Minggu, 05 April 2009

Ketika telah menetas

Siang ini, sepi banget. Temen se-Apartemen gue dah pada pergi mengais rezeki sejak ayam belum lagi bangun dari tidurnya. Apartemen gue yang pertama ini memang tidak terlalu ramai. cuma ada 15 kamar yang hanya muat 1 tempat tidur ukuran 2 m x 80 cm plus lemari kecil yang bahkan gak muat diisi selusin baju. Apartemen ini dua lantai , di lantai pertama dihuni sang empunya gedung dengan 2 anak perawan yang masih ranum.

Sepi banget, cuma ada gue, itupun dalam kondisi yang menyedihkan. Gue tergolek lemes di tempat tidur, tanpa baju hanya bersarung. Terbaring lemah dengan bulir-bulir keringat dibadan karena udara gerah macam disauna. Lengkaplah penderitaan gue karena lambung gue ikut-ikutan berontak sejadi-jadinya, sakit melilit karena sejak pagi belum terisi ama sebutir nasi pun. Persediaan mie instant yang jadi makanan kebangsaan anak kos macam gue pun dah gak ada lagi.

Gue coba berdiri, rasanya gilu sekali, serasa dihujani seribu jarum beracun yang membuat kepala gue berdenyut-denyut gak karuan disertai pandangan yang berputar-putar. Baru dua langkah, gue masih diambang pintu ketika hampir tumbang, jadi gue putuskan untuk kembali ke tempat tidur. kenapa ini begitu menyiksa.

Gue ambil peniti dari laci gue, dengan bantuan cermin kecil ditangan, gue coba melakukan operasi kecil.
sakitnya masya allah ketika ujung peniti membobol lapisan tertipis kulit gue. "Arrrggghhhh... " teriakkanku tertahan di tenggorokan, rasanya ada godam besar yang dihantamkan di kepala gue. semua sakitnya berbaur jadi satu. Panas dingin, kepala nyut-nyutan, pandangan muter-muter, berasa dihujam jarum seribu.

Dengan tangan gemetar, gue raih ponsel gue dan ibu jari gue mulai menari-nari diatas keyperd kecil ponsel gue.
Gue: "tolongin gue dong, beliin gue makan. Gue lagi sakit dan sekarang gue laper banget."

Gue hampir selesai menghajar semangkuk sup daging dan sepiring nasi panas mengebul dan segelas teh manis anget, ketika anak perawan ibu kos yang bahenolnya bikin celana mendadak jadi sempit datang dengan piring kecil ditangannya.

Anak ibu kos yang bahenol: Kata nyokap kentang parut ini diolesin aja" kata dia menyodorkan piring kecil berisi kentang parut itu pada gue.
gue: Tapi.....?
Anak ibu kos yang bahenol : Tenang aja, tar jadi dingin kok.
gue: Thanks ya.

beberapa menit kemudian.....

Pintu kamar sudah gue kunci, sarung yang sedari tadi membelit dipinggang sudah gue loloskan hingga tak selembar benangpun menempel di tubuh gue. Gue sukses telanjang bulat. Ditempat tidur gue terlentang dengan sempurna dengan kaki terbuka lebar, macam ibu-ibu akan melahirkan. Dengan cermin ditangan, gue balurkan parutan kentang itu di benjolan berwarna kemerahan sebesar kelereng yang menyembul tepat dibibir anus gue.
"Cessss...." dingin, ketika parutan kentang itu menempel disana. Gak kurang dari setengah jam BISUL sialan yang membuat gue tak berdaya hampir seminggu ini menetas sudah. Oh betapa leganya.

Jumat, 03 April 2009

Bola buat gara-gara

Pagi ini bola berpijar itu sudah naik sepenggalan, hangatnya menyelusup nakal, menerobos melalui cela-cela kecil kamar Apartemen kumel gue. Ayam juga sudah keluar dari kandang, mematok rezeki orang-orang yang masih molor dan berkutat dengan iler dibalik selimut hangat dan Springbed menyiksa karena per nya sudah rusak.

Gue masih juga bersetubuh dengan bantal & guling lembek kehabisan kapuk, bernoda iler kuning hampir cokelat dengan aroma jigong yang aduhai memabukkan. Mata gue masih melek walaupun rasanya kantuk sudah tak tertahankan. Meeting masih jam 11.oo nanti, sedangkan sekarang baru jam 07 lebih dikit, jadi masih ada waktu untuk tidur pikir gue.

Hampir sukses mengatup kelopak mata gue jika saja tawa Erwin Parengkuan dan Jiel yang lagi cuap-cuap bawel di Pagi Jakarta-nya O Channel yang jadi local TV station favorite gue tidak memekakkan telinga dengan volume TV yang memang sudah cukup keras.
Bintang tamunya manusia ajaib pagi ini, well setidaknya menurut hemat gue. dulu dia kerja disebuah Advertasing yang kemudian hengkang sambil ngangkang untuk lenggang kangkung ke Korea demi bisa nonton piala dunia. Oh god, what he think anyway, udah punya pohon duit gue rasa neh orang, atau jangan-jangan duitnya udah gak berseri lagi.

Katanya itu cerita lalu, Sekarang, neh orang tanpa tendeng aling-aling jadi sutradara film. walah Jaka Sembung bawa parang.
Kantuk gue dah ilang tak berbekas, beberapa menit lalu gue masih asoy, terlentang dengan kedua tangan menopang kepala. Tapi detik ini gue udah tengkurap, hanya beberapa jengkal dari layar cembung 14 inchi di depan gue. Gembel neh orang, hidupnya untuk bola dan bola adalah hidupnya, semua film yang digarapnya berintisari si kulit bondar itu. Kira-kira ada yang pernah pikir bahwa film Romeo and Juliet, bisa digarap ulang dengan rasa Indonesia dan menjadikan bola sebagai plot ceritanya? cuma sutradara gendeng macam dia yang bisa.

Huaaaaaaaaa......gue menguap lebar, lebar sekali rasanya hingga sebuah durian monthong pemberian tante montok bisa langsung gue telen tanpa dikupas dan dikunyah.

Ketika gue berseragam Putih bercelana Merah.
Hiruk pikuk bocah-bocah belum disunat itu sorak sorai dibawa terbang angin bercampur debu, bola sebesar kelapa itu ditendang hilir mudik.
"Gollllllllllllllllllllll...........lllllllllllllllll" sorak itu makin gempita.
Bocah Gendut: Goblok banget sih. kenapa bolanya gak ditangkap.
gue masih diem tanpa ekspresi, lempeng macam tak punya dosa. jadi kiperpun gue tak becus. tapi sebodoh amatlah.

Ketika gue berseragam Putih bercelana Biru.
Guru Olahraga: Kamu kenapa?
gue: Kaki saya keseleo pak, gak bisa ikut main bola.
Guru olahraga: bulan kemarin kamu perban kakimu, kena pecahan beling kamu bilang. bulan besok apalagi alasanmu?
gue:.......?

Ketika gue berseragam putih, abu-abu.
gue: Pak........
Guru Olahraga: tidak ada alasan, sudah banyak macam alasanmu, hari ini kamu jadi Beck. atau angka gerak jalan (1,2,3) merah dirapotmu.
belum sempat gue memberi alasan, perkataan gue sudah dipotong dengan ultimatum yang membuat meriang disko. Mampus.

Sudah sepeminuman teh, pertandingan tidak imbang itu berlangsung, hampir turun minum teh bahkan.
Pritttttttttt.......!!!!! selesai sudah.

fuihhh.....
gue sejajarkan langkah gontai nan lelah dengan langkah-langkah besar kaki-kaki teman-teman gue yang sumringah.

Guru olahraga: Masa tendang bola aja kamu kalah sama Yulianti. kamu giring bola kaya banci.
gue:......????

Kalau saja, dari jam 10 malam gue bisa tidur dan insomnia akut ini tidak jadi benalu di diri gue, dan pagi ini gue bangun setidaknya jam 6 pagi, mandi seadanya lalu bergegas ke kantor mungkin gue gak akan pernah mereview cerita tolol dan menelanjangi diri gue lagi disini. oh, kenapa aku tak seperti lelaki lain?

Selasa, 31 Maret 2009

My Beautiful Lady, Forever

Siang ini matahari menyengat ubun-ubun diluar sana, anak usia belasan tahun dengan costum putih biru lengkap dengan cucuran keringat berwarna putih susu mengalir deras dari pori-pori kepala yang siang itu sangat klimis berkilat-kilatan, tapi lebih nyata "lepek" karena belah tengah itu kelebihan Gatsby.

Disebelahnya berdiri pria jangkung dengan kaos robek disana sini lengkap dengan sarung kotak-kotak biru cenderung kumel, dengan puntung rokok Djarum Black yang tinggal 1/4 bagian nyaris habis karena dihisap dengan penuh kesumat, hingga asap yang dihembuskannya terlihat buyar penuh amarah.

Mata perjaka ting-ting itu menatap jauh ke depan dengan ekspresi sedih, takut dan bengong. Tatapan lelaki jangkung kurus dengan wajah coklet berkilat-kilat karena minyaknya yang berlebih dengan ekspresi yang sukar digambarkan dengan kata-kata.

Lama keduanya diam dalam bisu, sementara waktu terus bergerak menuju angka 13.15 WITA, jam masuk sekolah bocah beranjak ABG itu. tapi tak ada keberanian setetes air pun yang berani membuatnya bergeser dan melangkah dari ambang pintu tempat mereka berdua berdiri.

10 menit sebelumnya

bocah ABG berseragam putih biru : Tolong mintain uang jajan sama mamaku dong
temen bocah : mamamu dimana?
bocah ABG bersergam putih biru : dirumah.

5 menit berlalu.

temen bocah : aku gak berani, bapakmu tadi marahin aku. kamu disuruh pulang.
bocah ABG berseragam putih biru : tapi aku mau sekolah
teman bocah : Bapakmu suruh kamu pulang.

Matahari memang menyengat sekali siang ini, kota di sela khatulistiwa ini memang selalu bermandikan cahaya matahari dari pijar bola besar yang nun jauh dibalik birunya langit dengan awan putih menggantung. Perempuan itu, separuh baya usianya kini. dengan sarung menutup kepalanya persisi perempuan-perempuan bugis kebayakan yang sedang menyemai padi disawah, tapi perempuan ini tidak sedang menyemai padi melainkan memetik pucuk-pucuk daun singkong untuk dijual dipasar sekedar membeli lauk untuk malam ini. Siraman cahaya matahari yang panas membakar kulit ari, tak dihiraukannya, bulir-bulir keringat sebesar biji jagung yang keluar dari pori kulit dahinya hanya diseka dengan punggung tangan. Sudah nyaris penuh bakul anyaman bambu dipunggungnya, hingga perempuan itu menepi dibawah rindangnya pohon rambutan, disana ada pohon pohon singkong yang tumbuh liar.

Sudah hampir jam masuk sekolah, bocah ABG berseragam putih biru dengan takut-takut memandang wajah bapaknya yang sudah mereda raut marah dari wajahnya.
Bapak: pergi sudah sekolah, lain kali kalau mau minta uang jajan, minta sendiri.
katanya sambil menyodorkan selembar seribu usang ke arah anaknya. bocah ABG menggeleng pelan, tak disambutnya kertas biru lusuh dengan tiga angka nol yang tercetak disana. bathinnya berkecamuk. segera berbalik badan dengan langkah-langkah besar menuju sekolah yang jaraknya hanya beberapa depa dari rumahnya. cukuplah lima menit untuk sampai tepat waktu ke sekolah dengan cukup berlari-lari. tangisnya ingin pecah, sedihnya menyelimuti hati, ingin berlinang air matanya, menyesal dia bertindak bodoh tadi, siang ini kembali disaksikannya perempuan itu berjuang untuknya, untuk keluarganya. berlari dia, terus sampai napasnya sesak.

Bocah ABG berseragam putih biru dengan rambut lepek kebanyakan gatsby adalah gue 14 tahun lalu. pria tinggi kurus itu adalah Bapakku, dan perempuan penyemai daun singkong itu Ibuku, dia Pahlawanku, she is my wonderwoman. Takkan habis cintaku untukmu, rinduku telah membuncah sekarang, ribuan mill jarak kita kini, but you still my women. i love u mom. kali ini air mata ini benar-benar berderai.

Minggu, 29 Maret 2009

Me Vs Reno

Teman-teman kelas gw mulai muncul satu demi satu, rambutnya sudah rapih disisir, wajahnya sudah dibedakin, bau badannya pun sudah bau minyak wangi, bukan lagi bau sengit perpaduan keringet dan bau ketek.

Tapi gw, boro-boro bau wangi, yang ada emosi maksimal gw sudah sampai ke ubun2, hati gw ketar ketir tak karuan, amarah gw sudah meluap-luap dan ingin segera melabrak perempuan biang kerok ini.

The story goes.......

Gue: “Ngapain loe bawa-bawa gue waktu loe dipanggil guru BP?”
Reno: “Ge-eR! Siapa yang bawa – bawa loe?”
Gue: “Brondong lo tadi yang bilang ke gue, dan dia ngelabrak gue dirumah”.
Reno: “Baguslah, biar imbang. Jangan jadi Bencong yang Cuma berani sama perempuan”.


AdsfatrrljdddfkdfhjnbgytBVJSHLAKJHHJNJAH……………

KE…PLAKKKKK……!!!

Reno memegang pipinya sambil nyanyi lagunya Betharia Sonata. (sayang ini bukan photo reno)Lihat lah tanda.
Merah dipipi
Bekas….gamparan tanganmu……..


KE….PLAAAKKKK…..!!!

Pipi gue tiba-tiba berasa panas, anjrit gue ditampar balik. Cesss....pipi gw berasa panassssssss...


PLAKKKKKKKKKKKK......dan gw pun menamparnya kembali, kali ini pipi kanannya yang terkena tamparan maut gw, sebenernya tamparan kali kedua ini hanya untuk jaga2 supaya wajahnya tetap simetris.

Adegan tampar2an itupulalah yang mebuat gw nge-hits maksimal keesokan harinya. Mulai dari gerbang sekolah, parkiran sekolah, lapangan sekolah, kantin sekolah tempat gue ngutang bakso dan gorengan kalau lagi gak dapet jatah jajan dari nyokap, ampe orang ee’k ditoilet sekolah semua ngomongin gue. Duh senengnya #Padahal sedang dihina dina#