Tampilkan postingan dengan label 1/2 BackPacker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1/2 BackPacker. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Oktober 2018

Di Bangkok, Ibu pedagang kaki lima nyikat trotoar bekas dia dagang pake sabun.

16 Tahun menetap di Jakarta dan sudah sangat terbiasa dengan kesemrautan yang terjadi dibanyak hal, membuat gue takjub ketika menginjakkan kaki di Bangkok. Serius!!! padahal dari beberapa artikel yang gue baca, kehidupan di Bangkok dan Jakarta itu gak terlalu signifikan perbedaannya, sama-sama kota metropolitan, living costnya juga beda-beda tipis, Banyak pedagang kaki lima juga di pinggir jalan (atau bahasa kecenya street food), 11:12 macetnya apalagi saat jam pulang kantor.

BEDANYA

Masyarakatnya di Negeri Gajah Putih ini taat aturan, sedikit sekali orang yang nyebrang sembarangan (orang-orang di Bangkok terbiasa nyebrang di Zebra Cross atau jembatan penyebrangan), gak ada yang ngerokok semberangan di pinggir jalan (kalaupun ada dipastikan itu adalah spot merokok alias smooking area), gak ada yang buang sampah sembarangan, asli kota ini bersihnya gak ketulungan, nyaris gak ada tempat sampah. Gue sempet ketemu satu moment, ketika habis beli panganan ringan di minimarket depan stasiun BTS (LRT) dan menemukan seorang ibu yang sedang beberes di trotoar bekas dia dagang makanan, mungkin bagian beres-beres mah hal yang sangat lumrah dan wajar, di Jakarta juga bisa liat tiap hari, yang membuat gue benggong adalah ketika setelah merampungkan urusan beres-beres perkakas berdagang, si Ibu nyikat trotoranya pakai sabun! mampus gak loe? sebegitunya mereka menjaga kebersihan, karena mereka sadar bahwa negara mereka adalah salah satu destinasi wisata populer di dunia, dan mereka benar-benar mengaplikasikan pepatah lama "kebersihan adalah pangkal kesehatan" dalam kehidupan sendiri. jadi gak ada tuh ceritanya pedagang kaki lima disana "ninggalin jejek" setelah urusan berdagang mereka kelar. 





Vlog Part 2 di Bangkok

Kamis, 21 Juni 2018

Bangkok untuk kali pertama

Traveling itu PENTING!
sebagian orang mungkin beranggapan bahwa jalan-jalan itu, cuma buang-buang uang, waste of time, bikin capek. Tapi kalau buat gue, jalan-jalan itu sama pentingnya seperti loe makan tiap hari. Come on, dijaman milineal seperti sekarang, apa sih yang gak butuh uang? kencing di toilet mall aja bayar 2000 perak. yah gak sih?

The Grand Palace

Dengan traveling loe bisa belajar banyak hal, melihat dunia baru, menemukan banyak pengalaman seru yang mungkin tidak pernah terfikirkan sebelumnya. Pernah gak kebayang apa yang akan loe lakuin kalau kesasar di Negara orang, dimana bahasa menjadi kendala utama? itu yang terjadi dengan gue beberapa bulan lalu, ketika kali pertama melakukan perjalanan jauh ke negara orang. Bangkok, Thailand! menjadi Negara pertama yang gue kunjungi, yah, awal mei 2018 lalu akhirnya untuk kali pertama gue melakukan itu. Sebuah perjalanan dadakan (seperti biasa!) tapi  kali ini tentu dengan itinarary cukup matang. Tidak seperti jika gue melakukan sebuah perjalanan di dalam Negeri yang gak pernah peduli dengan sederet itinarary. Jangankan bikin rencana perjalanan, untuk tempat menginap aja biasanya gue baru akan hunting ketika sudah sampai ke tempat tujuan, tapi kali ini tidak mungkin. Mengingat ini kunjungan pertama ke Negara orang, walhasil beberapa hari sebelum perjalanan penting ini, gue sudah bolak-balik pantengin vlog dan blog orang-orang dan mengobrak abrik lamam google demi menemukan lokasi-lokasi kece untuk kunjungan perdana ini. Termasuk mencari tahu bagaimana cara menggunakan public transportation di negara itu. Hei, ini adalah perjalanan 1/2 Backpackers gue, dimana pengeluaran sekecil apapun harus diperhitungkan jika tak ingin jadi gembel di Negara orang. 

BTW, kenapa ini merupakan perjalanan 1/2 Backpackers?
yess, karena gue gak mungkin mengklaim ini sepenuhnya sebagai perjalanan Backpackers. Biasanya seorang yang menasbihkan diri sebagai backpackers seutuhnya akan mencari semua hal serba murah dan terjangkau untuk perjalannannya, mulai dari transpotasi dan akomodasi hingga apa yang akan dia makan. Nah, gue? termasuk orang yang cukup picky soal armada penerbangan, bukan mau sok iye, tapi gue termasuk ke dalam golongan traveler yang sangat takut terbang, sehingga gw harus mencari maskapai penerbangan yang tak pernah bermasalah dan cukup  membuat nyaman perjalanan yang nyaris 3,5 jam itu. Gue gak pernah peduli dengan hotel yang akan gue inapi (kecuali soal urusan toilet yang harus BERSIH, ini gak bisa ditawar!) i mean, gue gak akan sungkan untuk mencari hotel dormitory dimana loe akan tidur bersama 4-8 orang traveler yang gak pernah loe kenal sebelumnya, gue juga gak pernah takut untuk menggunakan transportasi umum, termasuk kalau harus nyasar sekalipun, dan gue juga gak pernah ribet soal makanan selagi itu Halal dan bersih.

So, berapa kali gue nyasar di Negara orang untuk perjalanan kali ini? 
BUANYAK KALI. Hahahahaha.....yuk intip keseruannya di laman VLOG gue Me, Friends And The City jangan lupa subscribe yess, karena perjalanan ke Bangkok ini gue bagi menjadi 5 part.


Minggu, 18 Februari 2018

Abrakadabra Art B&B


Jogja istimewa, slogan ini memang pas menurut gue disematkan pada kota yang dahulu kala pernah menjadi Ibu Kota Indonesia untuk beberapa saat. Setiap sudutnya memang istimewa untuk ditelusuri. Menjadi salah satu kota destinasi pelancong lokal dan interlokal, eh...maksud gue International, menjadikan kota ini selalu ramai sepanjang tahun.

Gue jatuh cinta pada kota ini sejak 8 tahun lalu, ketika itu gue kencan buta di kota Gudeg ini, tepat di depan Benteng Vredenburg yang lokasinya persis di depan Istana Presiden di Ujung jalan Malioboro. Sejak itu pula, mengunjungi kota Jogja seperti menjadi rutinitas tahunan gue. Selalu ada dalam agenda trip gue 2-3 kali setahun. 

Anyway, Jogja kembali menjadi pembuka acara jalan-jalan gue di awal tahun 2018. Sebetulnya tujuan gue gak hanya jalan-jalan tok, karena agenda besarnya adalah bekerja sebagai Fashion Stylist di sebuah produksi Music Video dari seorang penyanyi jebolan Indonesian Idol 2014. Dan karena sudah kadung berada di kota kesayangan gue ini, maka gue memutuskan stay selama dua malam lagi untuk kembali menjelajahi Kota Jogja.

Lalu dimana gue tinggal?
Setelah check out dari sebuah hotel di area Babarsari, tempat gue dan crew produksi bermarkas dua malam, gue memutuskan untuk pindah kesebuah hostel di Jl. minggiran. Adalah Abracadbara Art B&B yang kemudian menjadi tempat gue menghabiskan dua malam berikutnya. Hostel ini adalah tempat dimana banyak Backpackers dari seluruh dunia tertuju, Adam lavine salah satunya, juwarakkkkk.





Terdegar unik, terletak disebuah komplek perumahan, dengan bangunan tua yang sudah ada sejak tahun 1950-an, pertama kali menginjakkan kaki didepan pagar bangunan yang sudah disulap menjadi semacam art space ini membuat gue takjub sekaligus merinding asoy, gimana enggak, begitu pagar kayu dibuka, gue disambut sebuah pohon besar di halaman rumah lengkap dengan akar-akar tumbuhan yang menjulur manja dari ranting pohon dan genteng rumah, belum lagi sebuah mural hitam putih dengan objek wajah perempuan berkacamata dengan rambut keritingnya lengkap dengan quotos di tembok "Magic becomes art if has nothing to hide" membuat gue seolah disambut nyonya rumah dengan misteriusnya. But, lupakan sedikit pesona horror di halaman muka rumah, mari masuk ke dalam, dan menikmati interior keceh yang terpampang nyatah. Rumah backpackers ini menyuguhkan perkawinan silang antara ethnic things dengan street art. Yang menarik, ambience tempat ini membuat loe serasa berada dirumah sendiri. Begitu masuk rumah, crew Abracadabra akan meminta loe dengan sopan untuk membuka alas kaki, dan menaruhnya distorage khusus yang mereka siapkan di beranda rumah juga living room. 

Ada 7 kamar yang disiapkan dirumah ini, 5 private room dengan dekorasi berbeda, 1 mix Dormitory room, dan 1 female dormitory room. Harga yang ditawarkan pun, ramah bagi para backpackers low budget. Seriouslly. 200K untuk private room, dan 70K (for 1 person 1 night) untuk Dormitory room yg bisa di huni 8 orang. 

Dormitory room is souds good, maka resmilah gw menasbihkan diri menjadi the trully backpackers, stay dua malam di mix dormitory room dengan teman melancong satu bule asal prancis bernama Nathan, satu pria asal bekasi yang beberapa tahun terakhir tinggal di Bali, lalu 3 backpackers asal banjarmasin. Malam pertama terlewati dengan mulus tanpa hambatan, walau gue baru bisa tidur menjelang pukul 2 pagi karena asyik ngedit materi Vlog gw. Tapi malam kedua, kehidupan di dormitory room terkuak sudah dengan sangat jelasnya. Selain suara dengkur yang saling balapan, Suara kentut yg tiba tiba keluar dari pantat siapa menjadi backsound gue yang di malam kedua tetap asyik editting vlog di kasur berkelambu gue.

Setiap kali stay disatu tempat, pertimbangan paling basic buat gue adalah, kamar mandinya harus bersih. And i got it in Abracadabra, dan gak hanya bersih ada banyak kamar mandi dan toilet disini, so walaupun dihuni banyak orang dijamin loe gak akan rebutan kamar mandi seperti di kos-kos an. Lalu satu hal yang unik, loe sangat diperbolehkan mencoret-coret dinding kamar mandi. Meninggalkan jejak apapun disana untuk mengatakan pada orang-orang bahwa loe pernah mampir dan menginap di tempat ini. Keceh! Gue bahkan meninggakkan jejak di dua toilet berbeda, hahahahahaaa...

Walau rumah ini sudah setua kakek nenek loe, tapi sebetulnya Abracadabra Art B&B baru resmi ada 1.5 tahun lalu. Mas Jali as the owner tell me the truth when i got an interview whit him on the rooftop alias Kamar Loteng yang juga menjadi hidden rooms yang tidak dijual ke publik melalui online dan hanya boleh disewa visitors setelah berkunjung 2-3 kali ke Abracadabra and i was booked them for my next trip Insha Allah.

Hal menarik lainnya adalah, loe diwajibkan untuk menyapa penghuni lain, chit chat manja di area living room yg menyatu dengan kitchen area dan mini pool ditengah bangunan ini, suasananya asri, karena keberadaan tanaman berbagai jenis disini. Bahkan mas jali was told me bahwa konsep bangunan Abracadabra Art B&B diadaptasi dari Taman Sari (tempat pemandian raja ratu dan selir-selirnya),  sehingga loe akan menemukan banyak jenis tanaman disini, mulai dari pohon Markisa di beranda kamar loteng, Bunga Kamboja di deoan kitchen yang juga menyatu dengan mini pool dan yang menarik adalah bunga Air mata pengantin. Hahaha...sekali lagi keceh!!!

Soal makanan, jangan syedih sis, loe bisa menemukan banyak makanan disekitar Abrakadabra, hari pertama, gue mencoba menjajal Ayam Geprek yang direkomendasikan sang Owner, lalu karena konsepnya feels like your own home so, loe boleh masak di dapur yang udah mereka siapkan, tapi jangan lupa untuk bersihin dan cuci kembali semua peralatan makan loe by your self, disini tidak menyiapkan Pembantaian alias pembantu. So you have to treat your self.

Stay buat dua malam di Abracadabra makes me in love and i will be back as soon as possible.

Pengen nginep juga di ABRAKADABRA ART B&B ? 
this is the way you need to go THEIR OFFICIAL INSTAGRAM  or MAP 

PS
My vlog when i stay at Abracadabra Art B&B will be posted at My Youtube Channel As Soon As Possible, you only need to go to the site, and turn on the notification icon, if i uploaded the vlog you will be reminding. 

Senin, 24 Juli 2017

Merasa Turis Di Kampung Halaman Sendiri

Mudik, satu kata yang sangat familir ditelinga terlebih saat Ramadhan nyaris mencapai pucaknya. Tapi sebetulnya pernah gak sih loe coba mencari tau arti kata ini secara khusus?
Sepengetahuan gue, Mudik itu berasal dari kata "Muleh Ndisik" yang merupakan bahasa jawa yang artinya adalah "Pulang dulu". Mungkin karena banyaknya orang-orang Jawa yang merantau ke berbagai daerah di seluruh pelosok Negeri dan akan pulang ke kampung halaman saat Lebaran tiba, menjadikan sepenggal kata ini menjadi kata yang banyak digunakan oleh orang-orang perantauan.

Ngomongin soal mudik, Lebaran kemarin gue menghabiskan 21 Hari di kampung halaman yang berjarak 2262 Km dari Ibu Kota Jakarta. almost a month! Secara Pulang ke Bontang itu adalah moment langka buat gw di tambah ongkos mudiknya bikin kantong kering kerontang, jadi sayang aja kalau pulang kampungnya cuma beberapa hari, MUBAZIR.

Pulang ke Bontang itu, gue selalu mengatasnamakan diri gue ini adalah turis. Karena dengan begini gue akan selalu mencari hal-hal baru di Kota gue ini. Kedengeran rada aneh ya? MEMANG.  Walau ini adalah kampung halaman sendiri, tapi tak mengunjunginya dalam rentan waktu satu sampai dua tahun pasti akan banyak hal yang berubah dan baru. Ditambah sekian tahun hijrah dari kota ini membuat gue kehilangan banyak teman di Kota ini, Nyaris gak punya teman. Jadi untuk membuat 21 hari liburan gue di kampung halaman tetap hangat dan berkesan, maka gw pasti akan blusukan sana sini buat cari-cari hal baru. And you know what? I found it!! sebuah area eksotis berpasir dan gersang nyaris di ujung kota Bontang.


Loe gak akan menemukan langit seindah ini di Jakarta

Pusing mikirin jodoh yang gak kunjung datang

Three Mas Ketar Ketir

Pose wajib!!!

Gersang kek idup gw

Lagi nyari teman jalan yang bisa di gandeng

Lelah

Yang Motoin:
Jordan - Saiy - Bogel


How to go to there:

Dari Jakarta ( Naik pesawat ke Balikpapan ) Dari Balikpapan naik Travel atau bus ke Bontang melewati Samarinda -/+ 6 Jam. Nyampe Bontang istirahat dulu lempengin punggung sama pantat yang panas. lalu setelah itu dari Pusat kota Bontang ke Arah Bontang Lestari ( Area pemerintahan Bontang berpusat) melewati kantor Walikota, lalu Stadion Sepak Bola Bontang kemudian arah Lapas/ Penjara Bontang, nah maju dikit lagi dari Lapas, area ini ada di sebelah kiri. Saran gw kalau mau kesana bawa cemilan dan air minum.








Minggu, 12 Maret 2017

Jogja Istimewa, semakin istimewa di Hutan Pinus Imogiri

Jogja dan Bandung, saat ini pasti menjadi dua kota yang menempati TOP LIST sebagai destinasi wisata dalam negeri yang banyak diburu oleh pelancong Dalam Negeri dan Mancanegra, yah walaupun bukan menjadi kota destinasi liburan Raja Salman dan Pangeran-Pangeran gantengnya yang belakangan bikin pecah semua media di Indonesia, bikin histeris warga Indonesia dan menjadi trading topic di semua sosial media. Kalau kemarin gw sempat plesiran singkat ke The Lodge Maribaya Lembang Bandung yang menjadi destinasi terbilang baru dan sedang Hip di kalangan instagramers, beberapa waktu lalu sebetulnya gw sudah juga menyambangi Hutan Pinus Imogiri di Desa Manguna, Bantul Jogja. Di spot wisata ini suguhan utamanya adalah hamparan hutan pinus yang berdiri jumawa seolah menantang langit. Berada disini akan membawa kita serasa berdiri di tengah-tengah set film Twiligth, duhhhh pengen jadi Manusia Srigala dehhh! Aummmmmmmmm.



Mungkin ada beberapa fakta yang tidak diketahui oleh para penikmat wisata alam yang sudah berkunjung ke hamparan hutan pinus ini. Pertama, bahwa sesungguhnya secara Administratif Hutan Pinus Imogiri itu tidak masuk ke dalam wilayah Imogiri melainkan Kawasan Resort Pengelolaan Hutan Mangunan. Kedua, hamparan hutan pinus Imogiri dulunya bukan tempat heitsss dan merupakan area gersang dan tandus yang kemudian di Reboisasi dengan luas mencapai 500Ha. Ketiga, Hutan Pinus Imogiri berada diatas makam Raja-Raja Imogiri.



Dengan area seluas itu, Hutan Pinus Imogiri menjadi salah satu tempat berphoto yang banyak di buru oleh para juru kamera, dari yg pro beneran sampai yang juga hanya pro membidik moment dengan menggunakan lensa kamera ponsel (Sperti gw!!!!!). Photo disini gak perlu punya keahlian khusus kok, its only about taste dan angel yang tepat, karena semua titiknya sudah cuamikkkkkk bos.




Pose-Pose menanti jodoh

Lalu bagaimana cara mengunjungi tempat ini? silahkan CEK TOKO SEBELAH! (beberapa data juga gw comot di lapak ini)

Senin, 27 Februari 2017

Brothers Date di The Lodge Maribaya Lembang

Bandung itu kalau diibaratkan seperti rupa artis mungkin mirip sama Dian Sastro kali ya, cantik, elok, rupawan, menarik, bikin gemes seperti dedek-dedek gemes yang lagi banyak diburu ama om-om centil haahhahahaha.....

Setelah beberapa tahun ini semua account instagram dijejali dengan berbagai angle photo di Tebing Kraton yang heits itu, baru-baru ini muncul lagi destinasi wisata keceh di Bandung yang letaknya di sekitaran Lembang, The Lodge Maribaya. Katanya, tempat wisata baru ini adalah hasil perkawinan silang antara Kali Biru di Kulon Progo dan Tebing Kraton bandung, jadi untuk membuktikan keabsahannya  maka berangklah gw ke TKP bareng adik bontot gw yang sedang berkunjung ke Jakarta. jadi biasanya kalau gw ngetrip selalu sendirian, maka kali ini judul trip singkatnya adalah Brothers Date!




Brothers Date, Lakik olahraganya Anti Mainstream.
Spot ini berbayar 20ribu per orang. Lumayan bikin Jeper.



Bandung, Di siang hari yang mulai rintik-rintik..........

Kehadiran Ojek dan Mobil online membuat segalanya menjadi sangat mudah, termasuk ketika harus berkunjung ke The Lodge Maribaya dari hotel gw menginap di sekitaran Cimbeleuit, perjalanan seharusnya hanya ditempuh plus minus se-jam-an, tapi karena si AA driver ngikutin jalur yang diarahkan oleh Google Map dan jadi muter-muter maka perjalan yang seharusnya singkat itu malah jadi molor jadi kurang lebih dua jam. Jadi gw sarankan kalau ingin berkunjung ke The Lodge Maribaya akan lebih menghemat waktu kalau loe berangkat dari arah Dago. Lupakan saja si Google Map itu, sungguh gak guna!!!

Lalu apa yang ditawarkan The Lodge Maribaya sehingga gaungnya terdengar kemana-mana dan membuat orang rela datang jauh-jauh ke tempat ini?

Jauh-jauh nyari jodoh ke mari teutep aja gak nemu. ahhh mungkin saja jodoh buat gw belom lahir!


Bangunan ini sepertinya Kafe deh, gw gak sempet turun kesitu. kelamaan antri di spot photo.

Jurus tapak seribu bayangan (bayang-bayang semu, kebanyak di PHP-in).

Klasik sih, tempatnya lagi happening di social media, letaknya di antara lereng perbukitan dengan hamparan pohon pinus macam di film twilligth sungguh membuatnya terlihat seksi dan memanggil untuk dijamah. seperti kebanyakan tempat wisata di Indonesia, memang daya jual tempat ini adalah spot photo yang disediakan oleh pengelola. Dengan hanya membayar 15 ribu rupiah utuk kemudian ditukarkan dengan gelang sebagai tanda masuk loe semua akan disambut ngarai dengan pemandangan pohon pinus dan itu semua loe bisa nikmati dari semacam teras beton campur kekayuan yang sengaja di bangun persisi di depan tangga masuk. Ada 4 spot photo kekinian yng disiapkan oleh panitia untuk mengabadikan moment liburan loe disini. pertama ada sky tree (Persis di Kali Biru, makanya tempat ini dibilang mirip kali biru) lalu ada ayunan yang akan membuat loe merasa melayang-layang diudara karena memang di buat berdiri kokoh diatas jurang, sehingga dari manapun angle photonya loe akan bisa melihat diri loe bermain ayunan di atas pohon pinus, lalu ada semacam seni instalasi bambu serupa Toa dan loe bisa duduk manis di tepiannya untuk kemudian mengabdikan diri loe disana. Dari semua spot yang ada di The Lodge Maribaya, Berspeda diatas bentangan sling kawat dari ketinggian sekitaran 15-20 meter dari permukaan jurang adalah yang paling menantang adrenalin, dan gw pun tak melewatkan kesempatan ini. mungkin gw adalah orang dengan phobia ketinggian berani menantang diri gw untuk bersepeda di spot ini karena pengen di photo dengan kecehnyaaaaaaaaa....



Spot bambu mirip Toa yang berbayar 15K per orang.



Ayunan ini Gratisan, letaknya dekat restoran. Biar hemat eiymmm.


Tapi jangan pikir loe akan bisa photo di ke empat spot ini dengan gratis, karena ini spot berbayar saudara! rangenya mulai dari 15-30ribu rupiah saja per spot PLUS mengantri berjam-jam untuk dapat giliran.  Selain loe bisa mengabadikan semua pose kenarsisan loe dari balik lensa kamera ponsel loe, para photographer proffesional yang di siapkan oleh pengelola juga akan membidik aksi loe, tapiiiiiiii hasil photonya pun tak akan diberikan secara cuma-cuma kawan!!!!! hei ingatlah tak ada yang gratis di dunia ini selain kentut. hahahahaha....

Lagi-lagi spot gratisan, depannya toilet, belakangnya area privte camping.


10 ribu rupiah per photo akan loe bayarkan kepada mereka jika ingin mendapatkan soft coppy photo loe. gak perlu risau tak membawa flash disc karena semua file photo loe akan dikirimkan secara langsung melalui semacam aplikasi berbagi photo yang bisa loe unduh ke ponsel loe. Kalau loe ingin merasakan sensasi yang lebih jauh lagi, loe bisa menginap di area private campnya dengan membayar 1.750.000 per malam  dan loe akan merasakan menginap dalam tenda serupa wujud labu berwarna orange. 








Senin, 20 Februari 2017

Olivers Hostelry, hotel keceh buat Instagramers

Seingat gw, 2 tahun lalu rasanya menjadi kali terakhir gw menginjakkan kaki ke Bandung, tepatnya di pernikahan seorang kawan yang diselenggarakan di Kedai Teko Cimbeluit. Sebuah pernikahan maha minimalis untuk ukuran seorang Fashion Stylist majalah perempuan kenamaan di Jakarta. Akad nikah yang diadakan sore-sore menjelang senja dengan hanya dihadiri oleh teman-teman terdekat dan keluarga inti dari kedua belah pihak membuat pernikahan sore itu terasa jauh lebih khidmat. Dan after wedding party yang kemudian di helat setelah Insya dengan undangan yang lebih super minimalis sekitaran 25 orang saja membuat suasana terasa lebih intimate. 
Dentuman musik kekinian yang dimainkan oleh dua orang Disc Jockey dan belasan botol alkohol sukses membuat sebagian besar undangan jalan sempoyongan dengan berbagai macam gerakan absrud dilantai dansa. Puncaknya manakala sang mempelai wanita sukses tidur di lantai kamar mandi hotel setelah berhasil menghabiskan seekor ayam panggang yang dituanginya dengan sebotol Vodca sembari terus merancau: "Aku gak Mabok tauuuuuuuuu!!!!"

Mulai Tipsy

Wokeh....ngomongin soal hotel di bandung, rasanya bukan perkara sulit jika ingin mencari peyempuan tempat menginap, karena disetiap sudut berjejer berbagai pilhan menginap dengan tawaran harga dari paling murah hingga yang paling fantastis harganya. Tapi untuk kali ini, gw di inapkan di salah satu hotel yang letaknya gak begitu jauh dari arena pernikahan muda-mudi gesrek ini, Olivers Hostelry. Tempatnya memang bukan dipinggir jalan utama Bandung, melainkan menjorok ke dalam, yang menyatu dengan komplek perumahan warga, tapi tetap dapat bersanding dengan harmonisnya. Bangunannya tidak begitu besar, minimalis dengan sentuhan tembok batu bata warna oranye kemerah-merahan. Interior yang di dominasi warna hijau dan kekayuan, membuatnya jumawa sebagai salah satu hotel dengan desain modern architectural. Dengan jumlah kamar yang tidak begitu banyak, membuat hotel yang nge-Art banget ini tetap bisa membuat penghuninya feels like at home, cozy dan tenang. Yang gak kalah penting, Olivers Hostelry menawarkan ambience kamar yang berbeda-beda dan sangat Instagramers banget. Jadi yang demen photo-photo, Olivers adalah pilihan yang sangat tepat buat loe yang sedang dan berencana akan trip-trip cantik ke Bandung, BTW harga yang di tawarkan pun sangat reassonable bgt! dengan 600rb-an permalam kamu bisa merasakan Breakfast di atas kasur, tidak di resto sebagaimana umumnya yang diberikan oleh semua hotel di Indonesia. Tapi kalau loe beruntung, loe akan ngedapatin harga menginap di hotel keceh dan kekinian ini hanya dengan 300 ribu-an sajah. seperti kemarin ketika untuk kali keduanya gw menginap di hotel ini.

Yang kurang cuma temen boboknya
















Rabu, 28 September 2016

Umbul Ponggok, Sah jadi anak kekinian

Klaten, kota kecil berjarak +/- 42,6 KM dari arah Jogja yang bisa di tempuh sekitar 1,5 jam menggunakan sepeda motor, atau dengan merogoh kocek 8000 perak bisa duduk-duduk manis dalam kereta api Paramex melalui Stasiun Tugu maupun Stasiun Lempuyungan. Well, what do you think about this city?

Bagi sebagian besar orang-orang di luar area Jogja, Solo, Semarang dan sekitarnya, Klaten mungkin cukup asing dan sudah bisa di pastikan tidak akan menjadi destinasi liburan bagi orang-orang yang demen jalan-jalan. But, its no longger anymore buddy. Berkat kekuatan Instagram, orang-orang berbondong-bondong mengunjungi kota ini. Apa pasal?

Tak lain dan tak bukan karena keberadaan Umbul Ponggok. Kolam mata air yang bening dengan batu-batu alam di dasarnya lengkap dengan ikan warna-warni yang seliweran sana-sini. Membuat Klaten serta merta populer sebagai salah satu tempat wisata yang kudu disamperin.

But how to visit that spot?
Easy, have take a look this Map!



And then please to use Google maps or Waze with this route.
From Jogja (Prambanan)  --> Jalan raya Yogyakarta-Solo --> Persimpangan depan RSUD Suradji Tirtonegoro lurus saja (lewat kota dan jalannya searah)  --> GOR Gelarsena Klaten --> kiri ke arah Jatinom/ Polanharjo sampai ketemu persimpangan dekat Markas Koramil yang ada di sebelah kiri jalan. Ikuti jalan and finally you arrive there. 


Sejujur-jujurnya rencana trip ke tempat ini nyaris gagal, tapi seorang teman yang sebelumnya menjadi lawan tandem gw mengerjakan sebuah event di Solo berbaik hati untuk menjemput gw tentu saja dengan penyiksaan tiada tara : BANGUN JAM 7 PAGI!!! dengan perjalanan 1,5 jam di bawah rinai hujan yang mulai tumpah satu-satu dari langit. Dengan perut keroncongan karena tak sempat terisi oleh setetes airpun membuat jaket yang membalut tubuh tidak cukup untuk menghangatkan tubuh yang mulai kedinginan. Beruntung disekitar Umbul Ponggok terdapat banyak warung makan yang sebetulnya masih pada tutup karena kami datang kepagian. So, gw saranin: jangan lupa isi full tank perutnya dan tegak T*******N untuk menghangatkan badan selama perjalanan mengingat air dalam kolam mata air ini cukup untuk membuat loe berasa berendem dalam air es.






Umbul Ponggok sebetulnya sudah berubah konsep dari hanya sekedar tempat mandi berjamaah melainkan bertarnsformasi menjadi spot photo yang bisa menasbihkan loe semua memiliki predikat sebagai anak gaul yang kekinian. Jadi, lupakan soal bikini dan kacamata renang. kebakan outfit sekeren mungkin, karena ditempat ini tidak diharamkan untuk nyemplung dengan pakaian lengkap. Lalu jangan terlalu risau jika tidak memilipi peralatan photo khusus underwater, mereka menyediakan banyak props buat photo dan gw cukup menjajal satu props saja setelah sebelumnya snorkling nyaris sejam. Gak nahan dinginnya bray. Jika berminat datang, saran gw gunakan provider photo yg disiapkan umbul ponggok di dalam area, you only need to pay IDR. 60K for one props and you can use it for 30 minutes. Kalau nda bawa gopro, jangan bersedih hati, add cost nya cuma IDR. 100K, tapi siapkan Flash disk atau pastikan gedget loe cukup memiliki space, karena provider tidak menyediakan layanan wifi yang memungkin loe meminta mereka mengirimkan photo-photo itu melalui surel.  Jadi kapan loe mau kesana?

Minggu, 03 Juni 2012

TRILOGY 1/2 Backpacker Part 3 : Jumpalitan-lah hati Gw di jogja

Jogja, trully Java for me, dan jogja selalu punya cara sendiri untuk menyambut wisatawan yang hadir disini. Seperti siang ini, Jogja seolah mengirimkan ucapan selamat datangnya pada gw dan onyet gw melalui teriknya sinar matahari yang membakar siang ini. "Welcome to Jogja wahai pejuang Cinta." Nyaris 8 jam berlalu.... Malam ini gw dan onyet memutuskan untuk menyusuri sepanjang jalan Malioboro menuju arah pasar Bringharjo yang berdekatan dengan benteng Vredenburg yang persis terletak di depan Istana Peristirahatan Presiden. Rasa lapar yang mengedor-gedor dinding lambung gw membuat gw tak begitu memperdulikan rayu-rayu para penarik becak yang selalu menawarkan jasanya untuk menghantarkan kami mengunjungi outlet penjulan kaos Dagadu. Gw: "makan di sana ajah yuk, Nyet." kata gw menunjuk satu lapak penjual makan di emperan pasar Bringharjo yang diikuti pandangan matanya yang segera disertai anggukan kecil tanda menyetujui ajakan gw. Hanya perlu beberapa menit bagi gw dan onyet untuk memilah milih panganan apa yang akan kami santap malam ini, sebelum akhirnya kami duduk berhadap-hadapan dengan beralaskan tikar anyaman. Dan selanjutnya, bisa ditebak. Kami berdua menjadi sasaran empuk para musisi jalanan untuk mengais rezeki. Keadaan itu pun gw pergunakan betul untuk sedikit membuat makan malam ini berkesan. Gw: "Nyet, tolong ambilin kursi plastik itu dong." Pintaku diikuti raut wajahnya yang kebinggungan. Gw: "Duduk, dan silahkan nyanyi buat kami" Musisi jalanan: "Lagu apa mas?" Gw: "Kahitna bisa?" Musisi jalanan: "Kahitna itu apa mas?" ujarnya polos. Gw: "Kahitna itu penjual sayur deket rumah gw" sahut gw disertai tawa. Musisi Jalanan: "Terus lagunya apa nih mas?" Gw: "Terserah loe aja dah." Maka, mengalunlah tiga lagu berturut-turut tanpa jeda : Pemilik Hati by Armada, Embat mata by D'bagindas, dan ditutup manis dengan sebuah lagu dari Armada Buka Hatimu. Gw bisa melihat dengan jelas wajah onyet memerah, ada senyum bahagia disana yang tak bisa lepas dari bibirnya yang terus menerus mengembang seperti bulan sabit yang memakasa untuk menjadi bulan purnama. Onyet: "Makasih buat surprisenya, saya suka kejutan yang dadakan dan gak direncanakan seperti ini." dan hanya gw sambut dengan rasa bahagia yang teramat sangat melalui sebuah senyum kecil. Onyet: "Pengamennya tau bener yah sama apa yang kamu rasain." ujarnya, lalu tawa kami pun membahana lalu hilang bersama keriuhan yang terjadi disepanjang Malioboro. Becak yang kami tumpangi menyusuri jalan remang menuju Alun-alun selatan diiringi celoteh pemilik becak yang terus-terusan bercerita dan kami iyakan dengan tawa kecil. Kawan, bahagia itu tak akan bisa terbeli dengan apapun. seperti malam ini. Lalu, dua beringin besar yang saling berhadapan di alun-alun selatan Jogja menyambut kami, suasana yang masih juga hirup pikuk dimalam yang selarut ini semakin indah dengan kehadiran sepeda2 yang berkerlap-kelip. Ambiance-nya malah seperti sedang berada di pasar malam ketibang di alun-alun sebuah Kraton dengan aura misteriusnya. Sempat kami berjalan kaki mengitari seputaran alun-alun ini dengan saling bercerita sebelum akhirnya kami memutuskan untuk duduk beralaskan rumput tak begitu jauh dari dua pohon beringin yang konon misterius itu. Banyak cerita yang terangkai dan terlontarkan begitu saja, hingga pada akhirnya satu kalimat terlontar dari bibirnya dan membuat gw terdiam seribu bahasa, seolah bulan jatuh tepat di atas kepala gw, seperti anak panah dilontarkan dan persis menancap di ulu hati gw. Onyet: "Kamu tahu dari awal aku sudah gak mau pacaran, kita berteman saja." ujarnya sambil menyalami tanganku yang sudah lemas tak bertulang. Diam..... Diam..... Diam..... dan terus Diam, tak satu katapun bisa terucap dari bibir gw, kelu, bibir gw seolah terpatri dengan paku berkarat, dan tak sanggup mengatakan satu baris katapun, hingga tangis gw benar-benar pecah di kamar hotel ketika jemarinya menyentuh punggung gw. Rasa nelangsa teramat dalam, seolah dibuang mentah-mentah setelah diterbangkan kelangit ketujuh. kedua tangan gw mengepal menahan rasa sakit yang teramat dalam. Inikah ujung dari semua hal yang gw perjuangkan beberapa waktu terakhir? Dunno....... "I have found the paradox, that if you love until it hurts, there can be no more hurt, only more love." (Quotes from Mother Theresa)

Sabtu, 02 Juni 2012

TRILOGY 1/2 Backpacker Part 2 : Romansa kecil di Kota Solo

Harusnya, begitu menginjakkan kaki disini, saat matahri baru saja lepas landas dan memancarkan semburat keemasannya, dan saat burung-burung baru saja mengepakkan sayap kecilnya untuk menari bersama angin pagi, gw langsung mendendangkan lagu "Stasiun Balapan". Tapi... Keinginan itu terpaksa akan terus bersarang di dinding tenggorokan gw saja, sampai saat lain tiba. Karena hari ini gw masuk ke kota asal Didi Kempot ini bukan dari Stasiun Solo Balapan, melainkan melalui pintu lain yang bernama Bandar Udara Adi Sumarmo. "Kamu dimana?" Begitu kira2 BlackBerry message yg gw kirim ke dia, sesaat setelah gw menghempaskan bokong gw di kursi kayu, tepat di depan sebuah kafe kopi di airport yang nyaris sunyi senyap ini. 60 detik berlalu, kemudian detik-detik berikutnya berganti dan berlalu pula. Lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....!!!!!!! "Masih dirumah. Baru bangun" Begitu sekiranya balasan BBM yg gw terima dr dia. Dan itu artinya gw masih harus menunggu lagi hingga 1 jam ke depan. Oh maigot! Kl saja kamu tahu betapa gw cukup gila dan sengsara melewatkan malam selama 9jam 54 menit di Bandara Soekarno Hatta demi bisa mengunjungimu pagi ini, mungkin kamu akan kasihan dengan datang setidaknya 5 menit lebih awal sebelum burung besi yg membawa gw dari Ibu Kota Negara ini dengan rasa takut teramat sangat karena terdoktrin pristiwa yg terjadi di lereng gunung salak beberapa minggu lalu. Entah berapa batang rokok putih yg sudah terbakar dan membuat mulut gw terus mengeluarkan asap mirip gerbong kereta jaman baheulan sampai akhirnya sebaris bbm terpampang dilayar ponsel pintar gw. "Keluar" Aiiissshhhh, rasa kesal karena sudah membuat gw harus menunggu se-jam lalu tergulung seketika manakala melihatmu bertengger di atas kuda besi kesayanganmu lengkap dengan sapaan "Hai". Pagi ini, ketika sinar keemasan sang pemilik siang telah berganti cahaya lembut keperakan, kita membelah kota solo dengan menunggang kuda besimu. Rindu yg nyaris tumpah ruah karena sudah tak tertampung terbayar dgn rasa bahagia yg seketika meluap dr dasar hati, membuat hangat sekujur tubuh yg sebenarnya telah kehabisan energi ini, karena lelah teramat sangat. Tp saat ini seperti ter-charge dengan sendirinya oleh molekul-molekul listrik yang kamu kirim ketika tubuh kita merapat tanpa jarak. Gw tidak perlu menyewa jasa guide untuk berkeliling solo, ada kamu yg setia menghantar ke tempat-tempat yg tidak pernah gw tau sebelumnya. Dr atas tunggangan kita hari ini pula special guide gw sedikit berceritra tentang Solo. Dan sebenarnya gw pun tak meresapi betul apa yg dia sampaikan, gw justru terlena dengan kebersamaan kita di atas kuda besi yg terus melaju hingga terparkir di halaman depan sebuah penginapan sederhana yg sebelumnya sempat gw telusuri di laman Om Gugle yg terkenal itu. Lumayan lah, gw bisa menempati kamar seharga 150rb per-malam dengan fasilitas yg lebih ok dr kamar kos gw. Sebuah ranjang empuk ber-per, Tv Imut yg tergeletak asal di atas meja kayu, Pendingin ruangan, kamar mandi lengkap dengan shower dan ember plastik. Sampai disini gw sensor! Biarlah yg terjadi dalam ruangan kecil ini cuman gw sama tembok kamar yg tau. Dan...... Siang menjelang sore, kembali kuda besimu keluar kandang, dan kembali menjamahi dasar aspal yg masih menampakan fatamorgana bekas teriknya matahari. Tapi sebaris kata yg kamu ucap semoga bukan fatamorgana untuk gw: Onyet: "Kok gak dipeluk?" Yang seketika membuat gw langsung melingkarkan tangan gw ke tubuhmu. Onyet: "Nah, kalau gini kan berasa punya pacar." Cesssssss, kalau saja gw tidak memelukmu saat ini, mungkin gw sudah terbang. Gw: "Aku deh yg bawa motornya" pintaku. Onyet: "Nda, aku ajah! Mau kemana kita? Gw: "Makan." Onyet: "Mau makan apa?" Gw : "Pecel" Onyet : "Ok." Jalan yg kita lalui berputar, dan kamu terus berceloteh, cukup heran mendapatimu bisa secerewet ini. Tidak seperti biasanya yg lebih memilih diam. Dan gw tetap saja tidak konsentrasi pada setiap kalimat yg kamu lontarkan yg menjelaskan ini itu. Gw lebih menikmati kebersamaan kita yg disirami terik pemilik siang. Panassssssss...... Tembang jawa, mengalun dr bale-bale Rumah Pecel yg rupanya kerap menjadi destinasi makan siang para pesohor negeri yg kebetulan atau mungkin memang sengaja datang ke Solo. Rupa-rupa makanan tersaji dalam kuali-kuali yg sungguh menggoyang lidah, gw kesetanan, seperti baru turun dari gunung, melahap semua yg bisa gw lahap. ini judulnya Pemadam Kelaparan, MURAH!!! Berdua dah hanya menghabiskan 53ribu rupiah saja. Entah sudah berapa lagu yg dilantunkan penyanyi diluar Rumah Pecel ini hingga gw dan dia melangkah pergi, kembali menunggang kuda besinya, kembali dibonceng, kembali memeluknya dr belakang, kembali memperkosa aspal menuju pasar klewer. Gw: "Kenapa namanya pasar Klewer?" Onyet : "Itu gara2 baju2 yg digantung para pedang dipasar itu terlihat klewer klewer, ngerti toh maksudnya?" Gw : "Hu-uh." Menyenangkan juga ditemani seorang pacar merangkap guide seperti dia, di pasar ini gw gak perlu bersusah2 memilih kios mana yang akan gw jadikan sebagai tempat melepas hasrat berburu batik. Dia tau betul kios mana yg harus gw masuki dan kios mana yang harus gw hindari. Dan setelah beberapa jam, setelah beberapa plastik hitam berisi batik gw beli, gw dan dia memutuskan angkat kaki dr sana, sebelum isi rekening gw benar2 terkuras habis di pasar itu. Jump to...... Malam tetaplah malam, tak ada yg berbeda, sama-sama gelap, sesekali bertabur bintang, atau disirami sinar bulan. Jadi gak penting malam senin, malam jumat, atau malam minggu. Tapi okelah, biar Liburan cinta (ya tuhan, istilah gw so alay) lebih berasa, kami berdua, gw dan onyet kembali memacu tunggangan kami, menjamahi dan menikmati saturday nite di kota solo. Diawali dengan makan malam di warung Bakso Alex yg termasyur di Solo, lalu menjelajahi area universitas 11 Maret yg luasnya audzubileh. Dan dia seperti layaknya tuan rumah yg baik, menjelaskan, menunjukkan sebagian kecil area tempatnya menimba ilmu. Hemmm....angin malam berdesir-desir berusaha menembus rajutan woll sweter army yg gw kenakan malam ini saat dia memacu tunggangannya menuju pusat kota. Ada keriaan disana kata dia, dan kami memutuskan menghabiskan malam disitu, PASAR MALAM. Kami berkencan di Pasar malam kawan, dengan Lengan gw yg terus bertengger dibahunya tanpa mau peduli mata-mata liar orang lain yang tak sengaja mungkin memperhatikan kami. Kami berbaur dengan pengunjung lain yg tumplek plek di area ini. Malam minggu ini langit memang tak bertabur bintang dan bercahaya bulan, hanya diterangi cahaya tak seberapa terang dr bilik2 pasar malam, tapi kami berdua tetap syahdu menikmati semangkuk kecil Wedang Ronde persis di depan alun2 Kraton Mangkunegaraan.
Makan siang di Rumah Pecel, waktunya pemadam kelaparan beraksi.
Cenil, jajan jaman bopcah.
Saturday nite dinner with Onyet di Bakso Alex yang termashyur di Solo
Entah mengapa gw lebih suka menyantap ini "Surabi" ketibang hamburger.
Berhubung gak begitu demen ama cokelet, jadi gw memilih toping pisang sajah
Pose dulu di simpang empat
pose ganteng di depan kraton Mangkunegaraan.
Menikmati semangkuk wedang ronde, depan alun-alun kraton bersama onyet. PS: Berhubung Onyet merangkap sebagai pacar, guide, photographer jadi sori-sori maap kalau photonya nda akan terpampang dalam postingan ini, hahahahahaha

Selasa, 29 Mei 2012

TRILOGY 1/2 Backpacker Part 1 : Menggembel di Airport

Dari benda pemantul bayangan yang terpatri kokoh di tembok kantor ini, gw bisa melihat dengan jelas wajah gue yang semakin kusut masai. Sambil membenahi posisi dress panjang di tubuh sintal client yang sedang gw fitting siang ini, sesekali pandangan gw beralih ke sana, mencari sedikit bias kebahagiaan. Rasa lelah yang teramat sangat karena tersunatnya waktu istirahat dengan memasang biji-biji payet 12 jam nonstop malam tadi demi bisa menyelesaikan semua pekerjaan gw hari ini, mungkin akan segera terbayar dengan rencana Backpacker-an yang sore ini akan gw jamahi juga. Pukul 4 sore, taxi putih yang gw tumpangi, susah payah mengurai kemacetan Jakarta demi bisa membawa gw selamat hingga ke Stasiun Gambir. Rasa was-was yang sesekali menghinggapi perasaan gw karena ketakutan tak mendapatkan tiket kereta yang akan mengangkut gw hingga merapat di stasiun Solo Balapan terbutki benar saat wajah kacau gw berdiri depan loket dengan ekspresi memelas manakala perempuan penjaga loket menyampaikan informasi itu dengan muka datar. Rasa was-was yang sejak tadi bergelayut dibenak gw seketika berganti rasa cemas tiada tara. Asap rokok yang terus mengebul dari mulut gw yang seketika menjelma bak lokomotif kereta, saling berpacu dengan adrenalin gw mencari cara agar bisa segera berangkat ke Solo hari ini juga. Calo tiket yang biasanyanya bisa menjelma layaknya superhero disaat-saat genting, rupanya senja itu tak dapat diandalkan. Maka pilihan terakhir adalah segera meluncur menuju Airport yang berkilo-kilo meter jaraknya dari Gambir. Nyaris 3 jam gw harus berkutat dengan macet parah yang membuat akses menuju Pintu Indonesia itu nyaris lumpuh total serta rasa geregetan pasca gagal mendapatkan selembar tiket kereta menuju kota asal Didi Kempot itu. DANNNNNNNNNNNNN........lagi-lagi gw gagal mendapatkan selembar tiket penerbangan pun malam ini. Bahkan rasa takut yang harus gw lawan karena pemberitaan kecelakaan joy fligth pesawat Sukoi yang terus menerus diberitakan setiap saat disemua statiun TV tak berguna pun malam ini. Betis gw yang rasanya sudah berkonde karena pegal hilir mudik meyambangi setiap loket airlines berkombinasi apik dengan rasa lapar yang teramat sangat membuat gw semakin lunglai. Rindu pada kekasih yang sudah terlanjur membuncah dan tumpah ruah dari dasar hati terpaksa pula harus ditangguhkan hingga esok hari. Selembar tiket penerbangan paling pertama subuh esok sudah gw gengam dan gw dekap bersama malam yang terus bergulir menyelimuti Bandara Soekarno Hatta. Yah kali ini gw kembali terinfeksi penyakit gila No 64: MENGGEMBEL DI AIRPORT.
Baju yang harus selesai dalam 12 jam
Tidur di Airport
Menunggu boarding dengan muka ngantuk dan belom mandi