Sabtu, 14 Februari 2009

Surat Cinta Merah Jambu

Lama kuterperangkap dalam kerangkeng kesendirian
bersemi kemudian merekah lalu kembali berguguran dalam kesunyian.
sudah berkerak rasanya asaku
inginku dicintai dan disayangi seseorang yang bisa buatku gemilang manakala surya menyapa menguapkan embun kesendirianku.

berkali kurajut benang-benang asmaraku yang putus merapuh
kusirami bibit cintaku dengan tetes-tetes air mataku agar dia mengakar dan tumbuh sekuat magrove
kusatukan puzzel hatiku yang telah hancur berkeping selembut debu, agar utuh ketika kupersembahkan pada dia

lalu pernah kucoba semai bibit cintaku pada seseorang yang semu
namum pun berakhir layu sebelum pucuk tunasnya tumbuh, lalu menghilang bersama ketidakmampuanku merengkuhnya.

sepatahkata
"cinta itu indah
namun tidak semua keindahan berarti cinta"
menghempaskanku ke dasar sadarku bahwa cinta sesungghunya adalah nyanyian hati
yang terkadang terdengar indah, namun bisa membuat terluka hingga menagis penuh lara.

pada siapa surat cinta merah Jambu ini kan kupersembahkan?

Kamis, 29 Januari 2009

Nonggol bentar di Tipi.

Senin, 26 Januari 2009.
intip juga yang ini www.lemari-baju.blogspot.com

Kotak-kotak bungkus rokok Djarum Black masih berserakkan dilantai, abunya juga masih berceceran tertiup dari piring yang berubah fungsi menjadi asbak, sedangkan gue sedang tidur-tidur ayam di sofa empuk warna cokelat tua di rumah seorang sahabat gue. iler yang mengalir dengan syahdunya membasahi dan membentuk pulau abstrak di bantal kursi yang tentu saja bukan terbuat dari bulu angsa, melainkan bantal berisi busa yang gak empuk sama sekali. Tiba-tiba handphone butut gue berdering dengan najisnya, menyadarkan gue dari mimpi jorok gue.

Dari nomor tak gue kenal, tapi untuk menghargai orang yang telah dengan tidak tahu diri membangunkan gue dari tidur gue yang setengah sadar, gue jawab pula panggilan itu dengan gak nafsu sama sekali dan sesekali menggerutu sambil teriak-teriak. Persaingan industri telekomunikasi di Republik ini ternyata berdampak sinyal yang timbul tenggelam karena harga yang terlampau murah, dan mengorbankan kwalitas. walah jadi merancau...oke, back 2 topik!!! dan penelpon misterius itu ternyata Neni K****L, temen seperjuangan gue ketika dulu kita masih menjadi Bencong Casting.

neni: Masih sering nge MC ama presenter gak?
gue : Kalau Nge MC nya sekali-kali masih. tapi kalau presenternya dah nggak (alasannya cuma satu, gue gak punya muka bule dan gak ganteng sama sekali, jadi gak ada yang mau make gue sebagai presenter di TV).
neni: Besok ada casting di SCTV. ikutan yah. awas kalau nggak, gue mutilasi loe. KLIK!!!! pembicaraan terputus dengan sadisnya.
gue: ....????


Selasa, 27 Januari 2009, pukul 15.00 WIB.


Lantai 21 SCTV tower dinginnya nampol abis sore ini, membuat gue gemeteran najis. sementara sang sutradara tengah asyik mahsyuk nge-Bref kita semua yang bakal ikutan casting sore ini. nggak pake acara acting nangis dan teriak-teriak ala sinetron kacangan rupanya casting kali ini. dan setelah berhasil mendaparkan referensi karakter yang harus kita perankan, it's time 4 me...

Casting 1st session.

gue: "Dulu Negara kita pernah menjadi MACAN ASIA, dimana kebutuhan beras terpenuhi, kehidupan petani makmur sentosa. Negara ini pernah Gemah Ripah LOH Jinawi. Tapi itu dulu, dulu sekali. Dan sekarang Negara ini butuh sosok pemimpin yang bisa mengembalikan kejayaan Bangsa ini di masa lalu, hingga kebutuhan akan pangan bisa terpenuhi, petani bisa kembali hidup makmur, anak-anak usia sekolah bisa kembali kebangku sekolah dan mendapatkan pendidikan dengan layak. Saya Faizz dari partai GILINGAN PADI.

Casting 2nd session.

gue: Kembali dalam debat kandidat, bersama saya faizz. saat ini dunia tengah tercenggang oleh satu peristiwa terdasyat, peristiwa kemanusiaan yang terjadi di Palestina. dimana ribuan orang telah menjadi korban, tak terhitung lagi kerugian materil dan imateril yang diakibatkan oleh penyerangan biadab oleh tentara israel. Dan saat ini saya telah bersama dua tokoh besar di negeri ini, yang akan berbincang mengenai situasi ini dan peran serta kita warga Indonesia untuk bencana kemanusiaan di palestina.......

CUT!!!!!

Sudah hampir jam 9 malam ketika hp butut gue kembali berdering najis, memecah kedahsyatan suara gegap gempita musik house ala triping jaman megantropus erectus di warnet butut ini.

Neni: Hari kamis loe shooting yah di SCTV. tar jam, wardrobe dan lokasinya gue sms in. KLIK!!!!
gue: walah........*takjub bercampur haru, terimakasih buat kedua orang tua gue atas suportnya selama ini, terimakasih buat pacar-pacar yang sudah mencapakkan gue, terimakasih buat ibu kos gue yang bahenol dan ngebolehin gue telat terus bayar kos, terimakasih buat pemilik warteg di jakarta selatan yang bolehin gue ngutang* -T.A.K.J.U.B-

Kamis, 29 Januari 2009

shooting cuy, bentar lagi masuk tipi, caelahhh...!!!!!! studio yang top marco top, crew yang ramah dan jutek, tukang make up yang bahenol, figuran-figuran latah yang joroknya masya alloh, membuat suasana shooting yang dimulai jam 10 pagi dan baru kelar menjelang magrib, membuat semuanya jadi fun dan menyenangkan.

Jum'at. 30 Januari 2009

pagi-pagi buta, hape gue berdering najis lagi. kali ini hanya sms rupanya.

rena ( di Bontang, Kalimantan Timur) : gue nonton SCTV tadi pagi, kok ada loe di iklan promonya SCTV????? tapi good..good!!!!

sisiel (di Jakarta Selatan) : gue lihat iklan promo sctv tadi pagi, ada loe. najis loe ah!!!!! any way tajir dong loe. traktir dong.

WADUH!!!!!!!!!!!!!! honornya dah buat bayar utang tahu!!!!!!

fyi:
Iklannya tayang sebelum atau sesudah liputan 6 pagi, siang, petang, ama malam. lihat yah. dan siap-siap nangis darah, muntah kuning, dan diare selama sebulan menyesali tampang bloon gue yang nonggol disana. wakakakakakakakakaka

Rabu, 21 Januari 2009

Sunshine


Gue melihat photo wajahnya disebuah situs pertemanan. Saat itu tak ada rincian mengenai dirinya di situs pertemanan itu, hanya beberapa gambar dirinya dengan berbagai pose yang menyejukkan mata, yang pada akhirnya berbuah pujian kecil ketika chatting dengannya.

Gue : You are looking good.
Dia : Ah, kamu bisa aja.

Perbincangan yang teramat singkat memang, tak ada kesan sama sekali. Dan waktu terus bergulir, datangnya gak pernah terlalu cepat walau sedetikpun, dan ketika pergi pun tak pernah terlambat walau hitungan kedipan mata, matahari terbit dari timur dan hilang meninggalkan semburat lembayungnya di garis barat tak bertepi. pergantian masa yang constant. Seperti itupula nama itu terlupakan seiring waktu yang tak pernah bosan bergulir. Bukan karena tak punya arti kehadirannya, hingga tergerus oleh waktu. Namun perkenalan pertama tidak menimbulkan kesan apa-apa untuk mengingatnya.

Namun siapa boleh menolak, gue pun tak kuasa menampik hadirnya kembali. Dan kehadirannya pada moment yang tepat, ketika gue terjungkal entah kali keberapa, saat ketika luka hati gue menganga lebar. Dia hadir dengan segala keramahan, kebijakan petuah, full supporting. Kehadirannya sehangat sinar keperakkan matahari dipagi hari. SunShine, gue memanggilnya begitu.

Kehangatannya terus menyelubungi gue, pandangannya tentang beberapa hal memaksa gue berfikir realistis. Sunshine, tempat gue mengeluh. Tentang pekerjaan gue, tentang masalah remeh temeh. Dan gue tahu dia bosan, bosan dengan setiap celoteh gue yang tidak berkesudahan, tapi dia tetap ngedengerin gue, sesekali berkomentar dan sedikit berdebat. Dia serta merta menjadi tempat gue membagi banyak hal, walau terkadang dia tetap mencoba menjadi orang yang tidak mudah ditebak, menjadikan dirinya semacam labirin, but it dosen’t matter.

Kemudian gue pun mencoba menjadi pendengar yang baik. Gue ingin mendengar banyak cerita, banyak kisah dari diri dia yang masih tersembunyi di setiap blok labirin yang dia ciptakan. Ada semacam kemenangan tersediri ketika bisa membuat dia bercerita satu judul kehidupannya disetiap episode perbincangan kami. Bayangan semu sosoknya mulai tergambar di imagie gue dan perlahan tapi pasti molekul-molekul itu terbentuk menjadi partikel-partikel cinta dalam kerak hati gue. Sekuat tenaga gue paksa hati gue untuk tidak jatuh cinta, berkali-kali gue beri warning diri gue tentang siapa dia siapa gue, terlalu banyak hal yang membuat gue tidak mungkin bisa membuat dirinya bersama gue. Pada masa tertentu gue bagai pungguk rindukan bulan. Bagaikan udang diatas bakwan, namun apa daya, urusan cinta sama dengan urusan hati dan perasaan. Pertahanan gue pun tumbang, ambrol serata tanah.

Gue jatuh cinta pada orang yang wujud aslinya pun belum lagi gue lihat, yang hangat genggam tangannya belum lagi gue rasa, yang tatap matanya belum lagi gue telusuri, yang hangat peluknya belum lagi gue rasakan. Sekuat tenaga gue coba untuk bertahan, karena gue tahu ini juga akan berakhir dengan tragis. Tapi gue tetap jatuh cinta pada seseorang yang sesungguhnya semu.

Gue mencoba mencari posisi gue, posisi yang bisa membuat gue nyaman dan posisi yang membuat dia nyaman. Tema-tema seputar cinta, perasaan, dan sex bukan prioritas utama walau terkadang gue kerap kali nakal menyerempetnya ketika kami berbincang-bincang.

Hingga pada satu waktu……

Sunshine: aku bt, kenapa sih orang-orang dekat sama aku karena fisik aku (bukannya sombong loh!)
Gue: termasuk aku?
Sunshine: iya.
Gue: picik banget kalau kamu nilai aku seperti itu, jangan kamu pukul rata semua orang yang coba deket sama kamu karena hanya faktor fisik kamu.
Sunshine: tapi memang iya kan?
Gue:….???

Sejenak gue diam dalam bisu, menelusuri kata hati gue, mencoba menelisik kembali apakah gue coba mendekati dia karena fisiknya yang nyaris sempurna? Entahlah, gue aja bahkan belum pernah melihat sosok nyatanya, bagaimana gue bisa menyimpulkan gue deket dengan dia karena factor fisiknya. Bisa saja photo itu gambar orang lain yang dia pasang disitus pertemanan itu, sebagai bentuk campuflasenya karena dia jatuh pe-de dengan kondisi diri dia yang sebenarnya. Bisa saja!!! Namun gue tampik spekulasi itu jauh-jauh dari pikiran gue.

Sunshine: kok diem?
Gue: aku gak akan buat penyangkalan apa-apa, karena percuma. Aku mau berkoar-koar sambil jungkir balik pun, penilaian kamu ke aku tetap sama kan? Tetap, aku deket ke kamu karena fisik kamu. Dan bukan salah kami sepenuhnya juga kalau terus akhirnya kamu buat kesimpulan seperti itu, karena hal pertama yang dilihat orang memang performa kamu, bukan hati kamu, karena hati kamu gak nemplok dimuka kamu.

Silahkan buat kesimpulan sendiri, karena aku yakin kamu punya hati yang luas, untuk ngebedain siapa yang deket sama kamu karena tampang kamu, dan siapa yang deket sama kamu karena benar-benar tulus ingin deket sama kamu. Karena percuma punya fisik yang sempurna kalau kamu nggak punya hati.

Setelah per-Chattingan yang menguras emosi jiwa itu, gue bagai menemukan satu sisi gelap dalam diri Sunshine yang Selama ini tidak terpikirkan oleh gue. Arghhhhhhhhhhhhhh…….jadi pengen ngelamun jorok kalau kayak gini!!!!


Rasa rasanya aku telah keliru
memilih kamu sebagai kekasihku
cintamu palsu sayangmu semu
bermain dan permainkan aku

*seperti ular seperti ular
yang sangat berbisa, sangat berbisa
suka memangsa, suka memangsa
diriku tergigit cinta

reff
aku tertipu
aku terjebak muslihatmu
aku tertipu
aku terjebak muslihatmu

bisa bisa nya aku terkena
bisa bisa aku terlena
rupa-rupa nya kau berbahaya
rupa rupanya kau sama

back 2 *

(Ular berbisa, by hello band)

Labirin yang diciptakan Sunshine semakin rumit, semakin ruwet, semakin tak terjangkau olehku, semakin tak terpecahkaan olehku. Sosoknya yang semu semakin semu saja kini, bahkan nyaris hanya sebentuk fatamorgana. Asaku pupus sudah, menguap bersama dirinya yang membentuk fatamorgana lembayungnya dibatas cakrawala, disebuah tempat antah berantah yang tak mungkin gue jangkau. Pada akhirnya gue pun kembali terjungkal. Gue mengidap penyakit aneh nomor 100 kali ini, Pecundang Cinta. asap rokok Djarum Black slimz memenuhi rongga paru2 gue bersama rasa sesak akibat luka cinta. kuhembuskan pelan sisa asapnya ditemani lagu dewa yang menjadi soundtrack gue hari ini.


Aku tak mengerti, apa yang kurasa
rindu yang tak pernah begitu hebatnya
aku mencintaimu lebih dari yang kau tau
meski kau takkan pernah tau

aku persembahkan hidupku untukmu
telah ku relakan, hatiku padamu
namun kau masih bisu, diam seribu bahasa
dan hati kecilku bicara

Reff :
baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan
kau buat remuk sluruh hatiku

semoga aku akan memahami sisi hatimu yang beku
semoga akan datang keajaiban hingga kaupun mau

aku mencintaimu lebih dari yang kau tau
meski kau takkan pernah tau

(Pupus, by dewa 19)



Rabu, 14 Januari 2009

Radang tenggorokan = Meriang disco!!!!!

Arghhhhhhhhhhhh..........cuaca yang gak jelas belakangan ini benar-benar buat gue emosi jiwa. bentar-bentar panas, sedetik kemudian ujan deres, gak lama kemudian panas lagi. Dan ini berakibat sama kondisi badan gue yang tidak bersahabat minggu ini, ditambah dengan pola makan yang emang sejak jaman jahiliyah gak pernah bener, makan dimana ajah, termasuk warung remang-remang (mau makan atau mau ngapain neh? dasar mesum!!!), pola tidur yang gak jelas (mirip kalong) secara gue insomnia akut, plus aksi gila gue untuk mencari si pemilik tatapan maha dahsyat itu di Plaza semanggi yang membuat gue jadi pengen banget ngisep tembakau lagi, entah berapa batang Djarum Black Slimz yang hangus meninggalkan puntungnya yang tergolek tak berdaya di dasar asbak olehku malam minggu kemarin dan alhasil sudah dari hari minggu malam gue terserang RADANG TENGGOROKAN, yang berimbas pada suhu badan gue yang mendadak naik menjadi 38.5 derajat celcius. suhu badan boleh ajah kaya suhu oven, tapi gue berasa kedinginan banget (baca= Meriang disco).

Ini pula yang ngebuat gue jadi mendekam tak bergairah sejak selasa di kamar gue yang kotornya dah ngalahin kandang kuda. Semua kerjaan berantakkan, jadwal ketemuan sama client semua tertunda yang berakibat gue terancam jatuh semakin miskin bulan ini.

Dan kalau lagi nggak enak body begini, mood gue jelek banget, feel lonely. seperti semalem, meriang disco gue kumat lagi, cardigan dilapisin sweeter rajut plus pakai sarung 3 lapis di tambah sehelai seprai, gak juga bisa meredam kedinginan gue. suhu badan gue hampir 39 derajat celcius, tapi gue berasa kedinginan, dingin sedingin dinginnya, berasa di cemplungin dalam lautan es sejuta kubik, tapi gue keringetan, belum lagi perut gue perih banget. maag gue ikut-ikutan kumat. dan malam itu sudah pukul 01.00 dini hari. artinya temen-temen apartement gue dah terbuai di alam mimpi masing-masing, saling berlomba membuat pulau baru diatas bantal empuk bulu angsa dengan tetesan air liur mereka (baca=Ngiler). Salah gue adalah nggak pernah punya stock obat di kamar gue, penyakit nomor 10 neh, gak nyadar diri kalau penyakitan.

Gue menyempatkan diri sms ke temen gue yang kalong juga, kali ajah belum tidur jam segini,
gue: dok, dah tidur belum? gue demam lagi nih, boleh tolong cariin paracetamol ke apotik?

U know what, sampai pagi pun, sms gue gak dibales. sedih banget rasanya. Disaat-saat seperti ini, gue jadi mikir enak banget kalau di rumah, ada nyokap yang bisa ngurusin, ada nyokap yang perhatiin, ada nyokap yang akan terus maksa untuk minum obat dan ke dokter. tanpa sadar gue nangis, bulir-bulir airmata gue berdesakkan di sudut mata gue, dan akhirnya jatuh, mengalir dan bermuara dibantal gue yang bau apek. Sepanjang malan gue cuma Istigfar sama allah, karena cuma Dia yang bisa temenin gue malam ini, ikut ngerasain kedinginan gue, dan ngasih gue kehangatan. cuma Dia satu-satunya yang gak pernah ninggalin gue, walau gue sering banget ninggalin Dia, cuma Dia teman yang berteman sama gue bukan karena apa yang gue punya, karena Dia jauh lebih memiliki. gue gak tahu pasti jam berapa gue benar-benar terlelap malam tadi.

FYI: postingan gue tentang pencariian gue dengan si pemilik mata itu akan gue lanjutkan setelah gue fit lagi.