Tampilkan postingan dengan label KUAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KUAT. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Februari 2018

Karena Kepepet.


Senja ini setengah badan matahari sudah tertelan tepi kaki langit, meninggalkan bias jelaga kuning kemerah-merahan disana. Penghujung hari yg romantis. Gue terdiam lesu didepan meja mesin jahit, mentafakuri benang kusut dipermukaan kain perca. Setelah dua tahun membelinya dan selama ini dioperasikan oleh penjahit,  Inilah kali pertama gue benar-benar mengoperasikan mesin ini. Kusut masai.

"Lah ngopo mas? Njahit dewe sekarang?" 
Tetiba pria ompong itu muncul didepan pintu rumah kontrakan dengan pertanyaan yg membuat gue mengumpat kesal. 

"Huwanjirrrrrr......bikin Kaget loe ah! Boro-boro ngejahit, ini juga baru mau belajar mas, benangnya kusut semua, menggumpal di skoci ama kain." kata gue sembari melemparkan skoci benang kepermukaan meja mesin jahit.

"Ah, iki mau sampai lebaran gajah juga gak bakal bisa mas. Lah wong ini jalur benangnya salah kabeh eh. Kewolak walek sampeyan masangnya." sahutnya menjelaskan lalu mengambil alih tempat duduk gue dan mulai mengajari cara memasang benang sesuai urutan yang benar.

"Tukang pada kemana emang mas?" tanya dia lagi setelah berhasil membuat gw membuat jalur jahit diatas kain perca. Masih berkelok-kelok seperti sungai di pulau Kalimantan sana. "Latihan aja terus mas, tar juga bisa jahit lurus." katanya lagi, seolah mengerti kekesalan gue yg blm berhasil menjahit secara lurus. Ini masih latihan dasar, menjahit diatas kain perca.

"Tukang gue keluar semua mas. Yang satu karena mau kawin, yang satu dah beberapa minggu lalu keluar. Dia tahu Bos nya sudah diujung tanduk, Bangkrut. Makanya dia pamit berhenti kerja, takut gue gak bisa bayar gajihan dia tiap sabtu sore yang berjuta juta itu barangkali." Wajah gue pasti menggambarkan betapa kecewa dan marahnya gue saat menjelaskan alasan itu.
"Ealaaaaah, ngono toh. Hemmm, nganu mas, iku loh sisa pembayaran mesin obras sampeyan piye? Akhirnya kalimat pamungkas yang sudah gue perkirakan sejak kemunculannya yang tiba-tiba di depan pintu rumah kontrakan gue terucap sudah.
"Sabar ya mas, aku rak ndue duit blas. Nanti kalau sudah ada uang tak bayar yo." jawab gue sambil terus berusaha membuat jalur benang di atas kain perca yg sedang gue jahit tetap lurus. "dua minggu lagi gue mau ikut pameran di Citos tapi gak ada yang jahit, gak punya duit juga buat lempar ke penjahit lain, makanya ini jadi belajar menjahit biar bisa tetap kerja." gue mencoba menjelaskan kondisi pelik yang sedang gw hadapi sambil mata dan konsentrasi gue tetap tertuju pada kain perca yang sedang gue jahit, pandangan gue hanya sekilas beralih ke pria jawa penjual mesin jahit yang saat ini sedang duduk di bangku besi merah di hadapan gue lalu menenggokan kepala gue ke kanan, tempat dimana setumpuk kain tergeletak dilantai rumah.
                         
                                      ***

Crop top  itu selesai gue jahit. Gue mengkombinasikan dua kain sekaligus. Bagian badan  menggunakan bahan kaos yang cukup tebal dengan warna hitam sebagai dasarnya dan pettern bunga mawar biru yang menjadi detail printnya. Lalu bahan kaos warna broken white yang seluruh permukaannya terdapat embos serupa percikan air di kaca jendela sebagai bahan untuk lengannya. Diujung baju gue sematkan renda putih tulang, sebagai detail.  Inilah karya pertama gue. Mungkin ini perwujudan design gue yang keseribu sekian, sekaligus menjadi karya pertama gue sebagai penjahitnya.

Tidak mudah, gue membutuhkan 12 jam untuk menyelesaikannya, menjahit sembari belajar tutorial menyatukan berbagai pola bagian baju dari Google. Semalam suntuk gue memaksakan diri menyelesaikan baju ini, dan sekarang sudah pukul 7 pagi. gue butuh tidur sejenak.

                                        ***

To Be Continue