Sabtu, 28 Maret 2009

Ssssttttt........Dia denger

Pernah ada orang yang bilang ke gue, kalau loe akan ngedapetin energy postif jika berdekatan dengan orang yang punya aura positif, tapi sebaliknya loe akan dapet energy negative kalau loe deket-deket sama orang-orang yang punya aura negative., dan kalau begini pasti buntut-buntutnya “sial” Percaya?

Gue, mau gak mau jadi percaya! Mari kita cari tahu jawabannya.

Tahun 2001 untuk pertama kalinya gue ngerasain yang namanya naik pesawat (inget yah dalam cerita ini yang gue maksud adalah pesawat terbang, bukan pesawat televisi atau pesawat telepon). Pertama-tamanya deg-degaan abis, takut aja pas take off pesawatnya meledug (loe kata kompor minyak tanah!), eniwei temen-temen gue yang udah pernah naik pesawat pernah bilang ke gue begini:

Temen gue: “Tar kalau pesawatnya take off loe ngemut permen aja.”
Gue: “Untuk apa?”
Temen gue: “Biar kuping loe gak sakit”.
Gue: “……”


Maka jadilah pada saat take off gue ngemut *tete* permen sebanyak-banyaknya, tapi temen yang duduk disebelah gue (gue lupa namanya, jadi kita namai dia TemenYangGueLupainNamanya, kalau disingkat TYGLN) kelihatan gelisah banget, bentar-bentar megang kupingnya yang sebenarnya kagak kemana-mana.

Gue: “Loe kenape sih?”
TYGLN: “Kuping gue sakit banget”.
Gue: “Emut neh *tete* permen”.

Sejak sebelum take off, suasana di dalem pesawat yang hampir seluruhnya dipenuhi oleh bocah-bocah berseragam putih hitam yang kalau disandingkan dengan tai cicak, bisa dipastikan akan ada dialog berikut ini:

Cicak 1: “Ya oloh T---i kita kok besar kecil gitu yah?
Cicak 2: “Pasti T---i yang besar itu milik cicak yang lagi kena ambeyen!”.

Oke, udah mulai ngaco, kita balik lagi ke topik awal. Jadi suasana didalem pesawat ketika itu lebih mirip suasanan di peterrnakan cicak sapi, sumpah brisik banget. AnakAnakDenganSeragamPutihHitamYangMiripTa’iCicak lagi sibuk photo-photo. Pramugari yang lagi bagiin lunch box dipaksa untuk ikutan photo-photo dengan gaya super najis. Tiba-tiba pesawat nge-rem mendadak dan ketika gue mencoba mencari tahu melalui kaca tembus pandang disebelah gue, ternyata berentinya pesawat yang tiba-tiba karena macet saudara-saudara (oke bagian ini gue ngibul).

Waktunya lunch sodara-sodara, dengan rakus gue dan yang lain segera meludeskan makanan didepan kita tanpa ampun, sampai bagian ini semuanya masih berjalan lancar, namun ketika TYGLN sudah menghabiskan makan siangnya, TYGLN meletakkan bekas lunch boxnya ditengah jalan sodara-sodara, hingga membuat pramugari yang kebetulan lewat jadi ngamuk tapi dengan cara yang teramat sopan dan santun.

Pramugari: “Sini saya bantu mas, bekas lunch box nya jangan ditaruh ditengah jalan”.

Anjrit gue jadi ikutan malu sama kelakuan TYGLN yang super Ndeso bin Katro (meminjam kata-kata Tukul Raynaldi Rahwana), bung ini pesawat bukan warteg.
Ternyata kebodohan-kebodohan TYGLN masih berlanjut hingga kita sudah berada di dalem Bus full AC yang saat itu tengah meluncur meninggalkan airport dan akan membawa kita ke Desa Wisata, TMII. Saat itu TYGLN duduk persisi dibelakang gue dan tiba-tiba dia nyeletuk lagi…

TYGLN: “Monas kok belum kelihatan yah? Gedung-gedung tingginya juga belum kelihatan”
Dalem hati gue: Yah iyalah dodol, secara kita di tol.

Duh nih anak! Kayaknya bagus kalau direbus dalam tungku air panas dengan suhu 1000o C, setelah mendengar kata-kata super konyol itu, gue pun tertidur karena kecapean setelah menempuh perjalanan yang jauhnya amit-amit. Gue baru terbangun ketika bus yang kita tumpangi baru saja akan memasuki gerbang TMII, dan TYGLN kembali berkomentar:


TYGLN: “Oh, ini yang namanya Monas. Ternyata kecil yah?” (katanya ketika melihat tugu pancasila yang emang mirip Monas yang berdiri gagah didepan Lagen Sosonobudoyo TMII)
Gue: “….”

inilah tugu pancasila yang dia maksud dengan monas itu!!!!

Ya oloh, neh orang apa gorilla? Dodol banget.
Besoknya kita dalam perjalanan menuju tempat latihan dilapangan tenis kemayoran (dari ujung-ke ujung neh trafictnya) dan saat itu gue sebangku dengan IPHE, tapi gue lebih seneng manggil dia PEREK (dia bukan jablay loh!), sebagai teman yang baik hati, maka gue pun mulai berbagi cerita kelakuan aneh TYGLN yang super Ndeso, Katro dan dodol itu, sementara perek hanya bisa ketawa ngakak ampe mukannya jadi item seitem pantat panci nyokap gue. Dan tanpa disangka-sangka….


TYGLN: “Iya saya emang kampungan”.
Gue menoleh ke asal suara yang ternyata tepat dibelakang gue dan mendapati TYGLN sedang duduk disana dengan wajah penuh dendam kesumat. Mampus!!!


Tips:
Janganlah suka ngegossipin orang-orang ndeso n’ katro yang lagi duduk persis dibelakang loe, itu Dosa kawand, mendingan nonton Black In news di trans 7 lebih manfaat.


PS:
Lalu apa “benang merah” cerita super panjang ini dengan topik: aura positif dan negative?
GAK TAHU!!! Kalau gak nemu benang merahnya, ganti aja pake benang hitam. Gitu aja kok repot!!!!

Vincent "Ratu Goyang Ngesot"

Vincent Club 80’s yang guanteng itu (ngelihatnya pas lagi mabok abis minum aer putih satu gallon dalam waktu gak lebih dari lima menit).
Tapi bagaimana mungkin? Kentut aja dia fals gimana mau jadi penyanyi dangdut? Lagian ngebayangin Vincent joget aja udah pengen bolak balik toilet, gimana pula kalau harus ngelihat dia pakai baju ketat penuh payet warna warni, lengkap dengan rumbai-rumbai panjang di pinggul plus goyangan pantat teposnya yang aduhai, dengan gaya ala Ratu Goyang Ngesot, pasti jijay bajaj banget!!! But it’s real! Swear tekewer-kewer!.

Jadi kejadian tolol yang mengatas namakan “profesionalisme” dan tuntutan profesi itu terjadi ketika gue ikutan audisi VJ Hunt di citos. Setelah lolos audisi di casting both, gue juga diharuskaan ikutan sesi audisi diatas stage dan ditonton beratus-ratus orang yang tumplek plek disana. Gue masih inget saat itu yang jadi VJ nya adalah VJ Vincent dan VJ Chaty dan diatas stage itulah peristiwa dodol itu terjadi. Sebagai peserta audisi ceritanya gue sudah menjelma menjadi seorang VJ dan gue ngebawain MTV Salam Dangdut aja gitu saudara-saudara! Dibagian opening gue bilang begini…..

Gue : “Jadi anak nongkrong, sekarang di dunia perdangdutan bayak banget bermunculan penyanyi-penyanyi baru dengan embel-embel ratu goyang. Ada ratu goyang ngebor, ada ratu goyang ngecor, ratu goyang patah-patah (ini penyanyi dangdut habis digebukin warga kampung kali yah? ampe patah2) ada ratu goyang gregaji, ada ratu goyang blender, ratu goyang gurita (oke yang dua terakhir gue ngasal), nah bentar lagi dunia perjogetaan kita tercinta ini, suka tidak suka, mau tidak mau harus mau!!! (dengan nada memaksa) menerima munculnya seorang penyanyi pendatang baru yang dijuluki Ratu Goyang ngesot.”

Vincent: “Oh Tuh penyanyi dangdut sodaraan ama suster ngesot kali ya?”

Gue: “Bukan!!! Itu suster ngesot yang udah pensiun jadi suster dan sekarang alih profesi jadi penyanyi dangdut. Nah dari pada dia susah-susah buat image baru, makanya dia tetep eksis pakai embel-embel *Ngesot* sebagai trend mark nya yang udah paten”.

Vincent: “Praktekin dong goyang ngesotnya.”

Gue: “Eittttttt…nggak bisa gitu dong caranya! Gue siapa?”

Vincent: “VJ”.

Gue: “Loe?”

Vincent: “Artis”.

Gue: “Jadi siapa yang harus ngesot?”

Vincent: “Gue”.

Gue: “Ngesot dah kalau gitu”.

Vincent: “Kok jadi gue yang dikerjain? Siapa yang ikut audisi neh sebenernya?”

Maka berakhirlah adegan ngesot mengesot hari itu, yang diperankan secara apik dan ciamik oleh Vincent club 80’s dengan gemuruh tertawaan dan caci maki penonton, untung aja duit koin, sepatu, sandal, kamera gak ikut melayang nimpukin kita di panggung, sementara VJ chaty hanya berdiri diujung panggung dengan xpresi abstarak. Gue rasa saat itu VJ chaty berfikir…

VJ Chaty: “Gila loe Ncent, mau aja dikerjain ama bocah gak jelas ini.”

Sedangkan gue langsung ngacir pakai jurus kaki tanpa bayangan sembari mendendangkan dalam hati "harusnya gue bisa ngedapetin piala dan seperangkat alat sholat dari ajang Black Inovation Award" karena sudah menemukan inovasi dan terobosan terbaru dalam mempermalukan artis di depan fans, wakakakakakkkkkk.....*ketawa setan habis nelen biji salak tiga kilo*

Kamis, 26 Maret 2009

Wartegsisapi

Dengan langkah gontai, gue seret kaki gue menuju bangunan berwarna pink di seberang jalan, sempet gue lirik jam dipergelangan tangan gue, 16.30. pantes ajah gue kelaperan. udah se-sore ini belum ada sebutir nasipun yang masuk ke lambung gue. Berhasil tidur dari jam 11.00 malem dan sukses bangun jam 15.30 lebih dikit karena suara butiran hujan yang mengantam atap apartemen gue disertai petir yang menggelegar. tunggang langgang ke kamar mandi karena kebelet pipis, gosok gigi dan cuci mata seadanya dengan air keran yang mengucur deras. cukup 5 menit, gue sudah melenggang kangkung ditepi jalan raya ini.

"Wuzzz...
langkah gue terhenti beberapa detik, laju motor hitam besar dengan stiker "Djarum Black motor community" sempat membuat gue tertegun.
tapi rasa lapar yang teramat sangat membuat gue kembali melangkahkan kaki gue menyebrangi jalan menuju Warteg yang berdiri cantik dengan warna pinknya 5 meter dari hadapan gue kini.

Warteg dan Jakarta ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Bukti autentiknya mudah ditemukan dan tersebar hampir diseluruh pelosok-pelosok Jakarta, jadi gue gak perlulah memaparkan hasil survey disini.
Kalau MC’D, KFC, Texas Chiken mengusung slogan Restoran Siap Saji atau kalau disingkat RSS (Mirip sama akronim yang pernah popular diera 90-an yah?! RSS=Rumah Sangat Sederhana, hehehehehe…..). Maka menyesuaikan dengan packecingnya yang rata-rata sama *Alakadarnya dan Cenderung kumuh*, serta menu yang disajikan juga beraneka ragam dengan rasa yang sama karena menggunakan bumbu kiloan yang sama, yang dibeli dari peracik bumbu yang gue namain Bumbuners di pasar-pasar Impress, maka gue memberikan slogan juga untuk warteg-warteg ini yaitu : Warung Tegal Siap Saji Ala Perut Indonesia disingkat WARTEGSISAPI.

WARTEGSISAPI ini bisa dikatakan super heronya para “Tukang”, mulai Tukang Mahasiswa Rantau melarat, Tukang Anak Kos, Tukang Karyawan Mall, Tukang Panggul di tanah abang, Tukang ojek, Tukang sopir bajaj, sampai Tukang Colong Kolor.
Gue yang masuk kategori “TOekang anak Kos Abadi, disingkat TOKAI” yang udah lumutan di Jakarta, juga menjadikan Wartegsisapi sebagai dapur umum yang murah meriah. Mulai Breakfast, Lunch sampai Dinner selalu di Wartegsisapi, 7 hari dalam seminggu, 31 hari dalam sebulan, 3x dalam sehari always nongkrong di Wartegsisapi. Terlebih jika dompet menipis ditanggal-tanggal tua, maka Wartegsisapi inilah yang menjadi SUPERHERO gue yang paling gue cintai.

Disekitar apartement gue, ada beberapa Wartegsisapi yang menjadi langganan gue. Empunya Wartegsisapi sampai hapal muka gue yang hobi ngutang ditanggal tua dan muda (gue = profil pemuda kere’). Biasanya gue akan berpindah dari satu Wartegsisapi ke Wartegsisapi yang lain kalau utang udah numpuk, semua menu sudah pernah dicicipin dan nemuin ketidak beresan dimakanan yang disajikan. Gue pernah tergila-gila sama Wartegsisapi mbak imut (kita sebut aja gitu) selain karena tempatnya yang lumayan bersih, makanannya murah meriah dan ada satu pelayannya yang imut-imut, tapi setelah peristiwa berikut:

Gue : “Mbak, sayur kacangnya kok ada ULATNYA sih?”
Si mbak imut: “Mana mas?”
Gue: “Neh!” kata gue nunjuk ulat putih yang tergeletak diantara potongan-potongan kacang panjang dipiring gue, ulat putih (bukan Ular Putih yah!) itu sudah tidak berdaya dan tidak bernyawa karena sudah ditumis.
Si mbak imut: “Ah, anggap aja VITAMIN tambahan, Mas!”
Gue: “…….”

Vitamin tambahan pala loe onta, HOEKKKK……
Insiden ulat putih ditumis kacang panjang yang gue makan, menjadi latar belakang hengkangnya gue ke Wartegsisapi milik ibu gendut (ibunya Gendut pisan euy….)
“Sayur terong+nasi+ikan kembung goreng+telor bebek asin dan semangkuk soto ayam” (Wuihhh….Porsi tukang gali sumur yang rakus) menjadi menu paporite gue di wartegsisapi Ibu gendut, rasanya Ma’Nyosss…!!!. Tapi sekarang gue udah hengkang lagi. Wartegsisapi Cece sunda kini menjadi pangkalan baru gue. Wartegsisapi Cece Sunda ini buka 24 jam kecuali sabtu dan minggu libur, selain itu kelebihan lain wartegsisapi ini, terletak pada makanannya yang selalu fresh. Gak bakal loe temuin makanan yang udah berhari-hari dan berubah rasa, bentuk dan warna karena keseringan dipanasin di wartengsisapi ini.

Sebenarnya udah Pewe banget di wartegsisapi ini, tapi gue siap-siap cabut lagi ke wartegsisapi berikutnya. Pasalnya pernah suatu hari gue lagi lunch dengan indahnya, tiba-tiba gue menemukan LALAT IJO tergolek tak berdaya di orek tempe yang sedang gue makan plus tikus kecil (baca: CURUT) yang sedang hilir mudik bak model yang lagi peragain celana dalam terbaru di dalam etalase tempat Si Cece memajang makanannya.
Oeeeeekkkkk………Ke Wartegsisapi mana lagi gue harus berlabuh?

Tu………haa…….aaaaaa…..aaaaaa….nnnnnn, tolooooo…..ng lah hambamu….....
Dari sengsara…..sengsara…..kareeee….naaaaa warteggggg…..sisapi……
Jreng….jreng….jrengg…..
Tunjukkan kemana langkah ku ini……
Dalam hidup…dalam cinta…..……

(Music dan lyric by Asep Irama)

Ada TIPS jitu neh buat memudahkan loe semua NGUTANG diwartegsisapi.
1. Kalau lagi makan diwartegsisapi usahakan jangan pakai lauk standart (tahu dan tempe) tapi yang rada mahalan dikit, seperti ayam, ikan, telor ceplok, telor asin, dll. Plus teh manis anget atau es teh manis, jangan air putih doang karena itu akan merusak citra loe sebagai calon Ngutangers.
2. Usahakan makan di wartegsisapi langganan loe dengan menu di atas, 3x sehari, 7 hari dalam seminggu, 31 hari dalam sebulan, 345 hari dalam setahun.
3. Ajak ngobrol pelayannya. Kalau perlu ajak nonton di 21 dan makan malam di restoran bintang lima.
4. Anggap wartegsisapi langganan loe seperti dirumah sendiri, jadi loe bisa nambah nasi gratisan.
5. Jika semua langkah diatas udah loe lakuin, sekarang tinggal Ngutang. Jangan lupa pasang wajah memelas, biar Si Empunya wartegsisapi percaya kalau loe lagi bokek atau kanker = kantong kering.
6. Bayar utang-utang loe diakhir bulan. Kalau belum punya duit, jangan nonggol di wartegsisapi itu dan carilah wartegsisapi lain yang bisa loe utangin.
7. Selamat NGUTANG.

Rabu, 25 Maret 2009

Pengemis dan uang 10Ribu Rupiah

Hari itu tanggal 09 Mei 2008, gue baru aja balik dari Lion Air tower harmoni, untuk ngambil tiket untuk sebuah pekerjaan di Bontang - Kalimantan Timur, horeee… pulang kampung gratis!!!.

Berhubung hari itu hari jum’at yang artinya sebagai lelaki baliqh gue diwajibkan untuk sholat jum’at, maka setibanya di terminal busway di blok m, gue pun menuju Pasar Raya Grande blok- M untuk sholat jum’at dan makan siang setelah itu. Setelah mampir sebentar ke toilet di- foodcourt, atas petunjuk seorang satpam yang gue jumpai didalam lift, gue pun menuju parking area di lantai lima yang hari itu disulap menjadi musolah dadakan.

Dimusolah itu anginnya sepoi-sepoi bener, membuat mata gue bener-bener seperti digantungi gunung ribuan ton, gile gue ngantuk berat, maka jadilah tausiyah sang ustadz yang terdengar sayup-sayup hanya menjadi soundtrack bobok siang gue waktu itu. Hingga satu bagian dari ceramah sang ustadz yang membuat gue terbangun tiba-tiba……

Ustadz: “Ada sebuah keluarga (ayah, ibu dan seorang anak) yang baru saja selesai shopping disebuah mall ternama di Jakarta, dengan kantong-kantong plastik berisi belanjaan hari itu, keluarga kecil itu melenggang santai menuju pintu keluar, tiba-tiba didepan pintu pusat perbelanjaan mewah itu, keluarga kecil itu dihadang oleh dua orang pengemis (terlihat seperti ibu dan anak) dan terjadilah perbincangan singkat berikut ini”.

Pengemis: “Bu, Pak mohon sedekahnya”.
Si Ibu kemudian mengeluarkan dompet dan mengeluarkan selembar uang seribu rupiah yang sudah lusuh dan memberikannya pada kedua pengemis itu. Si pengemis melihat selembar uang seribu rupiah lusuh ditangannya dengan perasaan nelangsa, merasa tidak cukup si pengemis tua kembali memberikan isyarat seperti ingin mengatakan “kami butuh makan, dan seribu rupiah yang ibu berikan tidak cukup untuk membeli makanan”, kira-kira begitu mungkin! Tapi karena terlalu nista untuk mengatakannya sang pengemis tua itu hanya sanggup memberikan bahasa isyarat.

Air mata gue mulai menganak sungai, mengalir dari sudut mata gue dan terus membasahi pipi hingga bermuara diujung celana gue. Gak tahu kenapa gue begitu terharu mendengar tausiyah sang ustadz.

Si Ibu: “sudah itu aja, nggak ada lagi”.
Tapi setelah itu, bersama sang anak dia menyeret langkah kecil mereka menuju ke penjual gorengan yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri tadi, membeli beberapa gorengan dan tanpa perduli dengan luka hati sang pengemis tua, si ibu dan anak asyik mengunyah gorengan yang baru saja mereka beli.

Sementara Si bapak kemudian melangkahkan kakinya menuju mesin ATM, memasukkan kartu ATM dan memencet rangkaian PIN disana dan sejurus terlihat senyum mengembang dari sudut bibirnya demi melihat angka jutaan rupiah, jumlah yang cukup besar yang baru saja ditransfer oleh perusahaan sebagai gaji bulan itu. Si bapak kemudian mengambil beberapa ratus ribu dan kembali ketempatnya semula. Disana dia masih menemukan si pengemis tua bersama anaknya, merasa iba si bapak kemudian mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu dan memberikannya kepada si pengemis tua, yang disambut dengan senyuman bahagia disertai ucapan ribuan terima kasih dengan penuh rasa syukur, juga sebaris doa….

Pengemis tua: “Ya allah, yah..robbi, berikanlah keluarga ini kebahagiaan dunia dan akhirat, lancarkan rezekinya, berikan kesehatan, jadikan keluarga mereka keluarga yang sakinah, mawad’dah, warahmah, permudah segala urusannya dan perlancar pekerjaaannya”.
Setelah melafalkan doa untuk keluarga si bapak, si pengemis tua pun beranjak pergi.

Pengemis tua: “Ayo nak, kita beli makan”.

Si bapak hanya bisa berdiri terpatung dan tak sepatah kata pun yang bisa terucap, hatinya tersentuh oleh kemuliaan hati sang pengemis, yang begitu tulus mendoakan diri dan keluarganya. Dia HANYA memberikan sepuluh ribu untuk tambahan kepada si pengemis tua itu dan beribu ucap terima kasih dan panjatan rasa syukur yang begitu tulus pada ALLAH sang empunya kehidupaan ini, sementara dirinya, jutaan rupiah yang mengalir kedalam rekeningnya tak sekalipun membuat dirinya mau mengucapkan SYUKUR pada NYA. Sehina itukah dirinya? Setetes embun bening mengalir dari sudut matanya yang mulai berkaca-kaca.
Pun yang terjadi dengan gue, air mata gue sudah benar-benar deras. Tausiyah itu benar-benar menusuk lubuk hati gue, bukan hanya si bapak, gue juga selalu lupa mengucapkan syukur atas segala nikmat, anugerah dan kemudahan-kemudahan dalam pekerjaan yang diberikan oleh Allah.

Dalam sujudku ketika itu, tak henti-hentinya ku lafazkan syukur pada allah diiringi derai air mata yang tak kunjung reda menetes dan mengalir. Detik demi detik Saat itu rasanya menjadi KEBAHAGIAAN terindah yang pernah gue dapet.

Setelah selesai sholat jum’at, gue mulai memberanikan diri untuk melangkah mendekati sang
ustadz dan duduk disebelahnya. Awalnya tak sepatah katapun yang terucap ketika gue duduk dan bersalaman dengan sang udstaz, air mata gue semakin deras tumpah dari pelupuk mata gue.

Ustadz: “Mas Fais, kamu ada masalah?”
Gue diem, diem dalam bisu dan tangis, setelah bisa menguasai perasaan gue, barulah gue berucap.

Gue: “Gak ustadz. Saya hanya mau terima kasih sama ustadz, karena sudah membuka mata hati saya, rasanya selama ini saya tidak pernah bersyukur atas segala nikmat yang telah saya peroleh.” Kata gue mulai bercerita, dengan terbata-bata dengan isak tangis dan berurai air mata.

Ustadz: “Alhamdullilah, itu hadiah dari allah”.
Begitulah siang itu, berakhir dengan sebuah HADIAH DARI ALLAH untuk gue, melalui kisah PENGEMIS DAN 10 RIBU RUPIAH.

Metromini 611 melaju dengan gaharnya, membelah jalan dengan latar belakang perokoan usang kawasan Blok m. Dengan deru mesin yang hampir benggek termakan usia, rongsokan ini tetap lincah saling selip dan menyemprotkan asap hitamnya tanpa ampun. Sementara aku di dalamnya duduk dengan air wajah datar sambil sesekali melirik nakal ke arah kotak kecil Djarum Black dalam genggaman tangan gue, bisikan setan saling berloma memperdayai otak setengah sadar gue untuk mengisap satu batang saja.

PS: Terimakasih untuk Ustadz Bobby yang sudah memberikan tausiyah dengan penuturan sangat sederhana namun mampu membuatku mengharu biru.