Selasa, 17 Januari 2017

Makan Pekmpek di Pelembang

My producer: "Fei weekend ini sibuk?"
Gw: "Mayan, mau syuting dimana kita?"
My producer: "Palembang."
Gw: "Berangkat kakaaaaaaaaaak

This is i named "My Trip Tergantung Sponsor" kerja, jalan-jalan dan dibayar. How lucky me!

Diantara padatnya jadwal jahit menjahit untuk keperluan pop up market yang mulai rutin per minggu jadwalnya, dan kerjaan sebagai stylist untuk keperluan shooting video digital seperti ini yang datangnya suka tiba-tiba pun tak boleh gw lewatkan. Walau pada akhirnya jam kerjanya jadi makin kejar-kejaran, but its oke, ini namanya rejeki, dan rejeki gak boleh ditolak, tar Tuhan marah! Dan kalau Tuhan sudah marah, rejekinya bisa seret. Dan itu artinya gak punya duit, dan kehidupan sudah pasti akan ojlak ajluk macam naik sepeda dijalanan berlubang. Remfongggg! 

Singkat kata, setelah menpersiapkan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya bermacam-macam wardrobe untuk keperluan video dokumenter sebuah brand shampo yg sangat terkenal ini berangkatlah team kecil kami menuju bumi Sriwijaya. First flight pukul 05.45 pagi mengharuskan kami stand by di airport jam 3 pagi, dan itu artinya gw gak tidur lagi kawan! Sehingga penerbangan yang cuma 1 jam 10 menit itu rasanyaaaaaaaaaaa ttp bikin gw spaning!



Menginjakan kaki untuk kali pertama di bumi Sriwijaya, hal pertama yg terlintas di kepala adalah: MAKAAAAAAAN!!!! Sumpah gw sudah gak bisa menahan rasa lapar, dan satu hal yg dibutuhkan dipagi hari nan cerah ini adalah mencari PEMADAM KELAPARAN. 



08.00 pagi hari rupanya masih sulit mencari panganan dikota ini, rata-ratanya  pemilik warung makan masih sedang bersiap-siap untuk membuka lapak mereka, walhasil warung Pekmpek Pak Raden (yang punya cabang di Radio dalam) menjadi sasaran kami pagi ini. 
Gw tuh paling gak bisa liat rupa-rupa Jajanan Pasar yang terpajang di etalase, bawaannya pengen icip-icip semua, ditambah memang lagi sangat kelaparan pagi ini, sehingga semua yg terlihat pengen dikunyah, termasuk embak-embak pelayan yg mengharuskan semua  costumer duduk manis dulu di meja baru boleh pesan makanannya. Gag boleh langsung comot sis!

Mbak2 pelayan: "Sudah mau pesan?"
Gw: "Pekmpek kapal selam"
Mbak2 pelayan: "Mau langsung digoreng atau disajikan?"
Gw: "HUHHHH? bedanya naon mbuak?!
Kapten (driver travel, kami menyebutnya Kapten) : "Mas, kalau disini mesen yg sudah digoreng artinya sudah pasti dimakan, kalau disajikan, pekmpeknya belom di goreng, masih mentah gitu."
Gw: "Repot amat ye idupnye!"
My producer: "Gini deh, pesenan loe langsung goreng aja. Yg lainnya sajiin aja."
Mba2 Pelayan: "Mau berapa porsi mbak? "
My Producer: "2 porsi aja."
Mba2 pelayan: "Per porsinya 10pcs ya mbak, jadi 2porsi 20pcs"
Bapak Sutradara: "Gile banyak amat, abis gak tuh?"
My Producer: "Ya udah, boleh."
Pak Sutradara: "Gw nasi goreng aja."
Chief Ligthing: "Pekmpek."
Kapten: "Lontong Sayur"
2 Ass ligthing: Nasi Goreng. 
Gw: "Jangan lupa Jajanan pasarnya."
Mba2 pelayan: "Jajanan pasar itu apa mas?"
Gw: lah itu tadi yg gw tunjuk2 di etalase."
Mbak2 pelayan: "Ohhhh, itu namanya kue mas."
Gw: "Sak karepmu waelah mbuakkkkk *MULAI EMOSI"

Tak lama berselang......

Mbak2 pelayan mulai menyajikan pelbagai pesanan sarapan "BESAR" kami, di depan gw sudah terpampang nyatah seporsi pekmpek goreng kapal selam dalam rendaman cuka dan mie kuning beserta irisan kecil-kecil mentimun dengan aroma menggugah selera. 


Sementara itu, sejengkal dr hadapan gw tersaji dua piring pekmpek mentah lengkap dengan manguk super duper kecil yang biasa dijadiian tempat sambal kalau makan di warung nasi pecel lele di Jakarta. 
Sutradara : "Jiaaaaahhhh cuma segini? Ini mah sama om Juki juga kelar!"
Gw: "Gw pikir 20biji segede yang kapal selam. Hahahaha..."
Chief Ligthing: "Mbak, pekmpek gw mana?"
My producer :"Lah ituuuuu segitu banyak." Sambil nunjuk ke arah pekmpek mentah 20biji yang tersaji dihadapannya. 
Chief Ligthing: "Lah piringnya mana?"
Kapten: "Mas kalau disini, kalau cuma disajiin mentah gitu, gak pake piring. Tapi dicocolin. Pake itu mangkuk cuka."
Kompak: "Eaaaaaaaaalaaaaaaaa......
Gw: "Dimakan mentah?"
My producer: "Enak tau!"
Gw: "Huh? Seriusan" *ikut nyomot yg mentah, dan wenak! Ikannya lebih berasa*

Remfong ya sis!!!!
-To Be Continue-

12 komentar:

Budy TravellingAddict mengatakan...

Pempek lenjer 2 sama model 2 #loh #malahorder

Ocha Rhoshandha mengatakan...

hahaha... rempong banget

saya juga pernah tuh, ditanyai macem-macem, padahal cuma pengen ngerasain kue cubit, ah elaah pertanyaannya banyak banget


oooh jadi lama gak ngeblog gara-gara halan-halan niiih
bener dah, mytriptergantungsponsor banget

Fei mengatakan...

Udah abisssssssss

Fei mengatakan...

Kenapa gak cubit aja yg jualan. Cubit pake tang biar berasa. Hahahaha

Gilang Maulani mengatakan...

Hahahaha, kenapa nggak dibikin sederhana aja ya pertanyaannya. Mau yang di goreng apa yang mentah :D *biar gak bingung. Gegara liat gambar pempek di sini, aku jadi lapeer bang *close tab cari makanan

Son Agia mengatakan...

Waktu ieu gue juga pernah dibawain oleh-oleh sama temen. Dan emang sih, pempek asli Palembang mah emang kecil. Tapi rasanya mantap banget. Terutama bumbunya. Orsinil sedap.

Ngomong-ngomong, udah lama nih enggak baca postingan abang jadi pemeran figuran lagi. Ayolah aku rindu bang ha ha.

Fei mengatakan...

Hahahahaha cusss makan yg banyak

Fei mengatakan...

Size doesnt matter rigth? Huahahahhaa

Adi Yulianto mengatakan...

mantap kali lah.. jalan-jalan tapi dibayarin. gw juga mau doong..

Fei mengatakan...

Hah? Loe mau bayarin gw jalan-jalan? Yukkkk mareeee mareeee

Adi Yulianto mengatakan...

wkwkwkwkwk... sempak lo..!

Puput mengatakan...

Ciyus banget.. Gw juga nulis pengalaman makan pempek di palembang.. Dan gw minta mangkok yang lebih gede, mangkok buat tekwan.. Mangkok yg kecil gak nendang