Jumat, 13 Maret 2009

Orange Squash bikin mabok?

12.10

Dibawah sana, beberapa meter dari tempat gue, temen gue, bos gue dan istri bos gue duduk manis di sebuah café di Citos sambil menikmati steak dan makanan remeh temeh lainnya ditemani sebungkus Djarum Black yang tergeletak indah di meja menunggu diisap. Gegap gempita sisa-sisa new year celebration masih saja berlangsung. Derai tawa sambil jejingrakan ditemani ramuan musik dari seperangkat equipment DJ masih membahana, menghentak adrenalin muda-mudi (kosa kata jaman jahiliyah banget ye!!!!).


Slurupppppppppp…….

Orange squash mengalir membasahi tenggorokan gue, melunturkan berbagai rempah steak yang masih menempel di dinding tenggorokan gue. Pokoke Mak’ nyoss begitulah isitilah presenter kuliner yang kerap nonggol di TV gue pinjam kali ini.



13.00 lebih dikit.

Xenia ijo toska ini melaju pelan diantara rinai hujan yang jatuh membasahi bumi. Hawa dingin diluar sana semakin diperparah oleh hembusan semilir angin dingin dari AC mobil.

Erghhhhhhhhh…..
Gue mulai bersendawa lagi, terus dan terus.

Bos gue: loe badan dong yang gede, kena angina dikit masuk angin.
Gue: Erghhhhhhhh……!!!! *bersendawa mode :On*
Bos gue: harusnya loe minum bir aja tadi.
Temen gue: betul om, sekali-kali bolehlah. Gak dosa kok. Kan bukan buat mabok, Cuma untuk angetin badan.
Gue: minumnya deket kompor biar anget. minum orange squash aja gue dah keliyengan gini. Orange squash juga ada alkoholnya tahu.
Istri bos gue: sejak kapan orange squash pake alcohol? Bukannya orange squash itu orange jus yang dicampur SODA.
Gue: ……..

Oh god, Gue kena Syndrome aneh nomer 10: Sok tahu!!!!!

Kamis, 12 Maret 2009

Mati Gaya


Sepi sekali malam ini, jangkrikpun mogok bersuara. kelam diluar sana, bintang menyembunyikan bias cahayanya malu-malu dibalik awan tipis kelabu. Suara dengkur mengalun halus dari celah-celah nun jauh dibarisan perumahan kumuh dibalik tembok angkuh apartemen dua lantai gue. sementara gue, sedang terpaku, menopang dagu diatas tembok pembatas berwarna merah kecokelatan. Mati Gaya: mode on!!!!.

Sudah khatam langkah gue bolak balik, keluar masuk tak beraturan dari bilik gue, meninggalkan bunyi derit pintu memekakkan telinga. Sudah khatam pula channel TV gue bolak balik, hasrat ingin mantengin Black In News di Trans 7 tidak terpenuhi malam ini (lupa hari mode:on. secara neh acara tayangnya hari kamis ajah gitu!!!!!)tak ada yang menarik, semua tayangan jaman jahiliyah. kemudian bisikan setan itu datang, sepoi-sepi membelai gendang telinga gue.

setan kunyuk: berbuat nakal-lah sedikit malam ini, swerr gue gak akan bilang2!!!
gue: tapi malaikat juga tahu.
setan kunyuk: sogok aja.
gue: Jiahhhh, lo kata koruptor.
setan kunyuk: *naik pitam, kemudian membaca jampi-jampinya dan meghembuskannya mendayu-dayu di daun telinga gue*

Perlahan kuseret langkah gue menjauh dari kamar gue, pelan sekali nyaris tidak meninggalkan suara, dari celah rahasia terbukalah grendel pintu itu.

Gelap......
hitam.....

gue bisa merasakan detak jantung gue mulai dangdutan asoy.

sedetik.....
dua detik....
tiga detik....

gue sudah dikamar lagi, sukses menggondol barang berharga teman se apartemen gue. SEBUNGKUS KOPI dan SEKOTAK PIE bertabur kismis. kusedu sebungkus kopi instant dengan toping cokelat tabur.

Gue seruput dengan indah, hangat ketika melewati kerongkongan gue, namun diredam panasnya oleh sepotong pie bertabur kismis itu. gue nikmati bersama setan kunyuk yang bersemayam dalam kalbu gue malam ini.

Jiahhhhh...sudah lama rasanya gak berbuat gila dan nekad, gue senyum-senyum sendiri. membayangkan betapa murkanya teman se apartemen gue esok ketika mengetahui kopi dan pie kesayangannya raib dan menemukan kantong pembungkusnya di tong sampah plastik biru muda pucat di depan kamar gue, dan untuk meredam marahnya akan gue sodorkan selembar 10 ribu usang ke tangannya sebagai kompensasi.

dan saat ini setan kunyuk sedang menari, tertawa terbahak-bahak karena berhasil menjadi juaranya.

tips:
jangan ditiru, kalau nekad jangan ketahuan, tar digebukin penghuni kos yang lain.

Jumat, 27 Februari 2009

Ngutangers Boy

Gue tatap sebingkai wajah yang dipantulkan cermin persegi panjang didepan gue lekat-lekat.
pipi itu tidak lagi chuby, telah kempes, berganti bayangan semu tulang rahang yang jelas membingkai kokoh wajah carut marut itu. tatapan matanya nanar dibalut kantung hitam yang terlihat samar. kumis tipis yang hanya beberapa helai mengingatkan gue pada ikan lele, bertengger dengan manisnya dibawah hidung besar mirip labu siam itu. dan kusadari ternyata rupa yang tidak ganteng dengan ekspresi carut marut tak bergelora ternyata adalah muke kusut gue.

Erghhhhhhh.......
Fuihhhhhhh....
Arghhhhhhh......
Gue marah pada diri gue sendiri. Beban ini terlalu berat rasanya, hampir tidak menyisahkan secuil ruang kosong diotak gue, untuk gue pakai berfikir jernih.

Psssttttttt..........!!!!!
Angin sepoi beraroma busuk itu meracuni oksigen yang tadinya murni dikamar gue, gue kentut dengan sukses ditiming yang tidak semustinya.

Krekkkkkkk.......
kasur butut gue berderak-derak, ketika tubuh lunglai gue menyetubuhinya. telungkup, kemudian terlentang, miring ke kiri lalu ke kanan dan beberapa detik kemudian sudah duduk bersila.

Dengan sebatang rokok Djarum Black yang terselip di ujung bibir, Gue pandangi daftar dengan huruf tak beraturan kecil besar digenggaman gue.
Utang di warteg A xxx Rupiah.
Utang di warteg B xxx Rupiah
Utang di Warteg C xxx Rupiah
Utang di warung Nasi padang xxx Rupiah
Utang di warung burjo xxx Rupiah
Utang Investor 1 xxx Rupiah
Utang Investor 2 xxx Rupiah
Utang sama Si A xxx Rupiah
Utang sama si B xxx Rupiah
Utang sama si C xxx Rupiah
bayar kos xxx Rupiah
Bayar cicilan motor xxx Rupiah
Utang sama tukang beras xxx Rupiah

Jumlah akumulatifnya bikin perut pusing, kepala mual, muntah kuning, keliyengan, tidur tak lena, makan gak napsu, berbuntut sederet skenario pelarian diri yang entah sampai kapan akan terus bergulir.
gue sapukan pandangan gue di kamar kecil gue ini, nyaris tak ada barang berharga secuilpun yang bisa dilego untuk melunasinya.

Seandainya, seharusnya, semustinya, kenapa gue lakuin, kenapa harus begini, kenapa....kenapa...kenapa.
kata-kata itu cuma bisa berputar-putar tak beraturan diruang-ruang kecil nan sempit di saraf otak gue. gue memang selalu kalah sama ketidak mampuan gue mengatur keuangan. entah kemana raibnya rupiah-rupiah yang kemarin sempat menumpuk di account gue. lenyap, hilang, tanpa bekas.

Sudah semakin larut, energi gue sudah habis, terkuras semua untuk menyalahkan diri sendiri.
gelap sudah, gue terbuai, mendengkur bersama kepusingan tanpa jalan keluar.
gue mengidap penyakit gila nomer 03: Ngutang kok hobby.

Sabtu, 14 Februari 2009

Surat Cinta Merah Jambu

Lama kuterperangkap dalam kerangkeng kesendirian
bersemi kemudian merekah lalu kembali berguguran dalam kesunyian.
sudah berkerak rasanya asaku
inginku dicintai dan disayangi seseorang yang bisa buatku gemilang manakala surya menyapa menguapkan embun kesendirianku.

berkali kurajut benang-benang asmaraku yang putus merapuh
kusirami bibit cintaku dengan tetes-tetes air mataku agar dia mengakar dan tumbuh sekuat magrove
kusatukan puzzel hatiku yang telah hancur berkeping selembut debu, agar utuh ketika kupersembahkan pada dia

lalu pernah kucoba semai bibit cintaku pada seseorang yang semu
namum pun berakhir layu sebelum pucuk tunasnya tumbuh, lalu menghilang bersama ketidakmampuanku merengkuhnya.

sepatahkata
"cinta itu indah
namun tidak semua keindahan berarti cinta"
menghempaskanku ke dasar sadarku bahwa cinta sesungghunya adalah nyanyian hati
yang terkadang terdengar indah, namun bisa membuat terluka hingga menagis penuh lara.

pada siapa surat cinta merah Jambu ini kan kupersembahkan?