Sabtu, 02 Juni 2012

TRILOGY 1/2 Backpacker Part 2 : Romansa kecil di Kota Solo

Harusnya, begitu menginjakkan kaki disini, saat matahri baru saja lepas landas dan memancarkan semburat keemasannya, dan saat burung-burung baru saja mengepakkan sayap kecilnya untuk menari bersama angin pagi, gw langsung mendendangkan lagu "Stasiun Balapan". Tapi... Keinginan itu terpaksa akan terus bersarang di dinding tenggorokan gw saja, sampai saat lain tiba. Karena hari ini gw masuk ke kota asal Didi Kempot ini bukan dari Stasiun Solo Balapan, melainkan melalui pintu lain yang bernama Bandar Udara Adi Sumarmo. "Kamu dimana?" Begitu kira2 BlackBerry message yg gw kirim ke dia, sesaat setelah gw menghempaskan bokong gw di kursi kayu, tepat di depan sebuah kafe kopi di airport yang nyaris sunyi senyap ini. 60 detik berlalu, kemudian detik-detik berikutnya berganti dan berlalu pula. Lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....!!!!!!! "Masih dirumah. Baru bangun" Begitu sekiranya balasan BBM yg gw terima dr dia. Dan itu artinya gw masih harus menunggu lagi hingga 1 jam ke depan. Oh maigot! Kl saja kamu tahu betapa gw cukup gila dan sengsara melewatkan malam selama 9jam 54 menit di Bandara Soekarno Hatta demi bisa mengunjungimu pagi ini, mungkin kamu akan kasihan dengan datang setidaknya 5 menit lebih awal sebelum burung besi yg membawa gw dari Ibu Kota Negara ini dengan rasa takut teramat sangat karena terdoktrin pristiwa yg terjadi di lereng gunung salak beberapa minggu lalu. Entah berapa batang rokok putih yg sudah terbakar dan membuat mulut gw terus mengeluarkan asap mirip gerbong kereta jaman baheulan sampai akhirnya sebaris bbm terpampang dilayar ponsel pintar gw. "Keluar" Aiiissshhhh, rasa kesal karena sudah membuat gw harus menunggu se-jam lalu tergulung seketika manakala melihatmu bertengger di atas kuda besi kesayanganmu lengkap dengan sapaan "Hai". Pagi ini, ketika sinar keemasan sang pemilik siang telah berganti cahaya lembut keperakan, kita membelah kota solo dengan menunggang kuda besimu. Rindu yg nyaris tumpah ruah karena sudah tak tertampung terbayar dgn rasa bahagia yg seketika meluap dr dasar hati, membuat hangat sekujur tubuh yg sebenarnya telah kehabisan energi ini, karena lelah teramat sangat. Tp saat ini seperti ter-charge dengan sendirinya oleh molekul-molekul listrik yang kamu kirim ketika tubuh kita merapat tanpa jarak. Gw tidak perlu menyewa jasa guide untuk berkeliling solo, ada kamu yg setia menghantar ke tempat-tempat yg tidak pernah gw tau sebelumnya. Dr atas tunggangan kita hari ini pula special guide gw sedikit berceritra tentang Solo. Dan sebenarnya gw pun tak meresapi betul apa yg dia sampaikan, gw justru terlena dengan kebersamaan kita di atas kuda besi yg terus melaju hingga terparkir di halaman depan sebuah penginapan sederhana yg sebelumnya sempat gw telusuri di laman Om Gugle yg terkenal itu. Lumayan lah, gw bisa menempati kamar seharga 150rb per-malam dengan fasilitas yg lebih ok dr kamar kos gw. Sebuah ranjang empuk ber-per, Tv Imut yg tergeletak asal di atas meja kayu, Pendingin ruangan, kamar mandi lengkap dengan shower dan ember plastik. Sampai disini gw sensor! Biarlah yg terjadi dalam ruangan kecil ini cuman gw sama tembok kamar yg tau. Dan...... Siang menjelang sore, kembali kuda besimu keluar kandang, dan kembali menjamahi dasar aspal yg masih menampakan fatamorgana bekas teriknya matahari. Tapi sebaris kata yg kamu ucap semoga bukan fatamorgana untuk gw: Onyet: "Kok gak dipeluk?" Yang seketika membuat gw langsung melingkarkan tangan gw ke tubuhmu. Onyet: "Nah, kalau gini kan berasa punya pacar." Cesssssss, kalau saja gw tidak memelukmu saat ini, mungkin gw sudah terbang. Gw: "Aku deh yg bawa motornya" pintaku. Onyet: "Nda, aku ajah! Mau kemana kita? Gw: "Makan." Onyet: "Mau makan apa?" Gw : "Pecel" Onyet : "Ok." Jalan yg kita lalui berputar, dan kamu terus berceloteh, cukup heran mendapatimu bisa secerewet ini. Tidak seperti biasanya yg lebih memilih diam. Dan gw tetap saja tidak konsentrasi pada setiap kalimat yg kamu lontarkan yg menjelaskan ini itu. Gw lebih menikmati kebersamaan kita yg disirami terik pemilik siang. Panassssssss...... Tembang jawa, mengalun dr bale-bale Rumah Pecel yg rupanya kerap menjadi destinasi makan siang para pesohor negeri yg kebetulan atau mungkin memang sengaja datang ke Solo. Rupa-rupa makanan tersaji dalam kuali-kuali yg sungguh menggoyang lidah, gw kesetanan, seperti baru turun dari gunung, melahap semua yg bisa gw lahap. ini judulnya Pemadam Kelaparan, MURAH!!! Berdua dah hanya menghabiskan 53ribu rupiah saja. Entah sudah berapa lagu yg dilantunkan penyanyi diluar Rumah Pecel ini hingga gw dan dia melangkah pergi, kembali menunggang kuda besinya, kembali dibonceng, kembali memeluknya dr belakang, kembali memperkosa aspal menuju pasar klewer. Gw: "Kenapa namanya pasar Klewer?" Onyet : "Itu gara2 baju2 yg digantung para pedang dipasar itu terlihat klewer klewer, ngerti toh maksudnya?" Gw : "Hu-uh." Menyenangkan juga ditemani seorang pacar merangkap guide seperti dia, di pasar ini gw gak perlu bersusah2 memilih kios mana yang akan gw jadikan sebagai tempat melepas hasrat berburu batik. Dia tau betul kios mana yg harus gw masuki dan kios mana yang harus gw hindari. Dan setelah beberapa jam, setelah beberapa plastik hitam berisi batik gw beli, gw dan dia memutuskan angkat kaki dr sana, sebelum isi rekening gw benar2 terkuras habis di pasar itu. Jump to...... Malam tetaplah malam, tak ada yg berbeda, sama-sama gelap, sesekali bertabur bintang, atau disirami sinar bulan. Jadi gak penting malam senin, malam jumat, atau malam minggu. Tapi okelah, biar Liburan cinta (ya tuhan, istilah gw so alay) lebih berasa, kami berdua, gw dan onyet kembali memacu tunggangan kami, menjamahi dan menikmati saturday nite di kota solo. Diawali dengan makan malam di warung Bakso Alex yg termasyur di Solo, lalu menjelajahi area universitas 11 Maret yg luasnya audzubileh. Dan dia seperti layaknya tuan rumah yg baik, menjelaskan, menunjukkan sebagian kecil area tempatnya menimba ilmu. Hemmm....angin malam berdesir-desir berusaha menembus rajutan woll sweter army yg gw kenakan malam ini saat dia memacu tunggangannya menuju pusat kota. Ada keriaan disana kata dia, dan kami memutuskan menghabiskan malam disitu, PASAR MALAM. Kami berkencan di Pasar malam kawan, dengan Lengan gw yg terus bertengger dibahunya tanpa mau peduli mata-mata liar orang lain yang tak sengaja mungkin memperhatikan kami. Kami berbaur dengan pengunjung lain yg tumplek plek di area ini. Malam minggu ini langit memang tak bertabur bintang dan bercahaya bulan, hanya diterangi cahaya tak seberapa terang dr bilik2 pasar malam, tapi kami berdua tetap syahdu menikmati semangkuk kecil Wedang Ronde persis di depan alun2 Kraton Mangkunegaraan.
Makan siang di Rumah Pecel, waktunya pemadam kelaparan beraksi.
Cenil, jajan jaman bopcah.
Saturday nite dinner with Onyet di Bakso Alex yang termashyur di Solo
Entah mengapa gw lebih suka menyantap ini "Surabi" ketibang hamburger.
Berhubung gak begitu demen ama cokelet, jadi gw memilih toping pisang sajah
Pose dulu di simpang empat
pose ganteng di depan kraton Mangkunegaraan.
Menikmati semangkuk wedang ronde, depan alun-alun kraton bersama onyet. PS: Berhubung Onyet merangkap sebagai pacar, guide, photographer jadi sori-sori maap kalau photonya nda akan terpampang dalam postingan ini, hahahahahaha

5 komentar:

u n n i mengatakan...

ikutan heeepppiiiii sama yg abis liburaan cintaaa..hahaaa

jiah, pdhal mau tanya, foto-foto jalan2 nya donk bang,, eh baris paling bawah udah bilang FOTO Menyusul !! :D

Naek berapa kilo tuh? Makan muluuu...hihihii

fei mengatakan...

@unni: jgn tanya berat badan, sensi. *jambak* wakaakakakakaakkkk

Rizki Pradana mengatakan...

wah main ke Solo nih..:)
saya asli solo mas enak kan nasi surabi solonya??,hehe
nyobain nasi liwet sama Timlo sastro gak mas??
jadi kangen pengen pulang..:(

mapir lagi ya..
klik EPICENTRUM

makasih..:)

fei mengatakan...

@Rizki: walah belom sempet icip2 nasi liwet malah, tar dah di kunjungan berikutnya, hahahahhaa

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

asik amat tuh makanannya. btw, coba ke www.leutikaprio.com