Tampilkan postingan dengan label MyTripTergantungSponsor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MyTripTergantungSponsor. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Oktober 2018

Di Bangkok, Ibu pedagang kaki lima nyikat trotoar bekas dia dagang pake sabun.

16 Tahun menetap di Jakarta dan sudah sangat terbiasa dengan kesemrautan yang terjadi dibanyak hal, membuat gue takjub ketika menginjakkan kaki di Bangkok. Serius!!! padahal dari beberapa artikel yang gue baca, kehidupan di Bangkok dan Jakarta itu gak terlalu signifikan perbedaannya, sama-sama kota metropolitan, living costnya juga beda-beda tipis, Banyak pedagang kaki lima juga di pinggir jalan (atau bahasa kecenya street food), 11:12 macetnya apalagi saat jam pulang kantor.

BEDANYA

Masyarakatnya di Negeri Gajah Putih ini taat aturan, sedikit sekali orang yang nyebrang sembarangan (orang-orang di Bangkok terbiasa nyebrang di Zebra Cross atau jembatan penyebrangan), gak ada yang ngerokok semberangan di pinggir jalan (kalaupun ada dipastikan itu adalah spot merokok alias smooking area), gak ada yang buang sampah sembarangan, asli kota ini bersihnya gak ketulungan, nyaris gak ada tempat sampah. Gue sempet ketemu satu moment, ketika habis beli panganan ringan di minimarket depan stasiun BTS (LRT) dan menemukan seorang ibu yang sedang beberes di trotoar bekas dia dagang makanan, mungkin bagian beres-beres mah hal yang sangat lumrah dan wajar, di Jakarta juga bisa liat tiap hari, yang membuat gue benggong adalah ketika setelah merampungkan urusan beres-beres perkakas berdagang, si Ibu nyikat trotoranya pakai sabun! mampus gak loe? sebegitunya mereka menjaga kebersihan, karena mereka sadar bahwa negara mereka adalah salah satu destinasi wisata populer di dunia, dan mereka benar-benar mengaplikasikan pepatah lama "kebersihan adalah pangkal kesehatan" dalam kehidupan sendiri. jadi gak ada tuh ceritanya pedagang kaki lima disana "ninggalin jejek" setelah urusan berdagang mereka kelar. 





Vlog Part 2 di Bangkok

Kamis, 21 Juni 2018

Bangkok untuk kali pertama

Traveling itu PENTING!
sebagian orang mungkin beranggapan bahwa jalan-jalan itu, cuma buang-buang uang, waste of time, bikin capek. Tapi kalau buat gue, jalan-jalan itu sama pentingnya seperti loe makan tiap hari. Come on, dijaman milineal seperti sekarang, apa sih yang gak butuh uang? kencing di toilet mall aja bayar 2000 perak. yah gak sih?

The Grand Palace

Dengan traveling loe bisa belajar banyak hal, melihat dunia baru, menemukan banyak pengalaman seru yang mungkin tidak pernah terfikirkan sebelumnya. Pernah gak kebayang apa yang akan loe lakuin kalau kesasar di Negara orang, dimana bahasa menjadi kendala utama? itu yang terjadi dengan gue beberapa bulan lalu, ketika kali pertama melakukan perjalanan jauh ke negara orang. Bangkok, Thailand! menjadi Negara pertama yang gue kunjungi, yah, awal mei 2018 lalu akhirnya untuk kali pertama gue melakukan itu. Sebuah perjalanan dadakan (seperti biasa!) tapi  kali ini tentu dengan itinarary cukup matang. Tidak seperti jika gue melakukan sebuah perjalanan di dalam Negeri yang gak pernah peduli dengan sederet itinarary. Jangankan bikin rencana perjalanan, untuk tempat menginap aja biasanya gue baru akan hunting ketika sudah sampai ke tempat tujuan, tapi kali ini tidak mungkin. Mengingat ini kunjungan pertama ke Negara orang, walhasil beberapa hari sebelum perjalanan penting ini, gue sudah bolak-balik pantengin vlog dan blog orang-orang dan mengobrak abrik lamam google demi menemukan lokasi-lokasi kece untuk kunjungan perdana ini. Termasuk mencari tahu bagaimana cara menggunakan public transportation di negara itu. Hei, ini adalah perjalanan 1/2 Backpackers gue, dimana pengeluaran sekecil apapun harus diperhitungkan jika tak ingin jadi gembel di Negara orang. 

BTW, kenapa ini merupakan perjalanan 1/2 Backpackers?
yess, karena gue gak mungkin mengklaim ini sepenuhnya sebagai perjalanan Backpackers. Biasanya seorang yang menasbihkan diri sebagai backpackers seutuhnya akan mencari semua hal serba murah dan terjangkau untuk perjalannannya, mulai dari transpotasi dan akomodasi hingga apa yang akan dia makan. Nah, gue? termasuk orang yang cukup picky soal armada penerbangan, bukan mau sok iye, tapi gue termasuk ke dalam golongan traveler yang sangat takut terbang, sehingga gw harus mencari maskapai penerbangan yang tak pernah bermasalah dan cukup  membuat nyaman perjalanan yang nyaris 3,5 jam itu. Gue gak pernah peduli dengan hotel yang akan gue inapi (kecuali soal urusan toilet yang harus BERSIH, ini gak bisa ditawar!) i mean, gue gak akan sungkan untuk mencari hotel dormitory dimana loe akan tidur bersama 4-8 orang traveler yang gak pernah loe kenal sebelumnya, gue juga gak pernah takut untuk menggunakan transportasi umum, termasuk kalau harus nyasar sekalipun, dan gue juga gak pernah ribet soal makanan selagi itu Halal dan bersih.

So, berapa kali gue nyasar di Negara orang untuk perjalanan kali ini? 
BUANYAK KALI. Hahahahaha.....yuk intip keseruannya di laman VLOG gue Me, Friends And The City jangan lupa subscribe yess, karena perjalanan ke Bangkok ini gue bagi menjadi 5 part.


Minggu, 18 Februari 2018

Abrakadabra Art B&B


Jogja istimewa, slogan ini memang pas menurut gue disematkan pada kota yang dahulu kala pernah menjadi Ibu Kota Indonesia untuk beberapa saat. Setiap sudutnya memang istimewa untuk ditelusuri. Menjadi salah satu kota destinasi pelancong lokal dan interlokal, eh...maksud gue International, menjadikan kota ini selalu ramai sepanjang tahun.

Gue jatuh cinta pada kota ini sejak 8 tahun lalu, ketika itu gue kencan buta di kota Gudeg ini, tepat di depan Benteng Vredenburg yang lokasinya persis di depan Istana Presiden di Ujung jalan Malioboro. Sejak itu pula, mengunjungi kota Jogja seperti menjadi rutinitas tahunan gue. Selalu ada dalam agenda trip gue 2-3 kali setahun. 

Anyway, Jogja kembali menjadi pembuka acara jalan-jalan gue di awal tahun 2018. Sebetulnya tujuan gue gak hanya jalan-jalan tok, karena agenda besarnya adalah bekerja sebagai Fashion Stylist di sebuah produksi Music Video dari seorang penyanyi jebolan Indonesian Idol 2014. Dan karena sudah kadung berada di kota kesayangan gue ini, maka gue memutuskan stay selama dua malam lagi untuk kembali menjelajahi Kota Jogja.

Lalu dimana gue tinggal?
Setelah check out dari sebuah hotel di area Babarsari, tempat gue dan crew produksi bermarkas dua malam, gue memutuskan untuk pindah kesebuah hostel di Jl. minggiran. Adalah Abracadbara Art B&B yang kemudian menjadi tempat gue menghabiskan dua malam berikutnya. Hostel ini adalah tempat dimana banyak Backpackers dari seluruh dunia tertuju, Adam lavine salah satunya, juwarakkkkk.





Terdegar unik, terletak disebuah komplek perumahan, dengan bangunan tua yang sudah ada sejak tahun 1950-an, pertama kali menginjakkan kaki didepan pagar bangunan yang sudah disulap menjadi semacam art space ini membuat gue takjub sekaligus merinding asoy, gimana enggak, begitu pagar kayu dibuka, gue disambut sebuah pohon besar di halaman rumah lengkap dengan akar-akar tumbuhan yang menjulur manja dari ranting pohon dan genteng rumah, belum lagi sebuah mural hitam putih dengan objek wajah perempuan berkacamata dengan rambut keritingnya lengkap dengan quotos di tembok "Magic becomes art if has nothing to hide" membuat gue seolah disambut nyonya rumah dengan misteriusnya. But, lupakan sedikit pesona horror di halaman muka rumah, mari masuk ke dalam, dan menikmati interior keceh yang terpampang nyatah. Rumah backpackers ini menyuguhkan perkawinan silang antara ethnic things dengan street art. Yang menarik, ambience tempat ini membuat loe serasa berada dirumah sendiri. Begitu masuk rumah, crew Abracadabra akan meminta loe dengan sopan untuk membuka alas kaki, dan menaruhnya distorage khusus yang mereka siapkan di beranda rumah juga living room. 

Ada 7 kamar yang disiapkan dirumah ini, 5 private room dengan dekorasi berbeda, 1 mix Dormitory room, dan 1 female dormitory room. Harga yang ditawarkan pun, ramah bagi para backpackers low budget. Seriouslly. 200K untuk private room, dan 70K (for 1 person 1 night) untuk Dormitory room yg bisa di huni 8 orang. 

Dormitory room is souds good, maka resmilah gw menasbihkan diri menjadi the trully backpackers, stay dua malam di mix dormitory room dengan teman melancong satu bule asal prancis bernama Nathan, satu pria asal bekasi yang beberapa tahun terakhir tinggal di Bali, lalu 3 backpackers asal banjarmasin. Malam pertama terlewati dengan mulus tanpa hambatan, walau gue baru bisa tidur menjelang pukul 2 pagi karena asyik ngedit materi Vlog gw. Tapi malam kedua, kehidupan di dormitory room terkuak sudah dengan sangat jelasnya. Selain suara dengkur yang saling balapan, Suara kentut yg tiba tiba keluar dari pantat siapa menjadi backsound gue yang di malam kedua tetap asyik editting vlog di kasur berkelambu gue.

Setiap kali stay disatu tempat, pertimbangan paling basic buat gue adalah, kamar mandinya harus bersih. And i got it in Abracadabra, dan gak hanya bersih ada banyak kamar mandi dan toilet disini, so walaupun dihuni banyak orang dijamin loe gak akan rebutan kamar mandi seperti di kos-kos an. Lalu satu hal yang unik, loe sangat diperbolehkan mencoret-coret dinding kamar mandi. Meninggalkan jejak apapun disana untuk mengatakan pada orang-orang bahwa loe pernah mampir dan menginap di tempat ini. Keceh! Gue bahkan meninggakkan jejak di dua toilet berbeda, hahahahahaaa...

Walau rumah ini sudah setua kakek nenek loe, tapi sebetulnya Abracadabra Art B&B baru resmi ada 1.5 tahun lalu. Mas Jali as the owner tell me the truth when i got an interview whit him on the rooftop alias Kamar Loteng yang juga menjadi hidden rooms yang tidak dijual ke publik melalui online dan hanya boleh disewa visitors setelah berkunjung 2-3 kali ke Abracadabra and i was booked them for my next trip Insha Allah.

Hal menarik lainnya adalah, loe diwajibkan untuk menyapa penghuni lain, chit chat manja di area living room yg menyatu dengan kitchen area dan mini pool ditengah bangunan ini, suasananya asri, karena keberadaan tanaman berbagai jenis disini. Bahkan mas jali was told me bahwa konsep bangunan Abracadabra Art B&B diadaptasi dari Taman Sari (tempat pemandian raja ratu dan selir-selirnya),  sehingga loe akan menemukan banyak jenis tanaman disini, mulai dari pohon Markisa di beranda kamar loteng, Bunga Kamboja di deoan kitchen yang juga menyatu dengan mini pool dan yang menarik adalah bunga Air mata pengantin. Hahaha...sekali lagi keceh!!!

Soal makanan, jangan syedih sis, loe bisa menemukan banyak makanan disekitar Abrakadabra, hari pertama, gue mencoba menjajal Ayam Geprek yang direkomendasikan sang Owner, lalu karena konsepnya feels like your own home so, loe boleh masak di dapur yang udah mereka siapkan, tapi jangan lupa untuk bersihin dan cuci kembali semua peralatan makan loe by your self, disini tidak menyiapkan Pembantaian alias pembantu. So you have to treat your self.

Stay buat dua malam di Abracadabra makes me in love and i will be back as soon as possible.

Pengen nginep juga di ABRAKADABRA ART B&B ? 
this is the way you need to go THEIR OFFICIAL INSTAGRAM  or MAP 

PS
My vlog when i stay at Abracadabra Art B&B will be posted at My Youtube Channel As Soon As Possible, you only need to go to the site, and turn on the notification icon, if i uploaded the vlog you will be reminding. 

Selasa, 27 Juni 2017

Mudik, Lebaran dan pertanyaan HORROR

Ramadhan 1438H /2017 Masehi berlalu dengan cepat. Dulu, saat masih kecil. Puasa dibulan Ramadhan itu ibarat penyiksaan, karena harus menahan lapar dan haus sepanjang hari. Dari Imsyak ke Maghrib rasanya laaaaamaaaaaaa banget. Jadi terpaksa nyolong icip-icip makanan sisa sahur pas Mama atau Bapak lagi lengah. Biar kuat puasa sampai sore, Hahahaha *pengakuan dosa*. Jadi kalau puasa sehari aja rasa sungguh menyiksa, maka menunggu lebaran tiba sering kali membuat putus asa. Tapi itu dulu, dan rasanya semua anak usia under 10 yo mengalami hal yang sama. Lain cerita diusia matang seperti sekarang, rasanya puasa baru mulai ehhhh...tau-tau sudah tiba di penghujung Ramadhan. Dan itu artinya waktu mudik ke kampung halaman pun sudah diujung mata. 
Ramadhan tahun ini penuh berkah, pekerjaan tak berhenti, justru kian bertambah diminggu terakhir jelang ramadhan dan artinya tahun ini benar-benar bisa mudik setelah tahun lalu ngerasain lebaran di Jakarta sorang diri, gak bisa kemana-mana juga karena sebagian teman pasti mudik dan tarif mobil online mendadak naik berpuluh puluh kali lipat dr harga normal, gak bisa makan buras dan ayam bumbu lengkuas karena gak ada yg masak dan gak ngerti cara masaknya selain mama, gak bisa pake baju koko kembaran sama saudara dan Bapak, walhasil cuma mewek sendirian, dan baru bisa makan setelah mall buka jam 12 siang.
P.E.D.I.H

Seperti yg gw bilang, di minggu terakhir semakin banyak pekerjaan yg harus gw selesaikan demi mengumpulkan rupiah demi rupiah buat ongkos mudik, seragam lebaran keluarga baru bisa gw kerjakan -9 jam sebelum mudik dan belum benar-benar rampung saat jarum jam sudah tepat berada diangka 3 dini hari. Dan hanya punya waktu -/+ 30 menit untuk packing dan segera meluncur ke bandara.

Nyaris ditinggal pesawat karena proses check in yg mengular

2 jam snewen di pesawat karena cuaca gak begitu bagus.

Mati gaya di mobil yg harus menempuh 6-7 jam perjalanan Balikpapan - Bontang

Nyempetin photo-photo keceh di Jembatan Mahakam Samarinda, lumayan mulihin pantat yg keram.

Dan ceritanya lagi mau mengejar sunset di tanjakan tersohor seantero kaltim. Disebut Gunung menangis dan diatas gw sana sedang terjadi kecelakan hebat, sebuah mobil menabrak pembatas jalan mobilnya tertancap si besi baja pembatas jalan

I took 15 hours to travel 1412 miles from Jakarta to Bontang (East Borneo). Pantat dan punggung berasa panas ditambah isi perut yang teraduk-aduk karena kondisi jalan raya Samarinda Bontang yg sebagaian besar kacau balau. 

Eid Mubarak Al Fitr 1438H

The Usman's squad wearing Koji

Buat gw pribadi lebaran itu mengandung dua unsur: SENANG & HOROR. Seneng karena bisa sholat eid bareng keluarga, makan panganan khas lebaran yg dibuat setahun sekali, dan bisa pake baju kembaran sama keluarga. Horror karena akan dihadapkan pada pertanyaan keramat saat silaturahim bersama keluarga: KAPAN KAWIN? mereka-mereka itu pada gak bosan mengulang pertanyaan yg sama ya setiap tahun kalau ketemu gw? Kan gak mungkin juga gw jawab GW DAH MAHIR KAWIN, Gak mungkin kaaaaaaan? Alemong berakhir ditiang bendera gw.

Minggu, 12 Maret 2017

Jogja Istimewa, semakin istimewa di Hutan Pinus Imogiri

Jogja dan Bandung, saat ini pasti menjadi dua kota yang menempati TOP LIST sebagai destinasi wisata dalam negeri yang banyak diburu oleh pelancong Dalam Negeri dan Mancanegra, yah walaupun bukan menjadi kota destinasi liburan Raja Salman dan Pangeran-Pangeran gantengnya yang belakangan bikin pecah semua media di Indonesia, bikin histeris warga Indonesia dan menjadi trading topic di semua sosial media. Kalau kemarin gw sempat plesiran singkat ke The Lodge Maribaya Lembang Bandung yang menjadi destinasi terbilang baru dan sedang Hip di kalangan instagramers, beberapa waktu lalu sebetulnya gw sudah juga menyambangi Hutan Pinus Imogiri di Desa Manguna, Bantul Jogja. Di spot wisata ini suguhan utamanya adalah hamparan hutan pinus yang berdiri jumawa seolah menantang langit. Berada disini akan membawa kita serasa berdiri di tengah-tengah set film Twiligth, duhhhh pengen jadi Manusia Srigala dehhh! Aummmmmmmmm.



Mungkin ada beberapa fakta yang tidak diketahui oleh para penikmat wisata alam yang sudah berkunjung ke hamparan hutan pinus ini. Pertama, bahwa sesungguhnya secara Administratif Hutan Pinus Imogiri itu tidak masuk ke dalam wilayah Imogiri melainkan Kawasan Resort Pengelolaan Hutan Mangunan. Kedua, hamparan hutan pinus Imogiri dulunya bukan tempat heitsss dan merupakan area gersang dan tandus yang kemudian di Reboisasi dengan luas mencapai 500Ha. Ketiga, Hutan Pinus Imogiri berada diatas makam Raja-Raja Imogiri.



Dengan area seluas itu, Hutan Pinus Imogiri menjadi salah satu tempat berphoto yang banyak di buru oleh para juru kamera, dari yg pro beneran sampai yang juga hanya pro membidik moment dengan menggunakan lensa kamera ponsel (Sperti gw!!!!!). Photo disini gak perlu punya keahlian khusus kok, its only about taste dan angel yang tepat, karena semua titiknya sudah cuamikkkkkk bos.




Pose-Pose menanti jodoh

Lalu bagaimana cara mengunjungi tempat ini? silahkan CEK TOKO SEBELAH! (beberapa data juga gw comot di lapak ini)

Senin, 27 Februari 2017

Brothers Date di The Lodge Maribaya Lembang

Bandung itu kalau diibaratkan seperti rupa artis mungkin mirip sama Dian Sastro kali ya, cantik, elok, rupawan, menarik, bikin gemes seperti dedek-dedek gemes yang lagi banyak diburu ama om-om centil haahhahahaha.....

Setelah beberapa tahun ini semua account instagram dijejali dengan berbagai angle photo di Tebing Kraton yang heits itu, baru-baru ini muncul lagi destinasi wisata keceh di Bandung yang letaknya di sekitaran Lembang, The Lodge Maribaya. Katanya, tempat wisata baru ini adalah hasil perkawinan silang antara Kali Biru di Kulon Progo dan Tebing Kraton bandung, jadi untuk membuktikan keabsahannya  maka berangklah gw ke TKP bareng adik bontot gw yang sedang berkunjung ke Jakarta. jadi biasanya kalau gw ngetrip selalu sendirian, maka kali ini judul trip singkatnya adalah Brothers Date!




Brothers Date, Lakik olahraganya Anti Mainstream.
Spot ini berbayar 20ribu per orang. Lumayan bikin Jeper.



Bandung, Di siang hari yang mulai rintik-rintik..........

Kehadiran Ojek dan Mobil online membuat segalanya menjadi sangat mudah, termasuk ketika harus berkunjung ke The Lodge Maribaya dari hotel gw menginap di sekitaran Cimbeleuit, perjalanan seharusnya hanya ditempuh plus minus se-jam-an, tapi karena si AA driver ngikutin jalur yang diarahkan oleh Google Map dan jadi muter-muter maka perjalan yang seharusnya singkat itu malah jadi molor jadi kurang lebih dua jam. Jadi gw sarankan kalau ingin berkunjung ke The Lodge Maribaya akan lebih menghemat waktu kalau loe berangkat dari arah Dago. Lupakan saja si Google Map itu, sungguh gak guna!!!

Lalu apa yang ditawarkan The Lodge Maribaya sehingga gaungnya terdengar kemana-mana dan membuat orang rela datang jauh-jauh ke tempat ini?

Jauh-jauh nyari jodoh ke mari teutep aja gak nemu. ahhh mungkin saja jodoh buat gw belom lahir!


Bangunan ini sepertinya Kafe deh, gw gak sempet turun kesitu. kelamaan antri di spot photo.

Jurus tapak seribu bayangan (bayang-bayang semu, kebanyak di PHP-in).

Klasik sih, tempatnya lagi happening di social media, letaknya di antara lereng perbukitan dengan hamparan pohon pinus macam di film twilligth sungguh membuatnya terlihat seksi dan memanggil untuk dijamah. seperti kebanyakan tempat wisata di Indonesia, memang daya jual tempat ini adalah spot photo yang disediakan oleh pengelola. Dengan hanya membayar 15 ribu rupiah utuk kemudian ditukarkan dengan gelang sebagai tanda masuk loe semua akan disambut ngarai dengan pemandangan pohon pinus dan itu semua loe bisa nikmati dari semacam teras beton campur kekayuan yang sengaja di bangun persisi di depan tangga masuk. Ada 4 spot photo kekinian yng disiapkan oleh panitia untuk mengabadikan moment liburan loe disini. pertama ada sky tree (Persis di Kali Biru, makanya tempat ini dibilang mirip kali biru) lalu ada ayunan yang akan membuat loe merasa melayang-layang diudara karena memang di buat berdiri kokoh diatas jurang, sehingga dari manapun angle photonya loe akan bisa melihat diri loe bermain ayunan di atas pohon pinus, lalu ada semacam seni instalasi bambu serupa Toa dan loe bisa duduk manis di tepiannya untuk kemudian mengabdikan diri loe disana. Dari semua spot yang ada di The Lodge Maribaya, Berspeda diatas bentangan sling kawat dari ketinggian sekitaran 15-20 meter dari permukaan jurang adalah yang paling menantang adrenalin, dan gw pun tak melewatkan kesempatan ini. mungkin gw adalah orang dengan phobia ketinggian berani menantang diri gw untuk bersepeda di spot ini karena pengen di photo dengan kecehnyaaaaaaaaa....



Spot bambu mirip Toa yang berbayar 15K per orang.



Ayunan ini Gratisan, letaknya dekat restoran. Biar hemat eiymmm.


Tapi jangan pikir loe akan bisa photo di ke empat spot ini dengan gratis, karena ini spot berbayar saudara! rangenya mulai dari 15-30ribu rupiah saja per spot PLUS mengantri berjam-jam untuk dapat giliran.  Selain loe bisa mengabadikan semua pose kenarsisan loe dari balik lensa kamera ponsel loe, para photographer proffesional yang di siapkan oleh pengelola juga akan membidik aksi loe, tapiiiiiiii hasil photonya pun tak akan diberikan secara cuma-cuma kawan!!!!! hei ingatlah tak ada yang gratis di dunia ini selain kentut. hahahahaha....

Lagi-lagi spot gratisan, depannya toilet, belakangnya area privte camping.


10 ribu rupiah per photo akan loe bayarkan kepada mereka jika ingin mendapatkan soft coppy photo loe. gak perlu risau tak membawa flash disc karena semua file photo loe akan dikirimkan secara langsung melalui semacam aplikasi berbagi photo yang bisa loe unduh ke ponsel loe. Kalau loe ingin merasakan sensasi yang lebih jauh lagi, loe bisa menginap di area private campnya dengan membayar 1.750.000 per malam  dan loe akan merasakan menginap dalam tenda serupa wujud labu berwarna orange. 








Senin, 20 Februari 2017

Olivers Hostelry, hotel keceh buat Instagramers

Seingat gw, 2 tahun lalu rasanya menjadi kali terakhir gw menginjakkan kaki ke Bandung, tepatnya di pernikahan seorang kawan yang diselenggarakan di Kedai Teko Cimbeluit. Sebuah pernikahan maha minimalis untuk ukuran seorang Fashion Stylist majalah perempuan kenamaan di Jakarta. Akad nikah yang diadakan sore-sore menjelang senja dengan hanya dihadiri oleh teman-teman terdekat dan keluarga inti dari kedua belah pihak membuat pernikahan sore itu terasa jauh lebih khidmat. Dan after wedding party yang kemudian di helat setelah Insya dengan undangan yang lebih super minimalis sekitaran 25 orang saja membuat suasana terasa lebih intimate. 
Dentuman musik kekinian yang dimainkan oleh dua orang Disc Jockey dan belasan botol alkohol sukses membuat sebagian besar undangan jalan sempoyongan dengan berbagai macam gerakan absrud dilantai dansa. Puncaknya manakala sang mempelai wanita sukses tidur di lantai kamar mandi hotel setelah berhasil menghabiskan seekor ayam panggang yang dituanginya dengan sebotol Vodca sembari terus merancau: "Aku gak Mabok tauuuuuuuuu!!!!"

Mulai Tipsy

Wokeh....ngomongin soal hotel di bandung, rasanya bukan perkara sulit jika ingin mencari peyempuan tempat menginap, karena disetiap sudut berjejer berbagai pilhan menginap dengan tawaran harga dari paling murah hingga yang paling fantastis harganya. Tapi untuk kali ini, gw di inapkan di salah satu hotel yang letaknya gak begitu jauh dari arena pernikahan muda-mudi gesrek ini, Olivers Hostelry. Tempatnya memang bukan dipinggir jalan utama Bandung, melainkan menjorok ke dalam, yang menyatu dengan komplek perumahan warga, tapi tetap dapat bersanding dengan harmonisnya. Bangunannya tidak begitu besar, minimalis dengan sentuhan tembok batu bata warna oranye kemerah-merahan. Interior yang di dominasi warna hijau dan kekayuan, membuatnya jumawa sebagai salah satu hotel dengan desain modern architectural. Dengan jumlah kamar yang tidak begitu banyak, membuat hotel yang nge-Art banget ini tetap bisa membuat penghuninya feels like at home, cozy dan tenang. Yang gak kalah penting, Olivers Hostelry menawarkan ambience kamar yang berbeda-beda dan sangat Instagramers banget. Jadi yang demen photo-photo, Olivers adalah pilihan yang sangat tepat buat loe yang sedang dan berencana akan trip-trip cantik ke Bandung, BTW harga yang di tawarkan pun sangat reassonable bgt! dengan 600rb-an permalam kamu bisa merasakan Breakfast di atas kasur, tidak di resto sebagaimana umumnya yang diberikan oleh semua hotel di Indonesia. Tapi kalau loe beruntung, loe akan ngedapatin harga menginap di hotel keceh dan kekinian ini hanya dengan 300 ribu-an sajah. seperti kemarin ketika untuk kali keduanya gw menginap di hotel ini.

Yang kurang cuma temen boboknya
















Jumat, 20 Januari 2017

Pempek, Pasar Traditional dan Sungai Musi

Ini bukan kali pertama buat gw menyantap Pempek, tapi memakan kudapan yg salah satu ingrediannya adalah Ikan Gabus di kota asalanya, merupakan perkara baru buat gw. So, mari lupakan keriwehan pelayan restoran Pempek Pak Raden, kita cuss bergerak ke salah satu pasar traditional di Palembang yg menjadi spot event promo sampling shampoo yang akan kita liput untuk keperluan Digital Media promo mereka. 

Seperti pada umumnya, pasar-pasar traditional di seantero Indonesia, ambience pasar traditional yah kalau gak buecek, bau yah crowded! Dan pagi ini setelah matahari semakin naik dengan sinarnya yg menyegat ditambah suara klakson angkot yang mangkal di pelataran pasar ditambah pengunjung yang lalu lalang dengan pelbagai tentengan ditangannya membuat suasana jadi semakin sempurna, sempurna bikin keliyengan! Hahahahaa. 

Crew kami sudah mulai mengeluarkan peralatan tempur, Sutradara gw lirik-lirik angel, Producer gw ngobrol santai dengan mas-mas PIC event ini, dan gw sibukkkkkkkkk menonton semua keriwehan itu. Hahahaha. 

Gw: "Langsung shooting banget ini?"
Sutradara: "Yoiiiiii!!!! Mumpung ligthing alamnya lagi bagus."
Gw: "Lahhhhhh....bukannya tadi kemari cuma buat survey lokasi?" 
Sutradara: "Lupakannnnn!"

Jadi, sementara mereka sibuk ambil gambar dari berbagai angle, gw melarikan diri berteduh dibelakang mobil box yang sedang parkir bongkar muat berdus-dus rokok kretek. 
Abang2 distributor rokok: "Syuting film ya bang?"
Gw: "Bukan, cuma dokumentasi event."
Abang2 distributor rokok: "Dari Jakarta ya?"
Gw: "Iya."
Abang2 Distributor Rokok: "Nginep dimana bang?"
Gw: "Dihotel R**Planet
Abang2 Distributor: "Tar malam kalau mau cewek buat temen bobok tlp gw aja bang."
Gw: KEMUDIAN NOLEH KE SI ABANG2 DAN BENGGONG. "Situ distributor rokok atau Mucikari bang?"
Abang2 distributor rokok: NGAKAK. 

Pengambilan stock shoot hari pertama berlangsung hanya beberapa jam, gw, Sutradara, producer dan crew sudah meleleh karena teriknya matahari siang ini. Dan lumayanlah hari ini gw gak didapuk jadi pemeran figuran seperti biasanya, yg artinya gw terbebas dari menggunakan Wig rambut panjang yg pasti gatal dan bikin gerah. 

Oke, Next Destination.....




Matahari sudah sedikit lebih ramah, si Raja siang sudah mulai tergelincir ke Barat, angin sore sudah mulai sepoi-sepoi dengan bau yang lumayan absrud! Bagaimana tidak kami sudah berada di tepian Sungai Musi yg tersohor itu. Dan dari sini kami ber-enam bisa menikmati jembatan Ampera dengan cat merah menyala berdiri kokoh menyatukan dua area yg terbelah oleh Sungai Musi. 

Dari obrolan-obrolan ringan gw dengan salah satu Kapten (Driver), gw akhirnya tahu bahwa jembatan ini rampung dibangun tahun 1960-an. Dulu masyarakat Palembang menamai Jembatan ini dengan nama JEMBATAN PROYEK, dan di puncak jembatan jaman dahulu difungsikan sebagai kantor pemerintahan, keceh!!!! 


Dari dua ruang kosong berdinding kaca transparan di kedua puncak jembatan Ampera, Perhatian gw kemudian beralih pada seonggok kapal kayu yg tengah berayun-ayun diatas permukaan keruhnya sungai Musi, ABKnya tengah sibuk menarik-natik selang dengan diameter se-betis kaki pria dewasa. 

Gw: "Itu mereka ngapain? Nyari ikan gabus buat pempek?"
Kapten: "Nyari harta karun?"
Gw: "Huahahahahahhaa, nyari harta karun kok di sungai yg butek."
Kapten: "Lah serius mas, itu orangnya nyelam. Pakai compresor."
Gw: "ORANG GILA!"
Kapten: "Didasar sungai itu banyak harta karun jaman penjajahan belanda, dan itu mereka bisa nemu harta karun ini nilainya Miliaran loh."
Gw: ANTARA TAKJUB DAN GAK PERCAYA. 


To be continue again.......

Selasa, 17 Januari 2017

Makan Pekmpek di Pelembang

My producer: "Fei weekend ini sibuk?"
Gw: "Mayan, mau syuting dimana kita?"
My producer: "Palembang."
Gw: "Berangkat kakaaaaaaaaaak

This is i named "My Trip Tergantung Sponsor" kerja, jalan-jalan dan dibayar. How lucky me!

Diantara padatnya jadwal jahit menjahit untuk keperluan pop up market yang mulai rutin per minggu jadwalnya, dan kerjaan sebagai stylist untuk keperluan shooting video digital seperti ini yang datangnya suka tiba-tiba pun tak boleh gw lewatkan. Walau pada akhirnya jam kerjanya jadi makin kejar-kejaran, but its oke, ini namanya rejeki, dan rejeki gak boleh ditolak, tar Tuhan marah! Dan kalau Tuhan sudah marah, rejekinya bisa seret. Dan itu artinya gak punya duit, dan kehidupan sudah pasti akan ojlak ajluk macam naik sepeda dijalanan berlubang. Remfongggg! 

Singkat kata, setelah menpersiapkan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya bermacam-macam wardrobe untuk keperluan video dokumenter sebuah brand shampo yg sangat terkenal ini berangkatlah team kecil kami menuju bumi Sriwijaya. First flight pukul 05.45 pagi mengharuskan kami stand by di airport jam 3 pagi, dan itu artinya gw gak tidur lagi kawan! Sehingga penerbangan yang cuma 1 jam 10 menit itu rasanyaaaaaaaaaaa ttp bikin gw spaning!



Menginjakan kaki untuk kali pertama di bumi Sriwijaya, hal pertama yg terlintas di kepala adalah: MAKAAAAAAAN!!!! Sumpah gw sudah gak bisa menahan rasa lapar, dan satu hal yg dibutuhkan dipagi hari nan cerah ini adalah mencari PEMADAM KELAPARAN. 



08.00 pagi hari rupanya masih sulit mencari panganan dikota ini, rata-ratanya  pemilik warung makan masih sedang bersiap-siap untuk membuka lapak mereka, walhasil warung Pekmpek Pak Raden (yang punya cabang di Radio dalam) menjadi sasaran kami pagi ini. 
Gw tuh paling gak bisa liat rupa-rupa Jajanan Pasar yang terpajang di etalase, bawaannya pengen icip-icip semua, ditambah memang lagi sangat kelaparan pagi ini, sehingga semua yg terlihat pengen dikunyah, termasuk embak-embak pelayan yg mengharuskan semua  costumer duduk manis dulu di meja baru boleh pesan makanannya. Gag boleh langsung comot sis!

Mbak2 pelayan: "Sudah mau pesan?"
Gw: "Pekmpek kapal selam"
Mbak2 pelayan: "Mau langsung digoreng atau disajikan?"
Gw: "HUHHHH? bedanya naon mbuak?!
Kapten (driver travel, kami menyebutnya Kapten) : "Mas, kalau disini mesen yg sudah digoreng artinya sudah pasti dimakan, kalau disajikan, pekmpeknya belom di goreng, masih mentah gitu."
Gw: "Repot amat ye idupnye!"
My producer: "Gini deh, pesenan loe langsung goreng aja. Yg lainnya sajiin aja."
Mba2 Pelayan: "Mau berapa porsi mbak? "
My Producer: "2 porsi aja."
Mba2 pelayan: "Per porsinya 10pcs ya mbak, jadi 2porsi 20pcs"
Bapak Sutradara: "Gile banyak amat, abis gak tuh?"
My Producer: "Ya udah, boleh."
Pak Sutradara: "Gw nasi goreng aja."
Chief Ligthing: "Pekmpek."
Kapten: "Lontong Sayur"
2 Ass ligthing: Nasi Goreng. 
Gw: "Jangan lupa Jajanan pasarnya."
Mba2 pelayan: "Jajanan pasar itu apa mas?"
Gw: lah itu tadi yg gw tunjuk2 di etalase."
Mbak2 pelayan: "Ohhhh, itu namanya kue mas."
Gw: "Sak karepmu waelah mbuakkkkk *MULAI EMOSI"

Tak lama berselang......

Mbak2 pelayan mulai menyajikan pelbagai pesanan sarapan "BESAR" kami, di depan gw sudah terpampang nyatah seporsi pekmpek goreng kapal selam dalam rendaman cuka dan mie kuning beserta irisan kecil-kecil mentimun dengan aroma menggugah selera. 


Sementara itu, sejengkal dr hadapan gw tersaji dua piring pekmpek mentah lengkap dengan manguk super duper kecil yang biasa dijadiian tempat sambal kalau makan di warung nasi pecel lele di Jakarta. 
Sutradara : "Jiaaaaahhhh cuma segini? Ini mah sama om Juki juga kelar!"
Gw: "Gw pikir 20biji segede yang kapal selam. Hahahaha..."
Chief Ligthing: "Mbak, pekmpek gw mana?"
My producer :"Lah ituuuuu segitu banyak." Sambil nunjuk ke arah pekmpek mentah 20biji yang tersaji dihadapannya. 
Chief Ligthing: "Lah piringnya mana?"
Kapten: "Mas kalau disini, kalau cuma disajiin mentah gitu, gak pake piring. Tapi dicocolin. Pake itu mangkuk cuka."
Kompak: "Eaaaaaaaaalaaaaaaaa......
Gw: "Dimakan mentah?"
My producer: "Enak tau!"
Gw: "Huh? Seriusan" *ikut nyomot yg mentah, dan wenak! Ikannya lebih berasa*

Remfong ya sis!!!!
-To Be Continue-

Rabu, 04 Januari 2017

Pulau Harapan, Harapan Baru di 2K17 - Part 3

Jadi, persoalan pertolongan pertama pada serangan bulu babi dengan di kencingi sudah gw tahu sejak masih menyandang bocah SMP beberapa puluh tahun lalu. Kala itu gw dan beberapa teman berlibur ke Pulau Sangkima di Kalimantan Timur, sementara menunggu Sunset datang menyemburatkan sinar jingga keseluruh permukaan langit sore, gw dan teman-teman sengaja mencemplungkan diri ke laut dan berujung pada serangan bulu babi. Pertama kali tersengat, serasa ada aliran hangat tapi cukup bikin ngilu di telapak kaki, dan atas dasar ide seorang kawan: 
"Kencinginnnn biar mati bulu babinya" maka gw dan beberapa kawan yg terkena serangan bulu babi duduk berjejer di dermaga dan rela telapak kaki kami dikencingin oleh kawan yg memberi ide. 

Dan kembali ke persoalan si Ucup yg barusan disetut bulu babi, ekspresi wajahnya sudah tidak sepanik tadi. Gebukan keras gw menggunakan botol air mineral ditelapak kakinya sudah membuat si bulu babi yg menerobos masuk ke permukaan kulit telapak kakinya pasti tak berkutik lagi.
Gw: "Udah aman, coba loe pake nginjek masih berasa sakit gak?
Ucup: *Langsung memijakkan kakinya ke  lantai kapal* "udah nggak mas"
Pacarnya ucup: "Gak bakal demam kan mas?" *masih dengan muka panik*
Gw: "Nggak, dah aman. Paling tar meriang. Hahahahaha...."

31 Desember 2K16, 16 PM.

Kapal kayu putih berukuran sedang yg membawa rombongan hore kami snorkling di pulau Kayu Angin tadi sudah kembali melaju membelah samudera. Kali ini tujuannya menuju pulau Papa Theo untuk mengantar segerombolan pria dengan logat medhok camping disana. Cuma sebentar, kapal kayu kami hanya sandar di dermaga lalu kemudian kembali melaju menuju Pulau Bulat untuk mengejar sunset di penghujung tahun 2016. 

Beberapa menit kemudian....

Keberadaan Pulau Bulat tak begitu jauh dari Pulau Harapan, besarnya pun bisa dikelilingi dgn hanya berjalan kaki selama 10-15 menit saja, tapi tergantung sih, kalau ngiderin pulaunya sama gebetan keceh alemong 2jam sih muterin pulaunya! Apalagi kalau tiap nemu spot keceh photo yahhhh gak bakal kelarrrrr ngelilingin pulaunya. 

Pasir super duper putih yg dibingkai oleh air laut yang warnanya hijau tosca. Ciamikkkkkk! 

Tukang photo kelilingnya lelah 😄





Penampakan 3 couple yg gw intilin kemana-mana. Eeehhh ini jepretan saya kawan 😉





Kowe nda ngiri? 😎

31 Desember 2K16, 22.00 PM

Taman kecil disekitar dermaga sudah penuh sesak oleh pelancong. Para tour guide juga tengah sibuk membuat perapian untuk Barbeque di detik-detik penghujung 2016, dan para biduan dangdut juga tengah sibuk meliuk-liukkan badannya seirama musik koplo yang meraung-raung dr seperangkat alat sound system. Dibeberapa pojokan berpasang-pasang muda mudi tengah asyik memadu kasih, sementara gw hanya jadi PENONTON!!!! yang cukup menarik perhatian adalah segerombolan pria-pria tulang lunak dengan dress code putih, alis melengkung bak alis Krisdayanti tengah hilir mudik tebar pesona dengan lenjehnya. 

01 Januari 2017. 00.00 AM

HAPPY NEW YEARRRRRRRRRRRRRR!!!!!! 




-TAMAT-
Sampai Jumpa di Trip Berikutnya

Conclusion: 

Kali pertama ikut open trip ke pulau seribu (pulau harapan) 2D1N dgn harga. 385K (harga akhir tahun) lumayan bikin happy, skala 1-10 untuk tour and travelnya gw kasih point 8 Selama di pulau servicenya oke yg agak ngeselin karena sempet ada adegan nyaris ter-cancel, dan di dermaga Kali Ademnya agak kacau balau. Kalau pengen nyobain pake tripnya monggo cek di IG nya: @letsgotrip_id