Sabtu, 13 Juli 2013

Cukup 24 Jam

Sering melakukan perjalanan atau liburan ke satu tempat tanpa Itinerary?
Jangan tanyakan persoalan itu gw, karena salah satu dari sekian banyak stupid things yg sdh mendarah daging dalam diri gw. Hasilnya begitu sampai di lokasi liburan, gue lebih suka mati gaya, dan budget pasti membengkak.

Well, ketika sedang chat dengan seseorang yg gw kenal dari social media, tercetuslah ide jalan-jalan singkat ke puncak. Ini mungkin bukan kali pertama gw menjejakkan kaki dikawasan perkebunan teh ini, tapi ini adalah kali pertama gue menyusun perjalanan ini mulai transport yg bisa membawa km ke puncak, penginapan, lokasi liburan, hingga kuliner yg bisa kami jajal. Mengingat gw sendiri tak punya kendaraan, begitu pula dengan partner jalan-jalan gw. Dan ditambah dia yg akan saya culik menemani perjalanan kali ini pun masih harus ngantor di hari sabtu, so perjalanan yang gw plan start jam 5 sore molor hingga pukul 7 malam. Dannnnnnnnn, kami terpaksa gigit jari karena ditinggal travel yg sudah gw reservasi sebelumnya.

Tapi jangan sedih kawan, kata pujangga ada 1000 jalan menuju Roma! Pun begitu, ada banyak cara untuk memijakkan kaki di kawasan Puncak. Lets go kita ke Lebak Bulus dan duduk manis di jok kursi bus Agra Mas menuju Bogor.

Malam sudah semakin berjalan jauh ketika bus merah menyala yg kami tumpangi merapat di terminal Baranangsiang. Hasil tanya-tanya singkat dengan dua orang Pak Polisi yang sedang berdiri santai di depan terminal, gw mendapatkan informasi jalur angkot yang bisa membawa kami sampai ke Arwana Resort yg sdh terlebih dahulu gw reservasi. Tapi apa daya karena sudah terlalu larut, ditambah badan yang semakin letih mendekati lemas, maka pilihannya adalah naik taxi menuju puncak dengan tarif yang bikin keki. Beruntung malam minggu ini tak macet sama sekali, sehingga tanduk di kepala gak jadi keluar, sekitar satu jam taxi sewaan kami memperkosa aspal yang berkelok-kelok hingga terparkir di depan resort sederhana ini.

12 jam berlalu...........

T-shirt merah andalan, lengkap dengan sneaker warna senada plus kaca mata hitam untuk mendongkrak presentase ke gantengan gw sudah membingkai wajah gue. Waktunya ubek-ubek puncak dan sekitarnya.

Puncak pass memang selalu menjadi salah satu destinasi yang tidak boleh dilewatkan. Duduk berhimpitan dengan gerombolan ibu-ibu yang akan pergi pengajian pun tak menjadi soal, demi bisa memenuhi hasrat menikmati kuliner di sana dengan menu -jagung bakar, roti bakar cokelat, kelapa muda, moci kacang ijo, cilok, sambil memandangi salah satu karya goresan tangan Tuhan yang memanjakan mata. Lengkungan perbukitan hijau bertakhta pohon-pohon teh, dengan background langit biru berhiaskan orang-orang yang tengah memperkosa angin dengan paralayangnya.

Matahari sedikit bergeser dari puncak hari ketika gue dan kawan perjalanan ini menyudahi santap siang di dalam gubuk nyaris reot ini. Di atas jalan berkelok kendaraan umum juga kendaraan pribadi berjibaku laksana ular raksasa di atas aspal hitam, lalu sang pengemudi setengah baya yang kendaraannya kami tumpangi tancap gas memutus badan ular raksasa ini, berbelok kenan lalu menggerus jalan sempit penuh batu yang saling tumpang tindih. Pengemudi kami mencari jalannya sendiri demi menyudahi kemacetan gila ini hingga bisa segera tiba di depan pintu masuk kawasan wisata agro Gunung Mas.

Peluh yang bermunculan dari lubang pori2 disekujur tubuh menemani kami berdua menjejalkan kaki di jalan tak seberapa luas yang terhimpit pegunungan menuju area perkebunan teh termahsyur ini. Gw seolah memasuki dunia lukisan yang ciamik, dan sangat bernafsu untuk menjamahi setiap sudutnya bersama kuda putih berponi merah jambu yang kemudian gue tunggangi.

Sebagai lelaki yang tingkat ke narsis-annya sudah diambang mengkhawatirkan, tidak lengkap rasanya jika tidak melakukan sesi pose-pose ganteng diantara rimbunnya pepohonan teh, lalu menyusuri jalan-jalan setapak yang akhirnya membawa gw ke ketinggian tertentu dan dengan leluasa menjamahi keindahan lukisan alam ini. Mannnnnnn, this is heaven in the world!

Pukul 4 sore, matahari mulai tergelincir, waktunya turun gunung. Angkot yg hilir mudik di kawasan ini tentunya sangat membantu wisatawan lokal macam gw dan partner untuk bisa mengunjungi tujuan berikutnya. Dan destinasi berikutnya yang tak boleh dilewatkan adalah Romantic dinner at Cimory. Persis adzan berkumandang disertai rinai hujan yang mulai tumpah satu-satu dr langit, kami berdua tiba di restoran yang sudah penuh dengan pengunjung. Untuk santapan malam ini menu pilihannya jatuh pada: Nasi bistik sati lada hitam, Asem-asem daging, Mantao kukus, teh manis hangat, leci ice tea, yang rasanya akan menaikkan timbangan badan.

Well, after all of the quickly trip in Puncak, Bogor East java. Its time to go back to jakarta with the shit traffic.

And im doneeeeeee with my 24 hours trip to puncak.








































5 komentar:

Muhammad A Vip mengatakan...

bener bener narsisnya sudah butuh pengobatan serius haha

PRofijo mengatakan...

Beneran deh, gila lo tambah parah! huakakakakaka :))))

fei mengatakan...

@Vip: ga ada yg sanggup ngobatin mas bro

@Prof: banget kaka

attayaya mengatakan...

weeeh tuh poto keren abis
lompatan mauuut

Mila Said mengatakan...

masaoloooohh itu kuda siapa lo aniaya gitu? kesian kyknya keberatan bwahahaha...

Feeeiiii... kangeeeeennnn....