidji menutup pertunjukan ini dengan apik dan sempurna, ketika lampu theater menyala terlihatlah mata-mata sembab dan bengkak itu. Semua terenyuh, semua terharu, dan semua puas dengan hasilnya. Mira lesmana dan Riri Reza tidak hanya berhasil mengembalikan spirit yang ada dibuku Andera Hirata, tapi juga berhasil menghidupkan kembali kehidupan dinasti dan kejayaan Belitong puluhan tahun lalu, dengan berhasil memperlihatkan setting-setting indah setiap sudut pulau Belitong, berhasil membuat gue sebagai penonton berasa berada di Belitong.
Mira Lesmana berdiri di ujung anak-anak tangga, menyalami semua orang yang hadir dipremier itu, memeluk erat dan mesra Andrea Hirata sang empunya buku. Gue melihat sosok itu sosok manusia lowprofile yang bisa menghargai orang-orang yang banyak membantu dirinya, seandainya semua orang Indonesia begitu tingkah polahnya. Pasti Negara ini akan jauh lebih baik.

Gue: “Ini film terindah yang pernah saya tonton”. Kata gue ketika menyalami dengan erat seorang Mira Lesmana, dan kata-kata itu keluar dari lubuk hati gue yang paling dalam untuknya.
Mira: “Alhamdullilah, terima kasih banyak”. Katanya menatap mata gue dalam-dalam.

Dan ketika gue berpapasan dengan Andrea Hirata, gue menyalaminya seraya berkata:
Gue: “Selamat filmnya so Inspiring”.
Andrea: “Saya senang sekali karena Mira dan Riri bisa membuat buku dan filmya seimbang, bisa mempertahankan feel-nya. Dan saya senang sekali karena filmnya menggunakan bahasa dan dialek Belitong”.

Lain lagi ketika gue bertemu dengan Riri Reza sang sutradara.
Gue: “Riri, selamat filmnya bagus banget”.
Riri : “Terima kasih banyak”.
Gue: “Gimana kalau film ini di putar disekolah-sekolah?”. Kata gue memberi saran dari pada pertanyaan.
Riri: “Insya allah.”



Begitulah hari ini, susah melukiskan perasaan gue. Semua campur aduk. Hilang sudah was-was yang menyelimuti hati gue tentang “jangan-jangan filmnya gak akan sebagus bukunya”, lenyap sudah pertanyaan-pertanyaan gue tentang kwalitas filmnya. Memang banyak penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan dalam film ini, tapi semua itu tidak menghapus dan menyamarkan alur cerita, tidak membuat perbedaan yang teramat sangat jauh, pesan yang ada dibuku Hirata tersampaikan dengan jelas di film Riri Reza, dan itu sebanding dengan 25 ribu yang akan nanti orang-orang keluarkan untuk membeli tiket di Bioskop. Memang seharusnya seperti inilah sebuah film dibuat, tidak menomor satukan KOMERSIAL tapi KWALITAS baik, dan tidak membuatnya terlihat sebagai film yang murahan. LASKAR PELANGI, most beautiful film I ever seen.

Gue pun menutup laptop gue dengan senyum yang lebar banget dan panjang sekali