Katanya, dari obrolan yg gw cerna dari beberapa pelaku mode di Indonesia, beberapa Fashion Designer kerap melakukan ritual-ritual khusus ketika akan menentukan sebuah tema yang akan diangkat pada presentasi koleksi teranyar mereka. Puasa, misalnya. Mungkin tujuannya supaya karya terbarunya bisa diterima dengan baik oleh khalayak luas yang berujung pada terkumpulnya pundi-pundi dalam bank account nya.
Tapi, gw pribadi, sebagai orang yang gak sengaja bersinggungan dengan dunia mode yang kemudian memutuskan untuk nyemplung sekalian ke industri ini, malah gak pernah kepikiran untuk melakukan hal-hal seperti itu. Boro-boro mikirin ritual pendukung seperti itu, kebanyakan persiapan untuk mengeluarkan koleksi baru justru prosesnya lebih sering secara random. Gw bisa memulainya dengan membuat design lalu berburu material dan peritilan-peritilannya kemudian meramu konsep photoshoot untuk keperluan campaign dan tahap terakhir memutuskan tema apa yg sesuai dengan semua outfit yg ada untuk kemudian gw terjemahkan ke dalam bentuk tulisan semacam product knowledge-nya. Tapi proses itu semua gak melulu harus seperti itu. Terkadang proses diatas malah gw jungkir balikkan urutannya.
Seperti koleksi perdana ready to wear gw yang presentasinya dilakukan 2015 lalu. Kata "Geulis" yang tiba-tiba terlintas dibenak gw kala photoshoot sedang berlangsung di tengah malam buta di satu spot populer tempat mangkalnya manusia-manusia urban Ibu Kota akhirnya gw tasbihkan menjadi tema untuk koleksi baju siap pakai gw ini.
Secara garis besar, koleksi ini adalah refleksi gw pada teman-teman Fashion Blogger dan Fashion Stylist yang cara berpakaiannya tidak pernah biasa-biasa saja, always edge, ra'umum. Lalu, kesukaan gw pada seni Grafiti dan Mural pun juga gw tambahkan disana untuk pattern materialnya. Sehingga mencapai satu kesimpulan untuk total looknya yakni CANTIK a.k.a Geulis dalam bahasa sunda.



























