
Siang itu seperti biasa kami yang bocah-bocah Sekolah Menegah Pertama yang kebetulan masa itu tengah menikmati masa-masa puber tengah rumpi-rumpi ringan di bawah pohon ketapang kala bel masuk sekolah belum lagi berdentang seperti biasa.
Gue: "Mil, tuh toket makin gede aja." kata gue dengan muka tanpa dosa.
Mila: "Omes lu. habis nonton bokep lagi lo yah. kagak tobat-tobat juga lu."
Siti: "Tapi iya sih Mil, makin bulet, padet berisi, pulen."
Mila: "............?"
Kami bertiga memang cukup deket, jadi terkadang obrolan kami juga tak terbatas pada topik-topik yang biasa-biasa saja. sesekali obrolan-obrolan yang menyerempet syahwat pun kerap kami gelindingkan di forum terbatas kami. Paling-paling yang jadi korban cuma bisa misuh-misuh.
Gue: "Sit, kakak loe yang pelari marathon itu apa kabar?
Siti: "Baek, toketnya makin gede."
Gue: "Wakakakakakakk.....besok gue maen dah ke rumah loe."
Mila: "Makin gede Sit? pasti gara-gara makin sering......." kata mila tak melanjutkan lagi kata-katanya.
Siti: "Makin sering ditimpuk centong nasi." kata siti lempeng.
Gue: "Centong nasi?" kata gue gak ngerti.
Siti: "Itu petuah 'mak gue, katanya kalau mau toketnya gede di pukul aja pake centong nasi tiga kali."
Gue: "........?"
Malam sudah menggelinding sejak tadi, keluaga besar gue baru aja kelar makan malam dan saat ini tengah bersantai ria sambil ngupil-ngupil ringan di ruang makan. sementar gue tengah berjingkat-jingkat ringan menuju kamar gue dengan centong nasi di tangan kanan gue.
di depan kaca, setelah gue melucuti semua pakaian gue, gue sempet mengamati sejenak dada gue yang rata tak berisi.
"Tepokkkk....tepokkkkk...tepokkkkkk." tiga kali di kanan.
"Tepokkkk...tepokkkkk....tepokkkk." tiga kali dikiri.
gue baru saja melaksanakan tips filosofi centong nasi ala siti temen gue, sembari berharap besok ketika gue bangun dada gue akan seberisi dada Arnold Swazneger.